Keseharian Seorang Penambal Ban


Petang itu, saya sejenak meninggalkan Kafe BrewBrothers  ̶tempat pertemuan keempat Kelas Menulis Kepo IV dilaksanakan  ̶menyusuri Jalan Kompleks Akik Hijau hingga sampai di Jalan Pengayoman, Panakkukang, Makassar. Saya disambut dengan kendaraan lalu lalang. Hujan rintik-rintik turut turun di petang ini mengiringi pengendara menembus jalan. Saya menoleh ke kanan dan kiri berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan objek observasi.

Mata saya terhenti di arah kiri dan tertuju pada lima buah ban yang ditumpuk secara vertikal. Tumpukan itu ditutup dengan ban yang arahnya berbeda dari tumpukan ban dan bertuliskan tambal ban tubles. Tulisan itu menggunakan warna putih kontras dengan warna ban tersebut. Di belakang tumpukan ban, ada spanduk persegi panjang dengan ukuran kira-kira 42 cm x 70 cm yang makna tulisannya senada dengan yang ada di ban tadi. Di sampingnya, ada mesin kompresor yang didominasi oleh warna jingga dan duduk dua orang perempuan berjilbab sedang mengobrol di belakang mesin kompresor itu. Di antara mesin kompresor dan dua orang perempuan berjilbab, terdapat gelas berisi teh yang diletakkan di atas meja berbentuk persegi panjang. Meja itu kira-kira berukuran 45 cm x 35 cm dan terbuat dari tripleks. Tingginya kira-kira selutut orang dewasa. Di kolong meja, terdapat tabung gas berwarna hijau. Di samping tabung gas itu, ada alat pres ban berwarna biru dan baskom hitam berisi air.

Seorang pria berbaju biru, bercelana jeans selutut dan bertopi abu-abu dengan kulit sawo matang sedang memperbaiki ban sepeda motor. Pria itu memegang benda bulat yang terbuat dari karet berwarna hitam pekat nan mulus. Ia memasukkan benda itu ke dalam baskom yang berisi air lalu mengangkat dan memperhatikannya. Setelah menemukan sesuatu yang bermasalah pada benda tersebut, si pria melekatkan sesuatu dan kembali memasangnya pada sepeda motor yang ada di depannya. Ia lalu mencuci tangan tanda sudah membereskan pekerjaannya dan siap-siap menerima upah. Kedua perempuan berjilbab itu pun membayar dan berlalu, ternyata mereka adalah pemilik sepeda motor yang sedari tadi diperbaiki.

Tak lama berselang, sebuah mobil berhenti di samping kompresor. Dari atas mobil, turun seorang pria meminta bannya ditambahkan udara. Tanpa menunggu lama, si pria berbaju biru tadi langsung mengambil selang penambah angin yang berwarna kuning lalu memenuhi permintaan si pengendara mobil.

Saya pun menyudahi observasi petang itu dan kembali ke Kafe BrewBrothers dengan catatan hasil observasi di tangan. Namun, ada yang terlupakan. Tak ada sama sekali dokumentasi. Saya kembali ke tempat yang tadi dan berniat mengambil dokumentasi untuk kelengkapan observasi. Namun, melihat si pria sedang tak ada pelanggan, saya pun menghampirinya berniat mengobrol sejenak. Ketika mendekat, yang saya perhatikan pertama kali adalah teh dalam gelas yang ada di atas meja telah tandas. Ia melempar senyum dan memperlihatkan deretan giginya yang tersusun sama panjang. Saya menyapanya dan ia mempersilakan duduk di kursi kosong samping kursi yang ditempatinya. Saya pun mengungkapkan maksud kedatangan dan menanyakan identitasnya.

Setelah mengobrol selama ± 10 menit, saya pun tahu namanya. Pria itu bernama Irfan, seorang penambal ban, yang telah bekerja selama tiga tahun di tempat ini. Dengan pekerjaannya itu, Pak Irfan ̶ begitu saya menyapanya ̶ menghidupi seorang istri dan dua orang anak. Ia bekerja dari pukul 10.00 s.d. 22.00 WITA. Menurut pengakuannya, dalam sehari ia bisa membawa pulang ± Rp200.000,00.

***

Akhir pekan, saya melanjutkan observasi di tempat yang sama. Kali ini, saya tiba di sana pukul 13.40 WITA. Tempat itu sedang sepi. Tidak ada motor ataupun mobil yang berhenti. Pak Irfan sedang berteduh di bagian belakang yang dinaungi oleh sebuah gedung karena hari itu sedang turun hujan rintik. Saya melangkah menghampirinya dan bertanya, “Pak, masih ingat sama saya?” Ia menyunggingkan senyum dan menjawab bahwa dia masih ingat. Minggu siang itu, saya mendapati ia memakai pakaian yang senada, celana selutut, baju kaos, dan topi yang dikenakan, semuanya berwarna abu-abu. Melihat saya berdiri, ia memberikan kursi yang ia duduki dan mempersilakan untuk menempatinya lalu ia mengambil kursi lain.

Saya pun memulai percakapan dengan menanyakan apakah hari ini sudah banyak pengendara yang ia layani. Ia menjawab bahwa hari ini sedang sepi dan menjelaskan lebih lanjut bahwa jika hari hujan, ban kendaraan jarang ada yang bermasalah. Sambil mengobrol, Pak Irfan mengapit sebatang rokok dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sesekali ia menghisapnya sambil terus melanjutkan obrolan.

Sekitar pukul 14.00 WITA, ada seorang perempuan mengendarai motor minta bannya ditambahkan angin. Pak Irfan pun bergegas ke depan mengambil selang penambah angin. Ujung selangnya disambungkan ke pentil ban, setelah memeriksa ban sudah keras ia pun menarik tuas pengunci pentil. Ia menjelaskan kepada saya bahwa secara normal tekanan angin pada ban depan harus 35 dan ban belakang 40 yang ditunjukkan lewat kilometer yang ada pada selang penambah angin. Sambil menjelaskan, ia kembali mengambil rokok yang kedua dan menyalakan korek api.

Setengah jam kemudian, mobil berwarna silver berhenti. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil dan meminta bannya di-tubeless. Pak Irfan pun segera mengambil peralatan tubless yang ada di bawah meja persegi panjang. Peralatan itu tepat di dekat tabung gas . Selain itu, ia juga mengambil kaleng cat berisi air sabun yang ada di dekat kompresor. Lelaki paruh baya tadi turun dan memperhatikan bannya sedang di-tubeless. Ia berdiri di depan mobil yang ia kendarai sesekali memegang lututnya seperti sedang rukuk. Pukul 14.42 WITA ban mobil itu pun telah di-tubeless. Si lelaki mengeluarkan uang dari saku celananya dan menyerahkannya pada Pak Irfan.

Mobil berwarna silver telah di-tubeless dan kembali melaju. Pak Irfan yang telah menerima upah pergi entah ke mana dan tiba-tiba kembali dengan empat buah minuman yang dikemas dalam gelas di tangannya. Ia menawarkannya, tetapi hari itu saya sedang berpuasa. Ia meminum sendiri minuman yang telah dibelinya dan kembali menyalakan rokok ketiganya. Sementara itu, di seberang jalan terlihat kemacetan. Klakson saling bersahut-sahutan.
Pukul 15.40 WITA, saya merasa observasi hari ini sudah cukup dan hujan rintik-rintik telah berhenti. Saya pun berpamitan pulang, mengucapkan terima kasih, dan menjabat tangannya. Saat itu, ia masih menghisap rokok keempatnya sejak bertemu dengan saya.

Iklan

One thought on “Keseharian Seorang Penambal Ban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s