Perkataan dan Pemikiran (yang Sempit)

​Kata-kata selalu punya dua sisi,sisi negatif dan sisi positif, bergantung yang mendengar memaknainya. Jika kata-kata dianggap sebagai tantangan atau pemacu untuk menjadi lebih baik berarti kata-kata tersebut dipandang sebagai sisi yang positif. Akan tetapi, jika kata-kata tersebut dianggap sebagai celaan atau hinaan berarti itu dipandang dari sisi negatif.
Kebanyakan (dari kita) memandang kata-kata yang menunjukkan kelemahan diartikan sebagai hinaan. Orang yang mendengarnya pun akan tersinggung dan langsung mengomentari perkataan kita. Jika berlarut-larut dan tidak ada yang mau mengalah, terjadilah pertengkaran.
Sebenarnya, jika ingin menyampaikan kelemahan seseorang tentunya haruslah disertai dengan solusi, itulah pengertian kritik sebenarnya. Kemudian, si yang dikritik juga harus bisa melihat perkataan tersebut dari sisi yang lebih luas. Bukan hanya melihat dari sisi yang negatif. Pasti  jika kita memandang kata-kata (yang menunjukkan kelemahan) tersebut dari sisi positif, 
reaksinya akan berbeda tentunya.
Semalam, ada kejadian yang menempatkan saya sebagai orang yang memberikan hinaan, terlebih memberi hinaan terhadap pekerjaan orang tersebut. Namun, saya tidak pernah berpikir dan tidak berhak menghina pekerjaan orang lain. Mungkin, perkataan saya dilihat dari sisi negatif. Alhasil, saya dipandang meremehkan dan menghina. Saya pun tidak membenarkan diri saya karena saya memberikan kritik tidak disertai dengan solusi. Akan tetapi, saya hanya ingin kata-kata saya dipandang dari sisi positif. Sama halnya, saya memandang kata-kata orang lain. Namun, tentunya saya tidak bisa menyamakan cara pandang saya dengan orang lain.

Dunia terlalu luas untuk pemikiran sempit kita, guys.

Iklan

Menjadi Lebih Berani

Kata tidak adalah salah satu bentuk perlawanan. Ketika mengatakan kata tidak berarti kita menolak, tidak setuju, atau melawan pernyataan sebelumnya. Sekali-kali kita butuh untuk menolak, tidak setuju, bahkan menolak. Hal itulah yang coba saya lakukan. Mencoba menolak tawaran anak kecil yang menawarkan tisunya ketika saya akan pulang dari daerah Bumi Tamalanrea Permai (BTP). Sebenarnya saya ingin membelinya karena kasian dan tisu di kost juga sudah hampir habis. Akan tetapi, saya menyadari bahwa persediaan uang saya sudah menipis. Jika saya membeli tisu itu dan menghabiskan uang mingguan saya, apa yang harus saya lakukan untuk beberapa hari ke depan? Akhirnya, saya pun menolak membeli tisu tersebut. Saya teringat kalimat dalam drama The Legend of The Blue Sea yang dikatakan oleh Heo Joon Jae, kurang lebih dia bilang begini, “Khawatirkan dirimu sendiri sebelum mengkhawatirkan orang lain.” Dan saya sepakat.

Menunjukkan kelemahan seseorang bukanlah perkara yang mudah. Butuh keberanian untuk melakukannya. Hari ini tiba-tiba saja saya merasa berkewajiban untuk menunjukkan kesalahan tajwid oleh teman yang menjadi imam pada waktu salat Maghrib. Ada kesalahan pada saat dia membaca an’amta. Dia membacanya dengan berdengung. Padahal, hukum tajwid pada kata tersebut adalah idzhar (jelas dan terang) yang berarti tidak didengungkan. Itulah yang saya ketahui dan saya menyampaikannya kepadanya. Tentunya tidak di depan banyak orang karena saya masih ingat perkataan Imam Ibnu Hibban yang mengatakan bahwa menasihati jika dilakukan secara rahasia berarti memperbaiki dan kemungkinan diterima nasihat tersebut lebih besar. Hasilnya, teman saya berterima kasih atas apa yang saya beritahukan padanya. Dan saya senang.

Satu hari mungkin tidak cukup dengan dua keberanian saja. Butuh lebih banyak tindakan berani lainnya di hari-hari selanjutnya.

Jangan Lupa Bahagia dan Jangan Lupa Lebih Berani.

