Rupa Makassar dalam Telinga Palsu

Matahari tampak malu-malu memperlihatkan wajahnya hari ini. Di langit, tampak dominasi warna putih daripada warna biru. Namun, suhu tetap saja panas. Kipas angin masih setia menemani mengusir panas. Saya masih dalam tengkurap. Kepala masih tegak dan mata masih awas. Pulpen masih di tangan kanan bersiap mencatat jika ada kalimat-kalimat penting yang didapati dalam buku. Sesekali buku itu dalam posisi berbaring atau berdiri mengikuti kemauan si empunya. Buku itu sampulnya berwarna merah dengan tulisan Telinga Palsu sebagai judul, ditulis dengan tinta berwarna silver. Di bawah judul tersebut mengikut tulisan “100 literasi pilihan koran Tempo Makassar 2014 ̶ 2016.” Di samping semua tulisan itu, ada gambar yang memperlihatkan sebagian tubuh, yaitu kepala, kuping, leher, bahu, lengan, dan dada. Gambar tersebut berwarna hitam, kecuali bagian kuping. Gambarnya hanya diambil dari sudut kiri ketika saya memandangnya.

Membaca buku tersebut membuat saya menemukan beberapa literasi yang memperlihatkan rupa Kota Makassar. Penggambaran tersebut lebih merupakan keresahan yang dialami ketika menetap di salah satu kota besar ini. Beberapa tulisan yang saya maksudkan itu terdiri atas empat literasi dari tiga penulis. Keempat literasi ini merangkum kejadian-kejadian yang mewarnai kota ini yang sedikit banyak pernah pula saya alami. Mari menengok satu per satu tulisan yang saya maksudkan.

1.“Mahasiswa, Sang Penutup Jalan “ Karya Aslan Abidin

Aslan Abidin ̶ dalam tulisan ini ̶ menuliskan kelakukan mahasiswa ketika melakukan demonstrasi yang kerap menutup jalan umum. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman yang beliau alami di pekan kedua November 2014 di depan salah satu universitas swasta di Makassar. Beliau menganggap bahwa tindakan menutup jalan ketika berdemo adalah sebuah kekonyolan karena objek yang dituju dalam berdemonstrasi berada di ibu kota sana. Justru rakyat ̶ yang biasa diatasnamakan dalam demo ̶ yang dirugikan karena jalan ditutup sehingga menghambat aktivitas.

Beliau meragukan demonstrasi dengan penutupan jalan tersebut didasarkan pada pembelaan pada rakyat. Justru para demonstran dianggap sebagai agresor perampas hak jalan khalayak ramai. Ketika rakyat mulai melawan agresor, terjadilah tawuran antara mahasiswa dan masyarakat. Di lain sisi, bentrok mahasiswa dengan polisi yang berusaha membuka jalan juga pernah terjadi.

2. “Di Kota Ini, Anak Kita Bermain Api” Karya Anis Kurniawan

Dalam tulisan ini, Anis Kurniawan melihat ruang bermain yang tersedia di Makassar sangat kurang. Alhasil, tempat yang dijadikan anak untuk bermain adalah di jalan kompleks perumahan atau lorong-lorong yang tentu saja juga berfungsi sebagai jalan. Dengan tidak adanya sarana bermain, anak-anak akan di rumah bermain game melalui laptop, telepon seluler, atau playstation atau menonton televisi yang menyuguhkan program yang berbau kekerasan dan mistis, musik orang dewasa yang dilengkapi dengan goyangan, fashion, dan masih banyak lagi.

Anak-anak yang bermain di rumah akan terancam berjiwa kaku, egois, dan kehilangan kepekaan terhadap lingkungan. Hal itu bisa saja berimbas pada kesehatan mental dan fisik. Bukan hanya anak di kota yang mulai kehilangan tempat bermain. Namun, pola permainan anak di kampung sudah mulai bergeser pula ke game. Semua itu dimotori oleh teknologi. Beliau menyayangkan permainan seperti kelereng, petak umpet, wayang, layang-layang, perang-perangan, dan tali-temali kini sudah kurang diminati. Padahal, permainan-permainan tersebut memuat nilai-nilai seperti kebersamaan, kreativitas, keberanian, dan masih banyak lagi. Hal miris lainnya adalah Indonesia sebagai negara berkembang hanya memiliki ruang bermain anak rata-rata 2.000 meter persegi per anak, sedangkan Amerika dan Eropa yang merupakan negara maju memiliki sekitar 10.000 meter persegi per anak.

