Saya Merdeka Kok Ketika Maba

Bila membaca tulisan yang berjudul “Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa, juga untuk Maba” rasanya semua isinya adalah hal negatif tentang pengaderan. Sebagai mahasiswa yang menghabiskan waktu, di luar waktu kuliah, dengan mengikuti pengaderan, baik tingkat fakultas maupun tingkat jurusan di awal semester, ada beberapa hal yang saya kurang setuju dalam tulisan tersebut.

Pada paragraf pertama terdapat kata barbar yang ditulis dengan bar-bar. Kata barbar bukanlah sebuah kata ulang. Jadi, penulisannya ditulis serangkai tanpa tanda penghubung. Tentunya, saya tidak akan menyetujui perbuatan barbar dalam bentuk apa pun itu. Pasti semua orang tidak akan menyetujui perbuatan tersebut apalagi di negara demokrasi seperti ini.

Pada paragraf keempat terdapat kalimat “Saya yang juga datang dari jauh untuk kuliah, sudah merasakan betapa tahun pertama perkuliahan serupa neraka bagi saya.” Siapa sih yang tidak merasakan hal berat selama menjalani awal semester ditambah dengan mengikuti pengaderan? Saya pun juga merasakannya, tetapi saya tidak sendirian menjalaninya. Ada ratusan mahasiswa baru yang mengikutinya di fakultas saya. Ada puluhan mahasiswa baru yang menjalani hal tersebut khususnya di jurusan saya. Memang berat, tetapi karena  melakukannya bersama mereka maka tidak terasa berat lagi. Seperti filosofi sapu lidi. Ketika bersama kita akan kuat, tetapi jika sendiri akan mudah dipatahkan.

Di paragraf yang sama, terdapat pula kalimat, “Selesai kuliah tanpa jeda dikumpulkan, diteriaki, diperintah, dihajar secara psikis…..” Dulu setelah kuliah kami juga dikumpulkan, tetapi tidak digiring dan saya tidak pernah merasa seperti hewan gembala. Saya berjalan menuju area pengumpulan karena kemauan bukan paksaan. Memang berat ketika melakukan sesuatu hal dengan tekanan. Ketika pengumpulan pun tak sekadar berkumpul, tetapi pengaderan juga diisi dengan pemberian materi terkait himpunan atau apapun itu. Bahkan, ketika punya tugas kami dipersilakan untuk mengerjakannya di sana. Jika memang tidak setuju dengan jadwal pengumpulan tersebut, mengapa tidak berani memberikan pendapat? Kalau diam saja berarti sama saja dengan menyetujui jadwal pengumpulan yang telah ada atau telah dijadwalkan.

Pada kalimat lain terdapat kata dijajah. Nah,  penjajahan seperti apa yang dimaksudkan? Pada pengumpulan yang saya ikuti malah kami dimerdekakan dengan bebas mengemukakan pendapat. Pada masa pengumpulan, kami yang jumlahnya ± 40 orang dibagi menjadi beberapa kelompok dan harus mempresentasikan sebuah tema yang diberikan. Semua orang diberi kesempatan untuk berkomentar. Di situlah terjadi kemerdekaan bebas berpendapat.

“Suatu kali saya pulang dan melempar semua pernak-pernik bodoh, buku tanda tangan, menginjak-[ng]injaknya sambil berurai air mata, benci….” Saya juga punya buku tanda tangan. Bagi saya buku tanda tangan adalah salah satu jalan untuk mengakrabkan diri antara senior dan junior. Aneh saja, ketika satu jurusan dan tidak saling mengenal satu sama lain kan? Siapa tahu bertemu di jalan kan bisa saling bertegur sapa, kali aja ditraktir atau dibayarkan ongkos pete-pete, lumayanlah. Pada lembar terakhir, terdapat lembar kreasi yang bebas diisi apa saja. Rata-rata teman saya mengisinya dengan puisi. Hanya saya yang mengisinya dengan pantun.

“Saya lebih memilih bergabung di UKM, tempat dimana kami menemukan kehangatan pertemanan. Tanpa sekat, tanpa segan kepada yang lebih dulu lahir. Kami belajar menghormati dengan kasih sayang, bukan tekanan.” Dalam dua kalimat tersebut, ada kata dimana di tengah kalimat. Penempatannya kurang tepat. Kata di mana adalah jenis kata tanya, penempatannya di awal kalimat. Penulisannya pun dipisah, yaitu di mana. Di berfungsi sebagai kata depan yang harus dipisah penulisannya dari kata yang mengikutinya.

Di himpunan pun saya menemukan kehangatan pertemanan. Karena saya bersama mereka, saya bisa bertahan di jurusan yang telah memberi saya gelar sarjana sastra. Mereka jugalah yang membuat saya mengurungkan niat untuk mengikuti SBMPTN tahun 2012 silam padahal sudah di depan teller bank saat itu. Kami juga sering makan bersama-sama, baik saat pengumpulan maupun ketika menjadi pengurus himpunan. Di himpunan saya belajar menghargai bukan menghormati. Saya teringat ucapan salah satu senior yang bilang bahwa ia tidak butuh dihormati karena dia bukan bendera, tetapi ia minta dihargai.

Pengaderan adalah sebuah konsep dan realisasi yang selalu menghadirkan pro dan kontra. Semua hal tentu punya sisi positif dan negatif. Bergantung dari sisi mana kita memandangnya. Sebagai seseorang yang pernah mengikuti pengaderan, rasanya berdosa bila saya tidak mengemukakan hal positif yang saya dapatkan dari pengaderan yang saya ikuti. Karena pengaderanlah saya bisa sampai seperti ini sekarang.

Iklan

7 respons untuk ‘Saya Merdeka Kok Ketika Maba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s