Mengenal dan Mengenang Prof. A. Amiruddin

Di Tulisan sebelumnya, saya telah menyinggung nama Prof. A. Amiruddin. Salah satu mantan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) yang memiliki sikap to’do’puli. Beliau menjabat sebagai rektor keenam pada tahun 1973 s.d. 1982 dan juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan ke-4. Tentunya beliau bukan orang biasa. Selain pernah menjadi orang nomor satu di Unhas, beliau juga pernah menjadi orang nomor satu di Sulawesi Selatan. Selain itu, masih banyak pencapaian-pencapaian beliau yang belum saya sebutkan.

Orang sehebat Prof. A. Amiruddin punya sisi yang menarik. Sisi menarik tersebut diceritakan oleh seorang dosen pada saat memberikan mata kuliah. Cerita (berdasarkan pengalaman) itu disampaikan selang beberapa minggu kepergiannya. Cerita ini disampaikan (barangkali) untuk mengenang Prof. A. Amiruddin semasa hidupnya. Cerita ini terjadi ketika seorang dosen (Drs. H.M Dahlan Abubakar, M.Hum) yang sempat bersama beliau menghadiri perayaan Penerbitan Kampus (PK) Identitas.

Hari itu, Drs. H.M. Dahlan Abubakar, M.Hum., (atau biasa dipanggil Pak Dahlan oleh mahasiswa) ke rumah Prof. A. Amiruddin untuk menjemput beliau di rumahnya tepatnya di Jl. Hertasning untuk menghadiri perayaan ulang tahun Penerbitan Kampus (PK) Identitas. Sesudah Maghrib pun mereka siap-siap berangkat ke tempat acara tersebut. Ketika membuka pintu, Prof Amiruddin bertanya, “Siapa yang bawa mobil? Pak Dahlan pun menjawab,“Saya sendiri Prof.” Prof. Amiruddin pun langsung menjawab, “Oh baiklah, saya duduk di depan kalau begitu.” Pak Dahlan pun berpikiran kok mau-maunya ya seorang mantan rektor dan mantan gubernur menumpang Mercy keluaran 2003. Selama di perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka. Pak Dahlan tidak berani membuka diskusi.

Akhirnya, mereka pun tiba di tempat acara pukul 19.30 Wita. Di tempat tersebut, hadir juga Rektor dan Wakil Rektor III Unhas. Prof. Amiruddin pun menyantap makan malam di barisan kursi depan bersama dengan rektor dan wakil rektor III. Sebelum acara selesai, Pak Dahlan pun membisiki Prof. Amiruddin untuk pulang. Mereka pun keluar ke tempat parkir menuju mobil yang mereka kendarai. Tiba-tiba dari arah belakang, Pak rektor bertanya kepada Prof. Amiruddin,“Prof siapa yang antar?” Prof. Amiruddin pun menjawab, “Itu ada sopir saya.” Pak Dahlan pun langsung menambahkan, “Saya Prof, kapan lagi menjadi sopir mantan rektor dan mantan gubernur.” Prof Amir pun langsung tertawa.

Memaknai cerita tentang Prof. Amiruddin di atas, saya belajar tentang kesederhanaan seseorang yang luar biasa dan kedekatan seorang (mantan) pemimpin dengan orang lain. Barangkali, hal itu bisa diteladani.

To’do’puli dan Lima Tokoh yang Mempraktikkannya

Berdomisili di Makassar? Pasti pernah dengar kata To’do’puli kan? Mendengar kata tersebut, kita akan teringat sebuah jalan, ya Jl. Toddopuli yang berjumlah sampai sepuluh. To’do’puli bukan hanya nama sebuah jalan. Akan tetapi, kata To’do’puli adalah sebuah nilai/sikap yang dipegang teguh oleh para tokoh/pemimpin terdahulu.

To’do’puli atau bersatunya kata dengan perbuatan tidak hanya dikenal dalam masyarakat Makassar. Masyarakat Bugis juga sangat akrab dengan kata sifat yang satu ini,  mereka menyebutnya dengan sebutan getteng yang berarti teguh berpegang pada prinsip kebenaran). Selain berarti teguh, kata ini pun berarti tetap asas atau setia pada keyakinan, atau kuat dalam pendirian, erat memegang sesuatu. Tociung menyatakan bahwa ada empat perbuatan nilai keteguhan. (a) tak mengingkari janji, (b) tak mengkhianati kesepakatan, (c) tak membatalkan keputusan, tak mengubah kesepakatan, (d) jika berbicara dan berbuat, tak berhenti sebelum rampung.