3. “Pengemis Profesional” Karya Shinta Febriany

Makassar sepertinya kota yang tidak luput dijamuri oleh pengemis. Dalam tulisan ini, Shinta Febriany pernah melihat seorang pengemis di depan sebuah toko. Namun, ia sangsi akan pengemis itu mengemis karena kelaparan dan kemiskinan.. Di tempat yang berbeda, ia pernah melihat pengemis dengan dandanan berbeda. Memakai baju koko, bersarung, dan berkopiah membawa celengan yang bertuliskan nama panti asuhan. Dia melihat ada tipu muslihat. Bukan tanpa alasan karena beberapa pengemis diberitakan memiliki kekayaan finansial. Mereka bisa memiliki sebuah mobil, rumah, dan kekayaan lainnya dengan mengemis. Kasus ini juga pernah dialami oleh Selandia Baru, tetapi bisa diatasi dengan kampanye yang berisi imbauan kepada warga kota agar berhenti memberi secara langsung kepada pengemis. Akan lebih baik jika diserahkan kepada lembaga amal. Di kota ini, beliau melihat bahwa kepengemisan terus berlangsung karena kita sebagai warga kota memberikan apa yang pengemis itu minta. Namun, sesungguhnya tindakan itu malah membuat kepengemisan semakin menjamur.

4. “Kota Sampah” Karya Shinta Febriany

Salah satu ikon kota Makassar adalah Pantai Losari. Dalam tulisan ini, Pantai Losari yang seharusnya menjadi kebanggaan warga Makassar dengan keindahan yang disuguhkan. Namun, dalam tulisan ini Pantai Losari memperlihatkan pemandangan yang jauh dari kata indah. Sampah-sampah banyak ditemukan di permukaan laut. Tak jauh berbeda dengan pelatarannya. Hal ini membuat Shinta Febriany merasa malu karena pada saat itu teman-temannya datang berkunjung ke Pantai Losari. Beragam peraturan telah dipasang. Namun, sayang sekali peraturan itu hanya pajangan karena tak dihiraukan oleh pengunjung. Ditambah lagi, kontainer sampah diletakkan di badan jalan, seberang rumah sakit. Tentu saja pemandangan ini menganggu, bahkan bisa membuat warga yang lewat terkena penyakit.

Beliau berharap membangun peradabann bisa dimulai dengan ajakan mencintai kota secara sungguh-sungguh sehingga menciptakan kota yang merdeka tanpa sampah ketimbang membangun peradaban Makassar lewat Pinisi dan gedung-gedung canggih seperti cita-cita Walikota yang disampaikan dalam pidatonya di sebuah perhelatan sastra.

Iklan

Gembira di Tengah Kemayaan Riang

Matahari pagi bersinar dengan terik di pukul 10.00 WITA. Matahari di hari Minggu ini cukup membuat kulit seakan tertusuk ketika menempuh perjalanan dari Jl. Adhyaksa, Panakkukang, Makassar menuju Jl. Perintis Kemerdekaan, Biringkanaya, Makassar. Namun, terik itu segera terganti dengan suasana sejuk dari pepohonan tatkala membelok ke kiri masuk ke sebuah kampus. Kira-kira 15 m dari jalan raya, terlihat gerbang bercat merah dengan tinggi kira-kira sama dengan dada orang dewasa seakan mengucapkan selamat datang. Gerbangya hanya sebagian yang terbuka, cukup untuk tiga motor lewat secara bersamaan. Di sisi kiri dari jalanan masuk, beberapa orang terlihat sedang duduk-duduk, beberapa orang lain berdiri dan yang lainnya terlihat memperhatikan rusa yang terkurung. Di sekitar orang-orang itu terlihat beberapa sepeda berdiri mematung tak dijamah oleh siapa pun.

Jalanan hanya memperlihatkan beberapa kendaraan lalu lalang. Motor pun dibelokkan ke arah kanan memasuki gedung yang bernama Gedung Pertemuan Alumni (GPA). Tak ada papan nama di depan gedung itu. Namun, begitulah gedung itu dinamai. Dari mahasiswa baru sampai sekarang jika menyebut GPA akan mengarah  ke gedung itu. Halaman gedung ini dilapisi dengan batako sekeras batok kepala. Motor pun di parkirkan di sisi kiri jalan masuk. Sudah ada beberapa motor yang terparkir terlebih dulu di sana. Tepat di bawah gedung terlihat tiga orang ̶ laki-laki dan perempuan ̶ sedang duduk di tangga gedung. Beberapa orang lain dalam posisi berdiri menghadap tiga orang tadi. Saya tebak yang duduk itu adalah senior dan yang berdiri adalah junior. Ketika melintas di belakang mereka ̶ menuju ke samping gedung ̶ terlihat tulisan di baju mereka “Fakultas Hukum”.

