Malam Minggu di Rumah Duka

Hujan masih rintik-rintik. Langit gelap tak terlihat satu bintang pun. Petir bergerumuh mengantar keberangkatan dari Tamalanrea menuju ke sebuah rumah di daerah Bandara Lama. Aspal tampak basah karena hujan yang turun sejak sore tadi. Cuaca hari ini berbeda sekali dengan dua hari sebelumnya. Kami ̶ saya dan lima orang teman ̶  melaju memakai kendaraan beroda dua. Kami yang terdiri atas lima orang perempuan dan seorang lelaki memakai tiga kendaraan ke tempat yang akan dituju. Dingin dan macet menghiasi perjalanan. Di tengah perjalanan, hujan mulai deras kendaraan pun diberhentikan sejenak untuk memakai jas hujan agar tubuh tidak basah.

Kami pun masuk ke area yang orang-orang sebut Bandara Lama. Sepanjang perjalanan, saya melihat deretan rumah di pinggir jalan. Berbeda sekali dengan Bandara Baru yang di pinggir jalan hanya ada beberapa bangunan, itu pun bukan rumah. Memasuki lorong dan berbelok beberapa kali akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Rumah itu di bagian sampingnya berkumpul banyak orang sedang duduk di kursi plastik. Mereka duduk dinaungi sebuah tenda berwarna biru untuk melindungi dari hujan. Seorang berada di depan orang-orang tersebut sedang memegang mic dan sedang berceramah. Hujan pun turun dengan deras seakan menyambut kedatangan kami. Namun, Pak Ustaz yang sedang berceramah tadi suaranya tak kalah dari suara rintik hujan. Sesekali orang yang berkumpul itu tertawa mendengar ceramah yang disampaikan. Saya agak risih dengan adegan itu. Pasalnya baru saja si pemilik rumah ditinggalkan oleh suami yang sekaligus sebagai ayah dari tiga orang anak. Tak patut jika memperlihatkan kesenangan di tengah kedukaan. Namun, mungkin itulah cara agar kehilangan tak terlalu perih.

Malam ini adalah malam tausiah dari senior yang bapaknya meninggal di hari Jumat kemarin. Saya dan teman-teman yang datang hari ini adalah yang tak sempat melihat prosesi pemakaman. Akhirnya, jadilah kami datang ke tausiah. Hujan mulai reda. Namun, suara Pak Ustaz masih deras terdengar di telinga. Kalimat-kalimatnya sesekali memberikan semangat kepada orang yang ditinggalkan. Sesekali juga menasihati dengan nada bicara yang tinggi seperti sedang marah. Sesekali juga bertanya kepada orang-orang yang berkumpul. Tausiah ditutup dengan mengirimkan doa kepada almarhum.

Tausiah sudah selesai. Makanan ringan pun disajikan yang dibungkus dengan kotak.  Kami makan dan disapa oleh Kak Zul ̶ senior yang bapaknya baru saja meninggal ̶ Kami berpindah duduk dari kursi plastik ke kursi yang dudukannya lebih empuk. Saya duduk di tengah-tengah empat teman perempuan. Kami memakan kue yang diberikan, sesekali melihat isi kotak satu sama lain untuk saling tahu isinya atau saling bertukar kue. Kak Zul memulai perbincangan pertanyaan, “Kenapa terlambat sekali datang?”

“Hujan kak, Ini juga baru selesai mengajar.” Jawab teman yang laki-laki sambil menunjuk saya.

Kak Zul pun menawari kami untuk minum kopi. Namun, saya dan empat teman perempuan menolak untuk minum kopi karena sudah  malam takut tak bisa tidur. Akhirnya, hanya teman laki-laki ̶ yang biasa kami sapa Kamsah ̶ minum kopi yang ditawarkan. Kak Zul pun melanjutkan kisahnya merawat sang Bapak. Ia bercerita ketika disuruh pulang seminggu sebelumnya, tepatnya malam Minggu. Ia sibuk mencari-cari tiket pulang karena dikabari bahwa bapaknya masuk rumah sakit lagi setelah sempat baikan.  Bapaknya sudah lama sakit. Tepatnya diabetes selama empat belas tahun. Namun, tak hanya itu,  penyakit lain pun seperti ginjal, stroke juga menyerang tubuh beliau.

Di rumah sakit, ia sempat kebingungan mengambil keputusan apakah harus menuruti kemauan bapaknya yang mau pulang sedangkan infus ada di mana-mana di bagian tubuhnya atau tetap bertahan di rumah sakit. Ia sempat bertanya pada tantenya. Namun, keputusan dikembalikan kepadanya sebagai anak pertama.

“Kauji nak, bapakmu!” begitu kisahnya.