Getteng ini merupakan salah satu pendidikan moral yang diajarkan La Mellong atau yang lebih dikenal dengan nama Kajaolaliddo kepada anak-anak raja dan bangsawan Bugis tepatnya di kerajaan Bone. Sifat Getteng ini dimaksudkan bahwa setiap orang tidak mudah tergeser dari prinsip kebenaran yang dianutnya. Sekalipun bumi pecah berantakan, langit runtuh tidak membuat kita dari keyakinan dan prinsip kebenaran.

To’do’puli/ Getteng tentunya bukan hanya sebagai teori, tetapi bentuk nyatanya dapat dilihat dari sebuah pengaplikasian (sebuah tindakan). Tokoh atau pemimpin yang mengaplikasikan sikap ini dapat kita lihat berikut ini.

  1. Datu Luwu

Nilai yang disebut getteng yang berarti ketegasan atau keteguhan berpegang         pada keyakinan yang benar dapat ditelaah dari sikap yang ditunjukkan Dewan Adat       Kerajaan Luwu dalam Pau-pau Rikadong Arung Masala Ulik-e. Dalam suatu dialog yang memberikan pilihan pada Datu Luwu “Mana yang Datu pilih, telur sebiji yang rusak ataukah telur yang banyak” yang bermakna pilihan, apakah Datu memilih mempertahankan kehadiran puteri tunggalnya yang berpenyakit kulit di dalam istana, ataukah memilih kepentingan, keselamatan, dan ketentraman rakyat. Bilamana Datu memilih puterinya, jelas Dewan Adat akan meninggalkan Datu atau   menurunkan Datu dari tahtanya. Dewan Adat melakukan hal itu sebagai pertanda ketegasan dan keteguhannya berpegang pada prinsip pengayoman kepada rakyat. Datu Luwu yang juga berpegang pada prinsip-prinsip adat kerajaan memahami bahwa dirinya pun harus menunjukkan sikap getteng, dengan melawan perasaan subjektifnya sebagai seorang ayah dengan memilih “telur yang banyak”. Hal itu berarti bahwa puteri raja harus disingkirkan dari kerajaan, harus ripali, diasingkan         dengan cara dinaikkan ke atas perahu kemudian dihanyutkan mengikuti aliran sungai (Ibrahim, 2003:165).

Datu Luwu yang saat itu harus memilih antara anaknya dan rakyat banyak.              Datu Luwu tentu saja mengalami dilema. Di satu sisi, tentunya ia tidak tega membuang anaknya yang memiliki penyakit kulit. Namun, di sisi lain, raja juga harus mempertimbangkan keselamatan rakyatnya. Akhirnya, raja dengan sikap teguh sebagai prinsip adat kerajaan, membuang anaknya demi rakyatnya. Ia pun mengesampingkan belas kasihnya sebagai orang tua. Keputusan tersebut tentunya tidak mudah untuk diambil oleh Datu Luwu. Walaupun membuang anaknya, itu semua demi kepentingan orang banyak. Mengesampingkan kepentingan             pribadi dan berpegang teguh terhadap adat tentulah sebuah tindakan yang           mencerminkan pemimpin teladan karena dapat menciptakan keamanan dan ketenangan bagi kerajaan dan orang-orang di dalamnya. Tindakan Datu Luwu ini dapat dikatakan mirip dengan tindakan Mangara yang tetap teguh tanpa terpengaruh oleh apapun demi melaksanakan sesuatu yang benar.

  1. Nene’ Mallomo

Nene’ Mallomo merupakan seorang cendekiawan yang berasal dari                   Sidenreng Rappang. Nene’ Mallomo merupakan tokoh cendekiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang yang teguh melaksanakan apa yang dikatakannya ketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nene’ Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Nene’ Mallomo pun berkata: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana (terjemahan : sesungguhnya adat itu tidak mengenal bapak dan tidak     mengenal anak).

Nene’ Mallomo memperlihatkan sikap teguh menjalankan tatanan hukum          yang berlaku pada saat itu. Semua yang bersalah harus dihukum, tidak terkecuali anak dari Nene’ Mallomo. Walaupun Nene’ Mallomo merupakan tokoh yang     disegani karena kecerdasannya, ia tidak menggunakan keistimewaannya tersebut untuk melanggar hukum yang berlaku di masyarakat. Nene’ Mallomo tetap             konsisten menjalankan apa yang seharusnya dilakukan kepada orang yang telah melanggar hukum, sekalipun itu adalah anak, saudara, maupun kerabat. Bagi Nene’ Mallomo, hukum tidak memandang siapa pun yang bersalah yang dihukum.