Di samping gedung itu, sudah ada sekumpulan anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak itu duduk di karpet, sedangkan orang dewasa terlihat berdiri di setiap sisi anak-anak tersebut. Di depan anak-anak itu berdiri seorang lelaki memakai kacamata, berbaju batik, dan bercelana panjang warna hitam sedang memegang kertas ukuran A4. Di samping kirinya ada banner bertuliskan KPAJ yang dilengkapi dua gambar berisi beberapa anak kecil juga beberapa tulisan lainnya. Namun, dari tulisan-tulisan tersebut yang terlihat jelas hanya tulisan KPAJ. KPAJ sendiri adalah kepanjangan dari Komunitas Pencinta Anak Jalanan. Komunitas ini sudah berdiri sejak tujuh tahun lalu. Para penggiat komunitas ini selalu melakukan kelas di hari Minggu setiap pukul 09.00 s.d. 11.00 WITA. Itulah pengetahuan awal saya tentang KPAJ melalui informasi yang saya dapatkan dari Tari ̶ salah satu anggota KPAJ yang juga pernah menjabat sebagai ketua ̶ yang sudah sejak masa kuliah berkecimpung di komunitas itu. Dia pulalah yang mengajak saya untuk melihat secara langsung kegiatan mereka di hari Minggu.

Pukul 10.23 WITA saya dan Tari baru tiba di sana. Alhasil hanya sebagian kegiatan yang bisa saya lihat. Kegiatan di hari itu adalah pelajaran menanam makanya anak-anak dan anggota komunitas itu sedang sibuk memotong dan melubangi botol minuman bekas yang akan difungsikan sebagai wadah menanam.  Botol-botol yang sudah digunting itu pun diisi dengan tanah.

“Adik-adik hari ini tanaman yang akan kita tanam adalah sayur sawi.” Terlihat seorang perempuan sedang berdiri memegang dua gelas plastik yang berisi bibit dan benih. Anak-anak memperhatikannya. “Karena benihnya tidak cukup makanya kita tanam bibitnya saja ya, tahu apa bedanya bibit sama benih?” perempuan itu melanjutkan.

“Tidak kak,” anak-anak menjawab serentak.

“Yang di tangan kiri kakak ini namanya benih, ini sudah ada kecambahnya. Yang di tangan kanan kakak ini yang ada airnya dan ada biji-bijinya itu namanya bibit. Kalau kita menanam bibit itu harus direndam dalam air dulu selama semalam.” Setelah penjelasan itu, ada lagi anak-anak yang bertanya tentang apa itu kecambah. Si perempuan terlihat mencari kosakata untuk memberikan pengertian tentang apa itu kecambah. Sepanjang penjelasan, ada beberapa istilah pertanian yang diungkapkan. Anak-anak kurang paham dengan istilah-istilah itu begitu pun dengan saya. Jadilah dia harus mencari kata-kata yang mudah diterima oleh anak-anak untuk menyampaikan maksud yang diinginkan. Terlihat pengurus KPAJ lainnya turut membantu memberikan pengertian kepada anak-anak.

Sebelum bibitnya disemai di atas wadah yang berisi tanah tadi, terlebih dahulu tanahnya dijenuhkan. “Adik-adik tahu dijenuhkan?”

“Jenuh itu bosan kak.”

Orang-orang yang mendengar jawaban tersebut pun tertawa

“Bukan, bukan itu dek, dijenuhkan maksudnya tanahnya diberi air dulu sebelum bibitnya disemai.”

“oh bilangki kak.”

Satu dua anak terlihat berlari ke danau untuk mengambil air untuk tanah yang akan dijenuhkan. Namun, seorang lelaki dengan sigap berlari menghalangi mereka. Anak-anak tidak dibiarkan mengambil air sendiri karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lagipula, air untuk keperluan penjenuhan sudah disiapkan oleh mereka.