Sang Bapak masih bersikeras untuk pulang. Akhirnya, di hari Rabu keinginan sang Bapak dikabulkan. Ia merawat sang Bapak di rumah bersama ibu dan kedua adiknya. Sampai akhirnya sang Bapak menghembuskan napas terakhir di hari Jumat. Ia pun melanjutkan cerita dengan proses menuntun syahadat, memandikan, mengafani, sampai menguburkan.

“Sakit dan syukur. Sakitnya itu karena ditinggalkan. Syukurnya itu karena sudah bisa rawat bapak selama sakit.” Saat mengatakan hal tersebut di wajahnya terlihat senyum dengan ginsul di sebelah kiri. Namun, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Kantong matanya terlihat jelas. Mungkin ia tidak tidur selama seminggu itu untuk mengurus sang bapak. Selesai mengatakan tiga kalimat itu, teman di samping kanan mulai mengeluarkan air matanya. Mungkin saja ia juga teringat oleh bapaknya yang telah pergi setahun yang lalu. Saya juga baru tersadar saya duduk diapit oleh dua orang teman di samping kiri dan seorang di samping kanan yang telah kehilangan bapaknya.

Begitulah obrolan di malam Minggu. Obrolan tentang bapak. Setiap kali Kak Zul menceritakan tentang bapaknya seperti ada tangis yang tertahan. Namun, dibungkus dengan ketegaran dan senyuman.

Malam itu kami pamit pulang karena sudah larut. Kami mencium tangan ibunya Kak Zul yang telah ditinggal suaminya

“Bisaki datang lagi besok nak?” Ucapnya kepada kami ketika mencium tangannya.

Iye bu diusahakan.” Kami pun menjawab

Hujan sudah reda dan kami pun pulang membawa sedih di malam Minggu itu.

Iklan

Rupa Makassar dalam Telinga Palsu

Matahari tampak malu-malu memperlihatkan wajahnya hari ini. Di langit, tampak dominasi warna putih daripada warna biru. Namun, suhu tetap saja panas. Kipas angin masih setia menemani mengusir panas. Saya masih dalam tengkurap. Kepala masih tegak dan mata masih awas. Pulpen masih di tangan kanan bersiap mencatat jika ada kalimat-kalimat penting yang didapati dalam buku. Sesekali buku itu dalam posisi berbaring atau berdiri mengikuti kemauan si empunya. Buku itu sampulnya berwarna merah dengan tulisan Telinga Palsu sebagai judul, ditulis dengan tinta berwarna silver. Di bawah judul tersebut mengikut tulisan “100 literasi pilihan koran Tempo Makassar 2014 ̶ 2016.” Di samping semua tulisan itu, ada gambar yang memperlihatkan sebagian tubuh, yaitu kepala, kuping, leher, bahu, lengan, dan dada. Gambar tersebut berwarna hitam, kecuali bagian kuping. Gambarnya hanya diambil dari sudut kiri ketika saya memandangnya.

Membaca buku tersebut membuat saya menemukan beberapa literasi yang memperlihatkan rupa Kota Makassar. Penggambaran tersebut lebih merupakan keresahan yang dialami ketika menetap di salah satu kota besar ini. Beberapa tulisan yang saya maksudkan itu terdiri atas empat literasi dari tiga penulis. Keempat literasi ini merangkum kejadian-kejadian yang mewarnai kota ini yang sedikit banyak pernah pula saya alami. Mari menengok satu per satu tulisan yang saya maksudkan.

1.“Mahasiswa, Sang Penutup Jalan “ Karya Aslan Abidin

Aslan Abidin ̶ dalam tulisan ini ̶ menuliskan kelakukan mahasiswa ketika melakukan demonstrasi yang kerap menutup jalan umum. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman yang beliau alami di pekan kedua November 2014 di depan salah satu universitas swasta di Makassar. Beliau menganggap bahwa tindakan menutup jalan ketika berdemo adalah sebuah kekonyolan karena objek yang dituju dalam berdemonstrasi berada di ibu kota sana. Justru rakyat ̶ yang biasa diatasnamakan dalam demo ̶ yang dirugikan karena jalan ditutup sehingga menghambat aktivitas.

Beliau meragukan demonstrasi dengan penutupan jalan tersebut didasarkan pada pembelaan pada rakyat. Justru para demonstran dianggap sebagai agresor perampas hak jalan khalayak ramai. Ketika rakyat mulai melawan agresor, terjadilah tawuran antara mahasiswa dan masyarakat. Di lain sisi, bentrok mahasiswa dengan polisi yang berusaha membuka jalan juga pernah terjadi.