  1. Baso Pagilingi Abdul Hamid (Petta Ponggawae)

Amir dalam Jurnal Buletin Bosara (2001:70) menjelaskan bahwa Baso             Pagilingi merupakan seorang pejuang pada masa penjajahan Belanda yang berasal dari kerajaan Bone. Ketika Belanda menyerang pasukan Baso Pagilingi di pegunungan Awo dan Raja Bone meminta pertimbangan kepada putranya Baso Pagilingi, Baso Pagilingi menjawab sebagai berikut:

                   “Menurut pertimbangan dan pendapatku sebaiknyalah kita bertahan habis-habisan di sini menyelesaikan perang untuk menentukan siapa yang kalah. Sebab   walaupun kita menyingkir sampai ke ujung langit, tak hentinya kita diikuti                       pasukan Belanda… Biarkan mereka datang, saya akan menghadapi langsung                     untuk mempertahankan serta menjunjung tinggi kehormatan rakyat serta Raja               Bone, ataukah menumpahkan darah yang akan membasahi gunung Awo”.

Pada data kutipan di atas, terlihat jelas Baso Pagilingi akan melawan Belanda       sampai titik darah penghabisan bersama pasukannya. Ia sudah lelah menghindari pasukan Belanda yang mengejar mereka, maka ketika ditanya mengenai pendapat tentang penyerangan Belanda, ia dengan lantang mengatakan akan berjuang         habis-habisan melawan penjajah.

Pertempuran pun terjadi antara pasukan Belanda dan pasukan Baso Pagilingi.        Pasukan Belanda cukup besar jumlahnya di bawah pimpinan Mayor Infantri Van     Bonnekom dan dibantu oleh satu kompi pasukan khusus yang dipimpin Kapten     March Stipriaan Luiscius. Sementara itu, pasukan Baso Pagilingi bersama 25 orang pasukan. Dari pertempuran tersebut akhirnya pasukan Belandalah yang keluar sebagai pemenang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sikap Baso Pagilingi yang memiliki tekad             yang kuat untuk melawan Belanda, walaupun hanya memiliki pasukan berjumlah 25 orang dan akan melawan Belanda yang memiliki pasukan cukup banyak. Dengan keteguhan sikap yang dimiliki Baso Pagilingi, ia tetap melawan Belanda walaupun dengan pasukan yang sedikit tersebut. Nyawa pun rela dikorbankan dalam melawan Belanda demi membela tanah airnya. Sikap teguh pada pendirian terlihat jelas pada     Baso Pagilingi yang tidak gentar melawan Belanda walaupun dengan jumlah yang   sedikit, Baso tetap konsekuen terhadap apa yang dikatakan.

  1. Andi Mappanyuki

Andi Mappanyuki seorang keturunan Raja Gowa pada masa penjajahan                Belanda juga menunjukkan sikap teguh pada pendirian. Dalam Jurnal Buletin          Triwulan Bosara (2000:52) dijelaskan sikap Andi Mappanyukki menghadapi Belanda.      Pada tahun 1910 Belanda menawarkan kepada Andi Mappanyuki jabatan Regen untuk daerah Gowa Barat dengan gaji 400 gulden per bulan, padahal gaji seorang regen pada waktu itu , rata-rata 30 ̶ 50 gulden per bulan. Namun, tawaran itu ditolak oleh Andi Mappanyuki. Kemudian sejumlah tawaran kerja sama dengan Belanda         pun tetap ditolak, seperti: penolakan memimpin bekas kerajaan Gowa yang akan dibentuk menjadi Federasi Gowa. Meskipun yang ditawarkan kepada Andi   Mappanyukki, untuk memimpin suatu wilayah yang besar atau lebih luas dari yang pernah ditawarkan sebelumnya, tetapi ia tetap menolaknya. Andi Mappanyukki juga menolak kerja sama dengan NICA (Belanda) pada tanggal 27 Oktober 1945. Ia dengan tegas menyatakan bahwa: saya tidak mau bekerja sama dengan Belanda             karena saya sudah merdeka, lebih baik saya dibunuh daripada mau bekerja sama dengan Belanda. Demikian pula dengan pertemuannya dengan Dr. Hove nama       Letnan Gubernur Jenderal Van Mook di Hotel Empress. Pada pertemuan itu, Andi Mappanyukki kembali menolak dengan tegas bujukan dan rayuan dari Belanda, dengan pernyataan bahwa: Saya hanya sekali dilahirkan. Sekali saya menyatakan berdiri di belakang republik, saya akan tetap pada pendirian itu, sekalipun saya harus hancur lebur. Dengan keteguhannya itu mempertahankan prinsipnya, Andi         Mappanyukki dipecat atau dicopot dari kedudukannya, ia rela dicopot dari           jabatannya sebagai Raja Bone daripada ia harus menjadi pengkhianat.