Melihat antusias anak-anak mulai berkurang. Salah satu pengurus KPAJ meneriakkan yel-yel,

“Tepuk semangat,” diiringi dengan tepuk tangan sebanyak tiga kali yang membentuk bunyi prok prok prok.

“se,” diiringi dengan bunyi prok-prok-prok pula.

“ma,” masih diiringi dengan bunyi prok-prok-prok.

“ngat.” Sampai suku kata yang ketiga ini bunyi prok-prok-prok masih terdengar.

“Se…. mangat!!” Mereka pun kembali memperhatikan. Kegiatan menanam hari itu pun ditutup dengan penilaian kreasi wadah tanaman tiap-tiap kelompok.

Setelah menyelesaikan kegiatan menanam, tibalah waktu makan. Seorang anak lelaki berbaju kuning bertuliskan “I Love Makassar” mengacungkan jari telunjuknya ke atas melampaui kepalanya bersedia memandu teman-temannya membaca doa sebelum makan. Belakangan saya tahu namanya adalah Farel. Suara Farel terdengar cempreng, tetapi hal itu tidak menjadi perhatian teman-temannya. Doa dipandu Farel diikuti oleh teman-temannya. Suara mereka layaknya sebuah paduan suara.

Wal Asri innal insana….” Seorang anak membaca potongan surah Al-Ashr yang baisanya dijadikan doa untuk menutup kegiatan. Saya teringat waktu SD doa ini dilafalkan sebelum pulang setelah pelajaran Agama. Saya dan pengurus KPAJ yang mendengar lafal tersebut tertawa. Sontak mata kami langsung tertuju kepada anak tersebut. Anak itu ternyata disapa oleh teman-temannya dengan “Balanda”. Saya pikir itu hanya julukan yang diberikan untuknya. Kata Balanda sebenarnya berasal dari kata Belanda yang mengacu kepada orang berkulit putih yang pernah menjajah di Indonesia. Namun, anehnya julukan itu sangat kontras dengan warna kulitnya. Sapaan itu juga ternyata bukan julukan, tetapi memang nama aslinya. Setelah membaca doa, pengurus KPAJ pun membagikan lemper yang sedari tadi terbungkus rapi dalam kantong plastik.

“Sampahnya dikumpul di sini ya adek-adek.” Salah seorang perempuan melangkah ke tengah karpet  yang tengah diduduki oleh anak-anak sambil menaruh kantong plastik bening di tengah.

***

Anak-anak yang saya jumpai hari ini adalah anak-anak yang selalu saya ingin temui di tengah hiruk-pikuk gempuran teknologi sekarang ini. Anak-anak ini adalah anak-anak berbeda dengan yang sering saya temui di ruang-ruang kelas yang lekat dengan gawai masing-masing. Tertawa cekikikan atau terbahak-bahak karena melihat hal lucu yang ada di layar handphone masing-masing. Akan tetapi, anak-anak yang saya temui di Minggu pagi ini adalah anak-anak  tanpa gawai. Tertawa cekikikan dan terbahak-bahak karena tingkah laku orang-orang yang ada di sekitar. Mereka fokus dengan interaksi di dunia nyata. Beinteraksi dengan alam dan sesama.

Bahasa dan Kesalahan Kita

seputarpendidikan003.blogspot.com

Layar notebook berukuran 9 inchi masih menampilkan adegan di 01.10. 17. Tersisa dua menit lagi sebelum drama korea yang saya tonton itu berakhir.  Layar itu menampilkan perempuan berambut hitam sebahu menghampiri pria berambut belah tengah, berhidung mancung, dan berkulit putih tanpa bercak. Mereka bertatapan. Ada bulir bening di kedua mata mereka yang tak kunjung jatuh. Adegan ini adalah pertemuan sepasang kekasih yang telah lama berpisah dan akhirnya kembali bertemu. Suasana haru mengakhiri drama tersebut. Ada rasa bahagia yang terasa. Penantian sepi yang menusuk kini dibayar lunas oleh pertemuan.

Menengok jam yang ada di handphone ternyata sudah menunjukkan pukul 13.40 WITA, berarti saya harus bersiap-siap untuk pergi mengajar. Saya mulai dengan menyikat gigi. Kaki melangkah ke kamar mandi, saya melihat televisi tetangga sedang menyala. Seorang perempuan dalam televisi itu berdiri memegang mic seperti sedang melaporkan sesuatu. Saya tak acuh dan terus melanjutkan langkah ke kamar mandi.