2. “Di Kota Ini, Anak Kita Bermain Api” Karya Anis Kurniawan

Dalam tulisan ini, Anis Kurniawan melihat ruang bermain yang tersedia di Makassar sangat kurang. Alhasil, tempat yang dijadikan anak untuk bermain adalah di jalan kompleks perumahan atau lorong-lorong yang tentu saja juga berfungsi sebagai jalan. Dengan tidak adanya sarana bermain, anak-anak akan di rumah bermain game melalui laptop, telepon seluler, atau playstation atau menonton televisi yang menyuguhkan program yang berbau kekerasan dan mistis, musik orang dewasa yang dilengkapi dengan goyangan, fashion, dan masih banyak lagi.

Anak-anak yang bermain di rumah akan terancam berjiwa kaku, egois, dan kehilangan kepekaan terhadap lingkungan. Hal itu bisa saja berimbas pada kesehatan mental dan fisik. Bukan hanya anak di kota yang mulai kehilangan tempat bermain. Namun, pola permainan anak di kampung sudah mulai bergeser pula ke game. Semua itu dimotori oleh teknologi. Beliau menyayangkan permainan seperti kelereng, petak umpet, wayang, layang-layang, perang-perangan, dan tali-temali kini sudah kurang diminati. Padahal, permainan-permainan tersebut memuat nilai-nilai seperti kebersamaan, kreativitas, keberanian, dan masih banyak lagi. Hal miris lainnya adalah Indonesia sebagai negara berkembang hanya memiliki ruang bermain anak rata-rata 2.000 meter persegi per anak, sedangkan Amerika dan Eropa yang merupakan negara maju memiliki sekitar 10.000 meter persegi per anak.

3. “Pengemis Profesional” Karya Shinta Febriany

Makassar sepertinya kota yang tidak luput dijamuri oleh pengemis. Dalam tulisan ini, Shinta Febriany pernah melihat seorang pengemis di depan sebuah toko. Namun, ia sangsi akan pengemis itu mengemis karena kelaparan dan kemiskinan.. Di tempat yang berbeda, ia pernah melihat pengemis dengan dandanan berbeda. Memakai baju koko, bersarung, dan berkopiah membawa celengan yang bertuliskan nama panti asuhan. Dia melihat ada tipu muslihat. Bukan tanpa alasan karena beberapa pengemis diberitakan memiliki kekayaan finansial. Mereka bisa memiliki sebuah mobil, rumah, dan kekayaan lainnya dengan mengemis. Kasus ini juga pernah dialami oleh Selandia Baru, tetapi bisa diatasi dengan kampanye yang berisi imbauan kepada warga kota agar berhenti memberi secara langsung kepada pengemis. Akan lebih baik jika diserahkan kepada lembaga amal. Di kota ini, beliau melihat bahwa kepengemisan terus berlangsung karena kita sebagai warga kota memberikan apa yang pengemis itu minta. Namun, sesungguhnya tindakan itu malah membuat kepengemisan semakin menjamur.

4. “Kota Sampah” Karya Shinta Febriany

Salah satu ikon kota Makassar adalah Pantai Losari. Dalam tulisan ini, Pantai Losari yang seharusnya menjadi kebanggaan warga Makassar dengan keindahan yang disuguhkan. Namun, dalam tulisan ini Pantai Losari memperlihatkan pemandangan yang jauh dari kata indah. Sampah-sampah banyak ditemukan di permukaan laut. Tak jauh berbeda dengan pelatarannya. Hal ini membuat Shinta Febriany merasa malu karena pada saat itu teman-temannya datang berkunjung ke Pantai Losari. Beragam peraturan telah dipasang. Namun, sayang sekali peraturan itu hanya pajangan karena tak dihiraukan oleh pengunjung. Ditambah lagi, kontainer sampah diletakkan di badan jalan, seberang rumah sakit. Tentu saja pemandangan ini menganggu, bahkan bisa membuat warga yang lewat terkena penyakit.

Beliau berharap membangun peradabann bisa dimulai dengan ajakan mencintai kota secara sungguh-sungguh sehingga menciptakan kota yang merdeka tanpa sampah ketimbang membangun peradaban Makassar lewat Pinisi dan gedung-gedung canggih seperti cita-cita Walikota yang disampaikan dalam pidatonya di sebuah perhelatan sastra.

Gembira di Tengah Kemayaan Riang

Matahari pagi bersinar dengan terik di pukul 10.00 WITA. Matahari di hari Minggu ini cukup membuat kulit seakan tertusuk ketika menempuh perjalanan dari Jl. Adhyaksa, Panakkukang, Makassar menuju Jl. Perintis Kemerdekaan, Biringkanaya, Makassar. Namun, terik itu segera terganti dengan suasana sejuk dari pepohonan tatkala membelok ke kiri masuk ke sebuah kampus. Kira-kira 15 m dari jalan raya, terlihat gerbang bercat merah dengan tinggi kira-kira sama dengan dada orang dewasa seakan mengucapkan selamat datang. Gerbangya hanya sebagian yang terbuka, cukup untuk tiga motor lewat secara bersamaan. Di sisi kiri dari jalanan masuk, beberapa orang terlihat sedang duduk-duduk, beberapa orang lain berdiri dan yang lainnya terlihat memperhatikan rusa yang terkurung. Di sekitar orang-orang itu terlihat beberapa sepeda berdiri mematung tak dijamah oleh siapa pun.