  1. Prof. A. Amiruddin (Mantan Rektor Universitas Hasanuddin)

Sikap teguh juga dapat dilihat dalam diri seorang Alm. Prof. A. Amiruddin            (Mantan Rektor Universitas Hasanuddin) yang ketika menjabat rektor membangun perumahan dosen. Harahap dkk (1999:107) menyebutkan banyak yang meragukan rencana tersebut dapat berjalan baik. Bahkan ada yang mengatakan uang akan               hilang percuma seperti yang lalu-lalu. Memang pernah ada rencana serupa dan ternyata gagal setelah orang-orang menyetorkan uangnya. Namun, berkat sikap Amiruddin yang tak mau mundur dan terus mendesakkan kemauannya, rencana itu akhirnya disetujui dan dimulailah segala persiapan pembangunan tahap I di kampus Baraya. Dalam tiga bulan berdirilah selusin rumah yang langsung dapat dihuni. Sekalipun masih saja terdengar suara-suara sumbang di sana-sini,                     pembangunan terus dilakukan oleh “Yayasan Perumahan”. Ada yang bahkan menganggap Rektor Unhas menjual aset negara. Amiruddin tak acuh terhadap     suara-suara semacam itu.

To’do’puli atau getteng bukanlah sebuah sikap yang main-main. Kelima tokoh di atas, rela kehilangan anak, nyawa, jabatan, dan dituduh melakukan korupsi hanya untuk menegakkan sikap to’do’puli/ getteng. Mereka tetap teguh dengan apa yang mereka yakini benar tanpa merasa takut oleh apa pun dan siapa pun.

Sudahkah kita to’do’puli hari ini?

Sebuah Pengakuan untuk (Bapak) Ketua Angkatan

Sebenarnya saya ingin mengungkapkan secara langsung apa yang saya tulis ini kepada orang yang bersangkutan (sebut saja namanya Ibnu). Akan tetapi, apa daya saya tidak pernah bertemu dengan ketua angkatan saya ini. Ketika ke kampus pun, saya tidak pernah melihatnya. Padahal, dia belum sarjana. Seharusnya, saya akan dengan mudah menemukannya wara-wiri di kampus. Dia terlalu sibuk dengan kegiatan ekstrakampusnya (mungkin).

Apa yang ingin saya sampaikan ini sebenarnya adalah pengakuan rasa bersalah atas apa yang telah terjadi beberapa tahun lalu. Akan tetapi, saya baru mau mengakuinya sekarang setelah membaca sebuah postingan yang agak menyindir saya.

Ketua angkatan saya ini adalah seorang penulis. Ia menulis karya, baik fiksi maupun nonfiksi. Ia juga sudah pernah menerbitkan sebuah kumpulan puisi yang berjudul Solilokui. Saya sebagai teman tentunya mengapresiasi karya tersebut. Namun, bentuk apresiasi saya yang salah. Seharusnya saya membeli buku puisi tersebut, bukannya malah memintanya (dengan muka naïf). Tentu saja, dia memberikannya pada saya karena saya sebenarnya telah memegang buku tersebut, mustahil kalau saya melepaskannya kan?

Saya baru sadar bahwa meminta buku puisi tersebut adalah salah walaupun dia adalah teman saya. Alasannya adalah menulis itu bukan perkara yang mudah. Menulis butuh waktu, tenaga, pikiran, dan materi yang tidak sedikit. Dan saya mengapresiasi semua itu dengan meminta buku itu secara gratis. Sungguh jahat dan kejam apa yang saya lakukan. Saya juga sadar bahwa dalam proses penulisan buku tersebut, tak ada bantuan yang berarti atau mungkin tak membantunya sama sekali.

Untuk menebus rasa bersalah ini, saya akan menunggu karya Ibnu yang lain. Menunggu untuk membeli pastinya. Ketika saat itu tiba, saya akan berfoto dengan Ibnu sambil memegang bukunya tersebut. Semoga saja!

Bernostalgia dan Satu Dua Rindu yang Tuntas

Rindu dengan kampung halaman, tentunya sudah biasa kita rasakan. Apalagi yang berstatus anak rantau. Rindu dengan suasana rumah, rindu dengan lingkungan yang sudah membesarkan kita. Namun, seringkali rindu tidak bisa langsung dituntaskan. Lantas, apa yang harus dilakukan? Salah satu caranya adalah dengan bernostalgia atau mengingat peristiwa-peristiwa manis yang pernah dialami pada masa lalu.