“Sangat banyak sekali.” Frasa itu berasal dari televisi tetangga tadi. Mendengar frasa tersebut, kening saya langsung berkerut dan bibir menyeringai. Tangan mengambil keranjang tempat alat mandi dengan kasar. Melangkah masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, helm sikat gigi saya lepaskan dengan kasar pula. Sikat gigi saya pegang di tangan kanan lalu membuka tutup odol dan memencetnya. Meletakkan gumpalan putih di ujung sikat gigi, memasukkannya dalam mulut dengan gerakan naik turun dan keluar masuk dengan ritme cepat . Dalam hati, saya menggerutu. Bisa-bisanya dia mengucapkan frasa itu. Ingin sekali rasanya menghampiri dan mengatakan, “Eh frasa ‘sangat banyak sekali’ itu pemborosan. Kata ‘sangat dan sekali’ itu maknanya sama. Jadi pilih salah satu dari kata itu untuk menunjukkan sesuatu yang jamak. pake frasa ‘sangat banyak’ atau ‘banyak sekali’ saja gitu lho mbak.”

Akhir bahagia yang saya rasakan dari drama itu tidak bertahan lama. Ya, gara-gara mbak reporter tadi yang salah mengucapkan frasa. Memang, bahagia itu tak selamanya.

***

            Di lain tempat, waktu itu saya mengajar di Ganesha Operation (GO) ̶ salah satu tempat bimbingan belajar di Makassar ̶ cabang BTP di kelas tiga SMA. Di dalam ruangan, deretan kursi yang kira-kira berjumlah tiga puluh sudah diisi oleh beberapa orang secara acak. Deretan itu disusun menjadi tiga baris dan menghadap ke papan tulis. Barisan pertama dan kedua sengaja dikosongkan bagian tengahnya supaya difungsikan sebagai jalan. Ada dua AC yang ada di ruangan itu menghadap ke depan. Cukup membuat menggigil apabila kursi-kursi belum terisi semua. Di bagian kiri atas ada jam dinding, tetapi jam itu menunjukkan pukul 15.35 WITA tanda jam itu tak berfungsi sebagaimana mestinya. Di arah  kanan sudah tersedia sebuah kursi, tetapi arahnya berbeda dari kursi yang lain. Map, tempat pensil, buku EYD, dan buku koding ̶ semacam buku cetak seperti yang biasa dipakai di sekolah ̶ yang sedari tadi ada dalam pelukan, saya letakkan di kursi itu.

“Selamat sore,” sapa saya pada siswa-siswa

“Sore kak,” jawab mereka. Terlihat seragam masih melekat di tubuh mereka, satu orang menutupi seragam dengan mengenakan sweater. Yang lain tampak memakai baju kaos dengan paduan celana jeans sempit di bagian kaki. Saya pun menulis di papan tulis berbentuk persegi panjang yang sudah dibagi menjadi empat bagian. Menuliskan judul paket yang akan dipelajari sore itu.

“Sekarang kita sudah di paket dua ya, judulnya itu Keterampilan Berbahasa dan Karya Ilmiah, buka halaman 369 dek. Di bagian keterampilan berbahasa kita akan pelajari tentang surat undangan resmi, sedangkan di karya ilmiah akan dipelajari penulisan judul, daftar pustaka, dan kutipan.”

Adek-adek coba perhatikan bagian penutup suratnya, biasa orang gunakan ‘atas kehadirannya’ ya di surat. Itu salah dek ya. Mengapa? Karena surat itu komunikasi antara orang pertama dan orang kedua. Nah, -nya itu sama dengan dia. Dia itu orang keberapa? Orang ketiga toh? Jadi –nya keliru jika digunakan pada surat. Gunakan saja sapaan Bapak, Ibu, atau Saudara,” saya berusaha memberikan pemahaman kepada mereka.

Seseorang siswa menyeletuk, “Iye kak, nda boleh memang ada orang ketiga, apalagi dalam sebuah hubungan.”

Suasana kelas menjadi riuh dengan tawa.

***

“Mana Absen?” Tanya Fira, seorang siswa berkacamata dan berambut pendek sebahu sambil melirik ke kanan, kiri, dan ke belakang bergantian.

“Absen bede, apa artinya absen?” Tanya saya pada mereka.