Jalanan hanya memperlihatkan beberapa kendaraan lalu lalang. Motor pun dibelokkan ke arah kanan memasuki gedung yang bernama Gedung Pertemuan Alumni (GPA). Tak ada papan nama di depan gedung itu. Namun, begitulah gedung itu dinamai. Dari mahasiswa baru sampai sekarang jika menyebut GPA akan mengarah  ke gedung itu. Halaman gedung ini dilapisi dengan batako sekeras batok kepala. Motor pun di parkirkan di sisi kiri jalan masuk. Sudah ada beberapa motor yang terparkir terlebih dulu di sana. Tepat di bawah gedung terlihat tiga orang ̶ laki-laki dan perempuan ̶ sedang duduk di tangga gedung. Beberapa orang lain dalam posisi berdiri menghadap tiga orang tadi. Saya tebak yang duduk itu adalah senior dan yang berdiri adalah junior. Ketika melintas di belakang mereka ̶ menuju ke samping gedung ̶ terlihat tulisan di baju mereka “Fakultas Hukum”.

Di samping gedung itu, sudah ada sekumpulan anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak itu duduk di karpet, sedangkan orang dewasa terlihat berdiri di setiap sisi anak-anak tersebut. Di depan anak-anak itu berdiri seorang lelaki memakai kacamata, berbaju batik, dan bercelana panjang warna hitam sedang memegang kertas ukuran A4. Di samping kirinya ada banner bertuliskan KPAJ yang dilengkapi dua gambar berisi beberapa anak kecil juga beberapa tulisan lainnya. Namun, dari tulisan-tulisan tersebut yang terlihat jelas hanya tulisan KPAJ. KPAJ sendiri adalah kepanjangan dari Komunitas Pencinta Anak Jalanan. Komunitas ini sudah berdiri sejak tujuh tahun lalu. Para penggiat komunitas ini selalu melakukan kelas di hari Minggu setiap pukul 09.00 s.d. 11.00 WITA. Itulah pengetahuan awal saya tentang KPAJ melalui informasi yang saya dapatkan dari Tari ̶ salah satu anggota KPAJ yang juga pernah menjabat sebagai ketua ̶ yang sudah sejak masa kuliah berkecimpung di komunitas itu. Dia pulalah yang mengajak saya untuk melihat secara langsung kegiatan mereka di hari Minggu.

Pukul 10.23 WITA saya dan Tari baru tiba di sana. Alhasil hanya sebagian kegiatan yang bisa saya lihat. Kegiatan di hari itu adalah pelajaran menanam makanya anak-anak dan anggota komunitas itu sedang sibuk memotong dan melubangi botol minuman bekas yang akan difungsikan sebagai wadah menanam.  Botol-botol yang sudah digunting itu pun diisi dengan tanah.

“Adik-adik hari ini tanaman yang akan kita tanam adalah sayur sawi.” Terlihat seorang perempuan sedang berdiri memegang dua gelas plastik yang berisi bibit dan benih. Anak-anak memperhatikannya. “Karena benihnya tidak cukup makanya kita tanam bibitnya saja ya, tahu apa bedanya bibit sama benih?” perempuan itu melanjutkan.

“Tidak kak,” anak-anak menjawab serentak.

“Yang di tangan kiri kakak ini namanya benih, ini sudah ada kecambahnya. Yang di tangan kanan kakak ini yang ada airnya dan ada biji-bijinya itu namanya bibit. Kalau kita menanam bibit itu harus direndam dalam air dulu selama semalam.” Setelah penjelasan itu, ada lagi anak-anak yang bertanya tentang apa itu kecambah. Si perempuan terlihat mencari kosakata untuk memberikan pengertian tentang apa itu kecambah. Sepanjang penjelasan, ada beberapa istilah pertanian yang diungkapkan. Anak-anak kurang paham dengan istilah-istilah itu begitu pun dengan saya. Jadilah dia harus mencari kata-kata yang mudah diterima oleh anak-anak untuk menyampaikan maksud yang diinginkan. Terlihat pengurus KPAJ lainnya turut membantu memberikan pengertian kepada anak-anak.

Sebelum bibitnya disemai di atas wadah yang berisi tanah tadi, terlebih dahulu tanahnya dijenuhkan. “Adik-adik tahu dijenuhkan?”