Baru-baru ini saya baru saja menuntaskan satu dua rindu saya. Rindu pada kampung halaman dan rindu pada posko KKN dengan hanya mengunjungi sebuah kelurahan, tepatnya kelurahan Tallo yang terdapat di Kecamatan Tallo (pula).

Saya mengunjungi sebuah rumah di kelurahan tersebut (rumah temannya teman saya). Teman saya ingin meminjam buku untuk keperluan mengajarnya dan jadilah saya menemaninya. Perjalanan pun kami lakukan sebelum maghrib supaya pulangnya tidak kemalaman. Dari Jalan Pampang ke kelurahan Tallo tidak memakan waktu yang lama karena kecepatan teman saya dalam membawa motor bisa dibilang lumayan cepat. Berbeda jika saya yang mengemudikan motor.

Kami pun sampai di rumah temannya teman saya setelah melalui beberapa lorong yang lumayan sempit. Sore-sore seperti biasa pemandangan yang disuguhkan di tepi lorong adalah ibu-ibu yang asyik mengobrol sambil mengawasi anak-anaknya bermain. Tentunya, harus hati-hati ketika melaju di jalanan lorong dengan kondisi seperti itu. Satu dua ibu-ibu menyapa teman saya dengan ramah. Sesampai di rumah temannya teman saya, Bapak temannya teman saya langsung mempersilakan kami masuk dan duduk di sebuah kursi plastik. Tidak lama setelah itu (inilah yang saya tunggu-tunggu) ibu temannya teman saya menyuguhkan minuman. Betapa senang saya saat itu karena memang saya sedang haus setelah menempuh perjalanan dengan cuaca panasnya Makassar. Tentu saja, saya langsung menyeruput minuman yang disajikan, nikmat sekali.

Hal inilah yang membuat saya kembali rindu pada kampung halaman saya. Di kampung, ketika berjalan kaki, kita akan disapa, ditanyai mau kemana atau dari mana, dan ditawari singgah di rumah orang tersebut. Ketika singgah di rumah orang, kita juga akan disuguhkan minuman ditambah penganan (kalau ada).

Hal tersebut juga mirip dengan yang saya alami ketika KKN. Lokasi KKN saya adalah di Kelurahan Buloa dan juga masih termasuk salah satu bagian dari Kecamatan Tallo. Lebih tepatnya Kelurahan Buloa adalah tetangga dari Kelurahan Tallo. Dulu, ketika berjalan-jalan ke lorong-lorong, saya juga mendapati kondisi tepi jalan yang dipenuhi warga terutama ibu-ibu yang mencari kutu, bersenda gurau dengan tetangga sambil mengamati anak-anak mereka bermain, dan melempar senyum atau bahkan menyapa ketika saya dan teman-teman KKN saya lewat. Ketika singgah di rumah salah satu warga, kami juga disuguhkan teh atau minuman berwarna lainnya.

Dengan mengunjungi satu tempat, saya bisa merasakan kehangatan kampung halaman dan lokasi KKN. Rindu saya pun lunas dan tuntas.

Disiplin Sumber Kebebasan

Disiplin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dsb.). Kata ini pasti sudah sering kita dengar, baik anak sekolah, mahasiswa, maupun orang yang telah bekerja.  Ketika mendengar kata tersebut, agak sedikit ‘parno’ mungkin karena kata ini bagi sebagian orang adalah sesuatu yang ‘menakutkan’, terbayang bagi seorang mahasiswa yang harus masuk kuliah pukul 08.00 WITA, tidak boleh terlambat. Apalagi menghadapi dosen killer pasti yang tidak bisa bangun pagi harus memaksa diri untuk masuk karena takut disemprot dosen killer tersebut, mungkin itulah contoh kedisiplinan sederhana di kalangan mahasiswa.