Anu kak, tidak hadir,” seorang siswa yang memakai jilbab berwarna gold menjawab. Jilbab yang ia kenakan panjangnya menutupi dada sampai perutnya. Ia berada di samping kiri Fira

“Berarti salah dek Fira kalimatmu, masa kau bertanya ‘mana absen?’ kalau diganti kata absen jadi tidak hadir, berarti kalimatmu jadi ‘mana tidak hadir?’, padahal yang kauminta itu daftar hadir toh. Kalau minta daftar hadir bilang saja daftar presensi yang artinya daftar hadir atau bilang saja pake bahasa Indonesia, daftar hadir.” Jelas saya kepada mereka.

Terdengar suara percakapan Fira dengan teman di sampingnya, “Ih berarti salahki guruta selama ini.”

“Kak, yang mana benar merubah atau mengubah?” Terdengar pertanyaan dari seorang siswa laki-laki yang duduk di sudut kiri ruangan.

“Yang benar itu dek kata ‘mengubah’ dari kata dasar ubah. Kalau kata yang berawalan huruf vokal dan bertemu dengan imbuhan me- maka akan menjadi meng-. Kata ubah kan diawali dengan huruf u yang merupakan salah satu huruf vokal. Jadi, kalau ubah ditambah me- itu akan jadi mengubah. Sama dengan kata mengikut, kata dasarnya ikut lalu ditambahkan imbuhan me- jadinya mengikut. Kalau merubah itu tidak ada dalam kamus dek. Kalau rubah ada, rubah itu hewan. “

***

            Frasa dan kata di atas hanya sebagian besar dari kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam berkomunikasi. Padahal, pelajaran bahasa Indonesia sudah diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah. Pun semester satu di universitas kita masih belajar bahasa Indonesia. Bahkan, ada yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Lalu pantaskah kesalahan-kesalahan itu masih dilakukan? Mungkin selama ini kita terlalu acuh dengan bahasa kita sendiri.

Keseharian Seorang Penambal Ban


Petang itu, saya sejenak meninggalkan Kafe BrewBrothers  ̶tempat pertemuan keempat Kelas Menulis Kepo IV dilaksanakan  ̶menyusuri Jalan Kompleks Akik Hijau hingga sampai di Jalan Pengayoman, Panakkukang, Makassar. Saya disambut dengan kendaraan lalu lalang. Hujan rintik-rintik turut turun di petang ini mengiringi pengendara menembus jalan. Saya menoleh ke kanan dan kiri berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan objek observasi.

Mata saya terhenti di arah kiri dan tertuju pada lima buah ban yang ditumpuk secara vertikal. Tumpukan itu ditutup dengan ban yang arahnya berbeda dari tumpukan ban dan bertuliskan tambal ban tubles. Tulisan itu menggunakan warna putih kontras dengan warna ban tersebut. Di belakang tumpukan ban, ada spanduk persegi panjang dengan ukuran kira-kira 42 cm x 70 cm yang makna tulisannya senada dengan yang ada di ban tadi. Di sampingnya, ada mesin kompresor yang didominasi oleh warna jingga dan duduk dua orang perempuan berjilbab sedang mengobrol di belakang mesin kompresor itu. Di antara mesin kompresor dan dua orang perempuan berjilbab, terdapat gelas berisi teh yang diletakkan di atas meja berbentuk persegi panjang. Meja itu kira-kira berukuran 45 cm x 35 cm dan terbuat dari tripleks. Tingginya kira-kira selutut orang dewasa. Di kolong meja, terdapat tabung gas berwarna hijau. Di samping tabung gas itu, ada alat pres ban berwarna biru dan baskom hitam berisi air.

Seorang pria berbaju biru, bercelana jeans selutut dan bertopi abu-abu dengan kulit sawo matang sedang memperbaiki ban sepeda motor. Pria itu memegang benda bulat yang terbuat dari karet berwarna hitam pekat nan mulus. Ia memasukkan benda itu ke dalam baskom yang berisi air lalu mengangkat dan memperhatikannya. Setelah menemukan sesuatu yang bermasalah pada benda tersebut, si pria melekatkan sesuatu dan kembali memasangnya pada sepeda motor yang ada di depannya. Ia lalu mencuci tangan tanda sudah membereskan pekerjaannya dan siap-siap menerima upah. Kedua perempuan berjilbab itu pun membayar dan berlalu, ternyata mereka adalah pemilik sepeda motor yang sedari tadi diperbaiki.