“Jenuh itu bosan kak.”

Orang-orang yang mendengar jawaban tersebut pun tertawa

“Bukan, bukan itu dek, dijenuhkan maksudnya tanahnya diberi air dulu sebelum bibitnya disemai.”

“oh bilangki kak.”

Satu dua anak terlihat berlari ke danau untuk mengambil air untuk tanah yang akan dijenuhkan. Namun, seorang lelaki dengan sigap berlari menghalangi mereka. Anak-anak tidak dibiarkan mengambil air sendiri karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lagipula, air untuk keperluan penjenuhan sudah disiapkan oleh mereka.

Melihat antusias anak-anak mulai berkurang. Salah satu pengurus KPAJ meneriakkan yel-yel,

“Tepuk semangat,” diiringi dengan tepuk tangan sebanyak tiga kali yang membentuk bunyi prok prok prok.

“se,” diiringi dengan bunyi prok-prok-prok pula.

“ma,” masih diiringi dengan bunyi prok-prok-prok.

“ngat.” Sampai suku kata yang ketiga ini bunyi prok-prok-prok masih terdengar.

“Se…. mangat!!” Mereka pun kembali memperhatikan. Kegiatan menanam hari itu pun ditutup dengan penilaian kreasi wadah tanaman tiap-tiap kelompok.

Setelah menyelesaikan kegiatan menanam, tibalah waktu makan. Seorang anak lelaki berbaju kuning bertuliskan “I Love Makassar” mengacungkan jari telunjuknya ke atas melampaui kepalanya bersedia memandu teman-temannya membaca doa sebelum makan. Belakangan saya tahu namanya adalah Farel. Suara Farel terdengar cempreng, tetapi hal itu tidak menjadi perhatian teman-temannya. Doa dipandu Farel diikuti oleh teman-temannya. Suara mereka layaknya sebuah paduan suara.

Wal Asri innal insana….” Seorang anak membaca potongan surah Al-Ashr yang baisanya dijadikan doa untuk menutup kegiatan. Saya teringat waktu SD doa ini dilafalkan sebelum pulang setelah pelajaran Agama. Saya dan pengurus KPAJ yang mendengar lafal tersebut tertawa. Sontak mata kami langsung tertuju kepada anak tersebut. Anak itu ternyata disapa oleh teman-temannya dengan “Balanda”. Saya pikir itu hanya julukan yang diberikan untuknya. Kata Balanda sebenarnya berasal dari kata Belanda yang mengacu kepada orang berkulit putih yang pernah menjajah di Indonesia. Namun, anehnya julukan itu sangat kontras dengan warna kulitnya. Sapaan itu juga ternyata bukan julukan, tetapi memang nama aslinya. Setelah membaca doa, pengurus KPAJ pun membagikan lemper yang sedari tadi terbungkus rapi dalam kantong plastik.

“Sampahnya dikumpul di sini ya adek-adek.” Salah seorang perempuan melangkah ke tengah karpet  yang tengah diduduki oleh anak-anak sambil menaruh kantong plastik bening di tengah.

***

Anak-anak yang saya jumpai hari ini adalah anak-anak yang selalu saya ingin temui di tengah hiruk-pikuk gempuran teknologi sekarang ini. Anak-anak ini adalah anak-anak berbeda dengan yang sering saya temui di ruang-ruang kelas yang lekat dengan gawai masing-masing. Tertawa cekikikan atau terbahak-bahak karena melihat hal lucu yang ada di layar handphone masing-masing. Akan tetapi, anak-anak yang saya temui di Minggu pagi ini adalah anak-anak  tanpa gawai. Tertawa cekikikan dan terbahak-bahak karena tingkah laku orang-orang yang ada di sekitar. Mereka fokus dengan interaksi di dunia nyata. Beinteraksi dengan alam dan sesama.

Bahasa dan Kesalahan Kita

seputarpendidikan003.blogspot.com

Layar notebook berukuran 9 inchi masih menampilkan adegan di 01.10. 17. Tersisa dua menit lagi sebelum drama korea yang saya tonton itu berakhir.  Layar itu menampilkan perempuan berambut hitam sebahu menghampiri pria berambut belah tengah, berhidung mancung, dan berkulit putih tanpa bercak. Mereka bertatapan. Ada bulir bening di kedua mata mereka yang tak kunjung jatuh. Adegan ini adalah pertemuan sepasang kekasih yang telah lama berpisah dan akhirnya kembali bertemu. Suasana haru mengakhiri drama tersebut. Ada rasa bahagia yang terasa. Penantian sepi yang menusuk kini dibayar lunas oleh pertemuan.