Nah, jika disiplin adalah kata yang menakutkan, bagaimana dengan kata kebebasan? pasti mendengar kata ini lebih indah tentunya daripada kata disiplin tadi. Kata kebebasan berasal dari kata bebas yang dalam KBBI artinya  lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dng leluasa). Pastilah kebanyakan orang menyukai kata ini karena orang bisa melakukan apa saja tanpa ada halangan apapun, baik itu berbicara, bergerak, maupun berbuat apa saja. Nah jika dilihat, kata disiplin bisa dikatakan sangat bertolak belakang dengan kata kebebasan. Disiplin mempunyai aturan-aturan yang harus ditaati sedangkan bebas atau kebebasan tidak memiliki penghalang untuk melakukan apapun. Sangat bertentangan bukan? Tetapi tahukah jika kata disiplin sangat erat kaitannya dengan kebebasan? Julie Andrews mengatakan bahwa disiplin adalah sumber kebebasan. Benarkah seperti itu? Mari kita lihat salah satu contoh disiplin yang erat dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya saja disiplin makan, terutama pada penderita maag, jika penderita maag tidak disiplin makan pada waktunya, tentu saja perut yang seharusnya diisi akan memberontak dan penyakit maag akan kambuh dan tentu saja menganggu aktivitas harian. Masihkah kita bebas melakukan apapun yang kita mau jika penyakit maag menganggu? Masihkah kita kuliah dengan perasaan yang tenang jika maag menyerang? tentu tidak kan?

Fenomena disiplin lain yang paling sering dilanggar adalah disiplin waktu. Misalnya, seorang mahasiswa yang harus masuk kuliah pukul 08.00 WITA, tetapi bangun pagi pukul 07.59 WITA gara-gara menonton film korea sampai pukul 03.00 WITA dinihari dan rumah tempat tinggalnya ± 20 km dari kampus otomatis memerlukan waktu kurang lebih 60 menit untuk sampai di kampus. Tentu saja dosen akan lebih dulu berada di ruangan daripada mahasiswa tadi alias si mahasiswa terlambat. Bayangkan saja pastilah si mahasiswa akan kena marah oleh dosen tadi. Jika saja si mahasiswa tepat waktu masuk kelas ia akan terbebas menjadi sasaran kemarahan dosen dan juga terbebas dari rasa buru-buru ke kampus. Barangkali jika si mahasiswa terus-terusan seperti itu ia akan mati karena ketidakdisiplinannya. Jika si mahasiswa tersebut di hari berikutnya terlambat bangun lagi dan ia harus mengebut menerobos lalu lintas dan saat melanggar lalu lintas tiba-tiba truk melintas dan menabrak si mahasiswa tersebut, pepatah Irlandia yang berbunyi “Orang yang tidak disiplin akan mati tidak terhormat” itu benar.

 

Catatan: Tulisan ini dibuat semasa kuliah dan baru diposting sekarang.

Butta Toa dan Berbagai Wisatanya

Udara dingin dinihari tak menyurutkan niatku untuk kembali ke kampung halamanku, yaitu Bantaeng. Rasa rindu terhadap kota kelahiranku mampu mengalahkan rasa kantuk yang mendera dan kedinginan yang menusuk kulit subuh itu.

Kira-kira pukul 03.00 WITA dinihari, saya bangun untuk bersiap-siap melakukan perjalanan menuju Bantaeng, rasa dingin membuat saya tak dapat membasahi tubuh dengan air dan hanya mencuci muka dilanjutkan dengan ganti baju. Saya pun mengambil barang-barang yang akan saya bawa ke kampung halaman.

Sekitar pukul 04.00 WITA, saya pun berangkat. Jalanan sepi membuat perjalanan tak terhambat apapun. Sungguh perjalanan yang menyenangkan karena jauh dari kemacetan dan panas matahari yang menyengat. Mobil pun melaju tanpa hambatan meninggalkan Kota Makassar.

Tugu selamat datang yang berbentuk jagung,kentang,apel, dan stroberi berdiri kokoh seolah menyambut kedatangan saya. Di sana terlihat pula Tugu Adipura sebagai penghargaan kepada Bantaeng yang telah mendapat predikat kota terbersih tahun 2012. Sungguh kebanggaan tersendiri bisa lahir di sini. Memasuki Bantaeng seolah mendapatkan semangat kembali dengan menghirup udara yang segar, pasalnya udara yang dihasilkan berasal dari pepohonan yang melakukan fotosintesis di sepanjang tepi jalan. Jalanan yang tak bergelombang dan suasana macet yang tak dijumpai membuat perjalanan saya terasa nyaman.

Pulang kampung kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai Bantaeng. Bantaeng tentunya punya cerita tersendiri mengenai tanggal kelahirannya. Tanggal kelahiran Bantaeng yang saya dapatkan cukup menarik dan unik karena punya filosofi tersendiri. Cikal bakal Bantaeng berasal dari Onto, sebuah perkampungan yang terletak di sebelah utara kabupaten Bantaeng. Tentunya, Onto memiliki nilai sejarah yang tak bisa dilupakan oleh masyarakat Bantaeng karena merupakan filosofi dari hari jadi Bantaeng, yaitu tanggal 7-12-1254. Tanggal 7 menunjukkan simbol Balla Tujua yang berada di kawasan Onto. 12 melambangkan siatem adat yang dianut atau semacam DPRD, dan melalui atlas yang dibuat oleh Dr. Muhammad Yamin membuktikan bahwa Bantaeng telah ada sejak tahun 1254, hal ini pulalah yang menjadi alasan Bantaeng digelari Butta Toa. Sampai sekarang, orang-orang selalu memperingati hari jadi Bantaeng sesuai dengan tanggal tersebut.