Menengok jam yang ada di handphone ternyata sudah menunjukkan pukul 13.40 WITA, berarti saya harus bersiap-siap untuk pergi mengajar. Saya mulai dengan menyikat gigi. Kaki melangkah ke kamar mandi, saya melihat televisi tetangga sedang menyala. Seorang perempuan dalam televisi itu berdiri memegang mic seperti sedang melaporkan sesuatu. Saya tak acuh dan terus melanjutkan langkah ke kamar mandi.

“Sangat banyak sekali.” Frasa itu berasal dari televisi tetangga tadi. Mendengar frasa tersebut, kening saya langsung berkerut dan bibir menyeringai. Tangan mengambil keranjang tempat alat mandi dengan kasar. Melangkah masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, helm sikat gigi saya lepaskan dengan kasar pula. Sikat gigi saya pegang di tangan kanan lalu membuka tutup odol dan memencetnya. Meletakkan gumpalan putih di ujung sikat gigi, memasukkannya dalam mulut dengan gerakan naik turun dan keluar masuk dengan ritme cepat . Dalam hati, saya menggerutu. Bisa-bisanya dia mengucapkan frasa itu. Ingin sekali rasanya menghampiri dan mengatakan, “Eh frasa ‘sangat banyak sekali’ itu pemborosan. Kata ‘sangat dan sekali’ itu maknanya sama. Jadi pilih salah satu dari kata itu untuk menunjukkan sesuatu yang jamak. pake frasa ‘sangat banyak’ atau ‘banyak sekali’ saja gitu lho mbak.”

Akhir bahagia yang saya rasakan dari drama itu tidak bertahan lama. Ya, gara-gara mbak reporter tadi yang salah mengucapkan frasa. Memang, bahagia itu tak selamanya.

***

            Di lain tempat, waktu itu saya mengajar di Ganesha Operation (GO) ̶ salah satu tempat bimbingan belajar di Makassar ̶ cabang BTP di kelas tiga SMA. Di dalam ruangan, deretan kursi yang kira-kira berjumlah tiga puluh sudah diisi oleh beberapa orang secara acak. Deretan itu disusun menjadi tiga baris dan menghadap ke papan tulis. Barisan pertama dan kedua sengaja dikosongkan bagian tengahnya supaya difungsikan sebagai jalan. Ada dua AC yang ada di ruangan itu menghadap ke depan. Cukup membuat menggigil apabila kursi-kursi belum terisi semua. Di bagian kiri atas ada jam dinding, tetapi jam itu menunjukkan pukul 15.35 WITA tanda jam itu tak berfungsi sebagaimana mestinya. Di arah  kanan sudah tersedia sebuah kursi, tetapi arahnya berbeda dari kursi yang lain. Map, tempat pensil, buku EYD, dan buku koding ̶ semacam buku cetak seperti yang biasa dipakai di sekolah ̶ yang sedari tadi ada dalam pelukan, saya letakkan di kursi itu.

“Selamat sore,” sapa saya pada siswa-siswa

“Sore kak,” jawab mereka. Terlihat seragam masih melekat di tubuh mereka, satu orang menutupi seragam dengan mengenakan sweater. Yang lain tampak memakai baju kaos dengan paduan celana jeans sempit di bagian kaki. Saya pun menulis di papan tulis berbentuk persegi panjang yang sudah dibagi menjadi empat bagian. Menuliskan judul paket yang akan dipelajari sore itu.

“Sekarang kita sudah di paket dua ya, judulnya itu Keterampilan Berbahasa dan Karya Ilmiah, buka halaman 369 dek. Di bagian keterampilan berbahasa kita akan pelajari tentang surat undangan resmi, sedangkan di karya ilmiah akan dipelajari penulisan judul, daftar pustaka, dan kutipan.”

Adek-adek coba perhatikan bagian penutup suratnya, biasa orang gunakan ‘atas kehadirannya’ ya di surat. Itu salah dek ya. Mengapa? Karena surat itu komunikasi antara orang pertama dan orang kedua. Nah, -nya itu sama dengan dia. Dia itu orang keberapa? Orang ketiga toh? Jadi –nya keliru jika digunakan pada surat. Gunakan saja sapaan Bapak, Ibu, atau Saudara,” saya berusaha memberikan pemahaman kepada mereka.

Seseorang siswa menyeletuk, “Iye kak, nda boleh memang ada orang ketiga, apalagi dalam sebuah hubungan.”

Suasana kelas menjadi riuh dengan tawa.

***

“Mana Absen?” Tanya Fira, seorang siswa berkacamata dan berambut pendek sebahu sambil melirik ke kanan, kiri, dan ke belakang bergantian.

“Absen bede, apa artinya absen?” Tanya saya pada mereka.

Anu kak, tidak hadir,” seorang siswa yang memakai jilbab berwarna gold menjawab. Jilbab yang ia kenakan panjangnya menutupi dada sampai perutnya. Ia berada di samping kiri Fira

“Berarti salah dek Fira kalimatmu, masa kau bertanya ‘mana absen?’ kalau diganti kata absen jadi tidak hadir, berarti kalimatmu jadi ‘mana tidak hadir?’, padahal yang kauminta itu daftar hadir toh. Kalau minta daftar hadir bilang saja daftar presensi yang artinya daftar hadir atau bilang saja pake bahasa Indonesia, daftar hadir.” Jelas saya kepada mereka.

Terdengar suara percakapan Fira dengan teman di sampingnya, “Ih berarti salahki guruta selama ini.”

“Kak, yang mana benar merubah atau mengubah?” Terdengar pertanyaan dari seorang siswa laki-laki yang duduk di sudut kiri ruangan.

“Yang benar itu dek kata ‘mengubah’ dari kata dasar ubah. Kalau kata yang berawalan huruf vokal dan bertemu dengan imbuhan me- maka akan menjadi meng-. Kata ubah kan diawali dengan huruf u yang merupakan salah satu huruf vokal. Jadi, kalau ubah ditambah me- itu akan jadi mengubah. Sama dengan kata mengikut, kata dasarnya ikut lalu ditambahkan imbuhan me- jadinya mengikut. Kalau merubah itu tidak ada dalam kamus dek. Kalau rubah ada, rubah itu hewan. “

***

            Frasa dan kata di atas hanya sebagian besar dari kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam berkomunikasi. Padahal, pelajaran bahasa Indonesia sudah diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah. Pun semester satu di universitas kita masih belajar bahasa Indonesia. Bahkan, ada yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Lalu pantaskah kesalahan-kesalahan itu masih dilakukan? Mungkin selama ini kita terlalu acuh dengan bahasa kita sendiri.

Keseharian Seorang Penambal Ban


Petang itu, saya sejenak meninggalkan Kafe BrewBrothers  ̶tempat pertemuan keempat Kelas Menulis Kepo IV dilaksanakan  ̶menyusuri Jalan Kompleks Akik Hijau hingga sampai di Jalan Pengayoman, Panakkukang, Makassar. Saya disambut dengan kendaraan lalu lalang. Hujan rintik-rintik turut turun di petang ini mengiringi pengendara menembus jalan. Saya menoleh ke kanan dan kiri berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan objek observasi.

Mata saya terhenti di arah kiri dan tertuju pada lima buah ban yang ditumpuk secara vertikal. Tumpukan itu ditutup dengan ban yang arahnya berbeda dari tumpukan ban dan bertuliskan tambal ban tubles. Tulisan itu menggunakan warna putih kontras dengan warna ban tersebut. Di belakang tumpukan ban, ada spanduk persegi panjang dengan ukuran kira-kira 42 cm x 70 cm yang makna tulisannya senada dengan yang ada di ban tadi. Di sampingnya, ada mesin kompresor yang didominasi oleh warna jingga dan duduk dua orang perempuan berjilbab sedang mengobrol di belakang mesin kompresor itu. Di antara mesin kompresor dan dua orang perempuan berjilbab, terdapat gelas berisi teh yang diletakkan di atas meja berbentuk persegi panjang. Meja itu kira-kira berukuran 45 cm x 35 cm dan terbuat dari tripleks. Tingginya kira-kira selutut orang dewasa. Di kolong meja, terdapat tabung gas berwarna hijau. Di samping tabung gas itu, ada alat pres ban berwarna biru dan baskom hitam berisi air.

Seorang pria berbaju biru, bercelana jeans selutut dan bertopi abu-abu dengan kulit sawo matang sedang memperbaiki ban sepeda motor. Pria itu memegang benda bulat yang terbuat dari karet berwarna hitam pekat nan mulus. Ia memasukkan benda itu ke dalam baskom yang berisi air lalu mengangkat dan memperhatikannya. Setelah menemukan sesuatu yang bermasalah pada benda tersebut, si pria melekatkan sesuatu dan kembali memasangnya pada sepeda motor yang ada di depannya. Ia lalu mencuci tangan tanda sudah membereskan pekerjaannya dan siap-siap menerima upah. Kedua perempuan berjilbab itu pun membayar dan berlalu, ternyata mereka adalah pemilik sepeda motor yang sedari tadi diperbaiki.

Tak lama berselang, sebuah mobil berhenti di samping kompresor. Dari atas mobil, turun seorang pria meminta bannya ditambahkan udara. Tanpa menunggu lama, si pria berbaju biru tadi langsung mengambil selang penambah angin yang berwarna kuning lalu memenuhi permintaan si pengendara mobil.