Mengetahui sejarahnya tentu kurang lengkap jika tak tahu objek wisata yang ada di Bantaeng. Butta Toa yang akan menginjak usia 763 tahun ini memiliki berbagai tempat wisata yang indah. Salah satunya, Pantai Seruni.Keindahan pantai siapa yang  bisa menolaknya. Begitulah Pantai Seruni, selain sebagai objek wisata, pantai ini juga sebagai sarana olahraga. Pantai ini juga biasa digunakan untuk reuni, bernostalgia sambil menyeruput minuman dan menyantap makanan yang dijajakkan dengan ditemani kerlap-kerlip lampu terlilit di pepohonan yang menaungi meja dan kursi tempat tersebut. Kalau suka baju bekas (cakar), kita juga bisa mendapatkannya di sini kok, komplit kan?

Sudah puas dengan pantai, mari menikmati daerah pegunungan. Wisata Muntea bisa menjadi pilihan. Sebelum sampai di Muntea, kita akan melalui sebuah kampung yang bernama Sinoa. Di Sinoa ini, kita akan melihat beberapa gazebo. Gazebo-gazebo tersebut bisa digunakan untuk menikmati kota Bantaeng dari sisi yang lain. Lebih indah lagi ketika melihatnya pada malam hari apalagi sambil menyeruput sara’bba dan makan gorengan.

Berkunjung ke Bantaeng jika tidak ke Muntea atau biasa dikenal Kebun Stroberi pastinya tak akan lengkap. Di sini kita bisa merasakan udara sejuk yang masih diselimuti kabut. Ataupun, memetik langsung stroberi yang ada di sana,tentunya dengan sedikit merogoh kocek.

Tak cukup hanya di situ, Bantaeng juga punya masjid bersejarah, yaitu Masjid Taqwa Tompong yang merupakan  masjid tertua yang ada di Bantaeng. Menurut cerita, masjid ini didirikan  pada tahun 1877 atas prakarsa Raja Bantaeng, Karaeng Panawang, La Bandu dari Wajo,dan arsitek yang berasal dari Bone bernama La Pangewa.

Itulah beberapa tempat wisata ya g ada di Bantaeng, tertarik? Mungkin kita bisa pergi bersama.

Tikus

​Baru-baru ini saya dikagetkan dengan seekor tikus yang tiba-tiba menghampiri saya ketika sedang asyik membaca salah satu tulisan di Mojok sambil tidur-tiduran santai di lantai. Bahkan, tikus linglung itu hampir mencium pipi saya, naudzubillah! (syukur-syukur kalau tikusnya itu jantan, bagaimana jika betina? LGBT) Saya kaget, tikus itupun kaget (dan kami saling berpandangan dan jatuh cinta *eh salah) sontak dia lari secepat kilat dan hilang dari pandangan saya. Saya pun mulai membayangkan seandainya tadi mulut saya terbuka mungkin dia sudah masuk ke mulut saya, ih jijik!

Melihat bakat lari secepat kilat yang dimiliki oleh tikus, kemudian saya kembali berpikir bahwa tikus bisa saja menjadi tokoh utama menggantikan kura-kura dalam dongeng Kancil dan Kura-kura yang bercerita tentang lomba lari yg dimenangkan oleh Kura-kura. Mengapa? Saya sebenarnya kasian sama si Kancil dalam cerita tersebut karena dia digambarkan sebagai binatang sombong nan lengah. Nah, ketika salah satu tokohnya diganti niscaya pertandingannya akan lebih seru dan terasa adil. Dan jika itu terjadi maka bukanlah menjadi dongeng, melainkan lomba lari yang serunya kurang lebih sama dengan pertandingan bola antara Barcelona Vs Real Madrid, hah hiperbola sekali!

Satu pelajaran yang saya dapat dari kejadian ini adalah saya semakin percaya bahwa memang pantas tikus diasosiasikan dengan koruptor. Selain sama-sama pengerat, juga sama-sama larinya cepat ketika sudah ketahuan lalu bersembunyi tanpa pernah muncul lagi dan tak pernah merasa bersalah.