Saya pun menyudahi observasi petang itu dan kembali ke Kafe BrewBrothers dengan catatan hasil observasi di tangan. Namun, ada yang terlupakan. Tak ada sama sekali dokumentasi. Saya kembali ke tempat yang tadi dan berniat mengambil dokumentasi untuk kelengkapan observasi. Namun, melihat si pria sedang tak ada pelanggan, saya pun menghampirinya berniat mengobrol sejenak. Ketika mendekat, yang saya perhatikan pertama kali adalah teh dalam gelas yang ada di atas meja telah tandas. Ia melempar senyum dan memperlihatkan deretan giginya yang tersusun sama panjang. Saya menyapanya dan ia mempersilakan duduk di kursi kosong samping kursi yang ditempatinya. Saya pun mengungkapkan maksud kedatangan dan menanyakan identitasnya.

Setelah mengobrol selama ± 10 menit, saya pun tahu namanya. Pria itu bernama Irfan, seorang penambal ban, yang telah bekerja selama tiga tahun di tempat ini. Dengan pekerjaannya itu, Pak Irfan ̶ begitu saya menyapanya ̶ menghidupi seorang istri dan dua orang anak. Ia bekerja dari pukul 10.00 s.d. 22.00 WITA. Menurut pengakuannya, dalam sehari ia bisa membawa pulang ± Rp200.000,00.

***

Akhir pekan, saya melanjutkan observasi di tempat yang sama. Kali ini, saya tiba di sana pukul 13.40 WITA. Tempat itu sedang sepi. Tidak ada motor ataupun mobil yang berhenti. Pak Irfan sedang berteduh di bagian belakang yang dinaungi oleh sebuah gedung karena hari itu sedang turun hujan rintik. Saya melangkah menghampirinya dan bertanya, “Pak, masih ingat sama saya?” Ia menyunggingkan senyum dan menjawab bahwa dia masih ingat. Minggu siang itu, saya mendapati ia memakai pakaian yang senada, celana selutut, baju kaos, dan topi yang dikenakan, semuanya berwarna abu-abu. Melihat saya berdiri, ia memberikan kursi yang ia duduki dan mempersilakan untuk menempatinya lalu ia mengambil kursi lain.

Saya pun memulai percakapan dengan menanyakan apakah hari ini sudah banyak pengendara yang ia layani. Ia menjawab bahwa hari ini sedang sepi dan menjelaskan lebih lanjut bahwa jika hari hujan, ban kendaraan jarang ada yang bermasalah. Sambil mengobrol, Pak Irfan mengapit sebatang rokok dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sesekali ia menghisapnya sambil terus melanjutkan obrolan.

Sekitar pukul 14.00 WITA, ada seorang perempuan mengendarai motor minta bannya ditambahkan angin. Pak Irfan pun bergegas ke depan mengambil selang penambah angin. Ujung selangnya disambungkan ke pentil ban, setelah memeriksa ban sudah keras ia pun menarik tuas pengunci pentil. Ia menjelaskan kepada saya bahwa secara normal tekanan angin pada ban depan harus 35 dan ban belakang 40 yang ditunjukkan lewat kilometer yang ada pada selang penambah angin. Sambil menjelaskan, ia kembali mengambil rokok yang kedua dan menyalakan korek api.

Setengah jam kemudian, mobil berwarna silver berhenti. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil dan meminta bannya di-tubeless. Pak Irfan pun segera mengambil peralatan tubless yang ada di bawah meja persegi panjang. Peralatan itu tepat di dekat tabung gas . Selain itu, ia juga mengambil kaleng cat berisi air sabun yang ada di dekat kompresor. Lelaki paruh baya tadi turun dan memperhatikan bannya sedang di-tubeless. Ia berdiri di depan mobil yang ia kendarai sesekali memegang lututnya seperti sedang rukuk. Pukul 14.42 WITA ban mobil itu pun telah di-tubeless. Si lelaki mengeluarkan uang dari saku celananya dan menyerahkannya pada Pak Irfan.

Mobil berwarna silver telah di-tubeless dan kembali melaju. Pak Irfan yang telah menerima upah pergi entah ke mana dan tiba-tiba kembali dengan empat buah minuman yang dikemas dalam gelas di tangannya. Ia menawarkannya, tetapi hari itu saya sedang berpuasa. Ia meminum sendiri minuman yang telah dibelinya dan kembali menyalakan rokok ketiganya. Sementara itu, di seberang jalan terlihat kemacetan. Klakson saling bersahut-sahutan.
Pukul 15.40 WITA, saya merasa observasi hari ini sudah cukup dan hujan rintik-rintik telah berhenti. Saya pun berpamitan pulang, mengucapkan terima kasih, dan menjabat tangannya. Saat itu, ia masih menghisap rokok keempatnya sejak bertemu dengan saya.