Tak lama berselang, sebuah mobil berhenti di samping kompresor. Dari atas mobil, turun seorang pria meminta bannya ditambahkan udara. Tanpa menunggu lama, si pria berbaju biru tadi langsung mengambil selang penambah angin yang berwarna kuning lalu memenuhi permintaan si pengendara mobil.

Saya pun menyudahi observasi petang itu dan kembali ke Kafe BrewBrothers dengan catatan hasil observasi di tangan. Namun, ada yang terlupakan. Tak ada sama sekali dokumentasi. Saya kembali ke tempat yang tadi dan berniat mengambil dokumentasi untuk kelengkapan observasi. Namun, melihat si pria sedang tak ada pelanggan, saya pun menghampirinya berniat mengobrol sejenak. Ketika mendekat, yang saya perhatikan pertama kali adalah teh dalam gelas yang ada di atas meja telah tandas. Ia melempar senyum dan memperlihatkan deretan giginya yang tersusun sama panjang. Saya menyapanya dan ia mempersilakan duduk di kursi kosong samping kursi yang ditempatinya. Saya pun mengungkapkan maksud kedatangan dan menanyakan identitasnya.

Setelah mengobrol selama ± 10 menit, saya pun tahu namanya. Pria itu bernama Irfan, seorang penambal ban, yang telah bekerja selama tiga tahun di tempat ini. Dengan pekerjaannya itu, Pak Irfan ̶ begitu saya menyapanya ̶ menghidupi seorang istri dan dua orang anak. Ia bekerja dari pukul 10.00 s.d. 22.00 WITA. Menurut pengakuannya, dalam sehari ia bisa membawa pulang ± Rp200.000,00.

***

Akhir pekan, saya melanjutkan observasi di tempat yang sama. Kali ini, saya tiba di sana pukul 13.40 WITA. Tempat itu sedang sepi. Tidak ada motor ataupun mobil yang berhenti. Pak Irfan sedang berteduh di bagian belakang yang dinaungi oleh sebuah gedung karena hari itu sedang turun hujan rintik. Saya melangkah menghampirinya dan bertanya, “Pak, masih ingat sama saya?” Ia menyunggingkan senyum dan menjawab bahwa dia masih ingat. Minggu siang itu, saya mendapati ia memakai pakaian yang senada, celana selutut, baju kaos, dan topi yang dikenakan, semuanya berwarna abu-abu. Melihat saya berdiri, ia memberikan kursi yang ia duduki dan mempersilakan untuk menempatinya lalu ia mengambil kursi lain.

Saya pun memulai percakapan dengan menanyakan apakah hari ini sudah banyak pengendara yang ia layani. Ia menjawab bahwa hari ini sedang sepi dan menjelaskan lebih lanjut bahwa jika hari hujan, ban kendaraan jarang ada yang bermasalah. Sambil mengobrol, Pak Irfan mengapit sebatang rokok dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sesekali ia menghisapnya sambil terus melanjutkan obrolan.

Sekitar pukul 14.00 WITA, ada seorang perempuan mengendarai motor minta bannya ditambahkan angin. Pak Irfan pun bergegas ke depan mengambil selang penambah angin. Ujung selangnya disambungkan ke pentil ban, setelah memeriksa ban sudah keras ia pun menarik tuas pengunci pentil. Ia menjelaskan kepada saya bahwa secara normal tekanan angin pada ban depan harus 35 dan ban belakang 40 yang ditunjukkan lewat kilometer yang ada pada selang penambah angin. Sambil menjelaskan, ia kembali mengambil rokok yang kedua dan menyalakan korek api.

Setengah jam kemudian, mobil berwarna silver berhenti. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil dan meminta bannya di-tubeless. Pak Irfan pun segera mengambil peralatan tubless yang ada di bawah meja persegi panjang. Peralatan itu tepat di dekat tabung gas . Selain itu, ia juga mengambil kaleng cat berisi air sabun yang ada di dekat kompresor. Lelaki paruh baya tadi turun dan memperhatikan bannya sedang di-tubeless. Ia berdiri di depan mobil yang ia kendarai sesekali memegang lututnya seperti sedang rukuk. Pukul 14.42 WITA ban mobil itu pun telah di-tubeless. Si lelaki mengeluarkan uang dari saku celananya dan menyerahkannya pada Pak Irfan.

Mobil berwarna silver telah di-tubeless dan kembali melaju. Pak Irfan yang telah menerima upah pergi entah ke mana dan tiba-tiba kembali dengan empat buah minuman yang dikemas dalam gelas di tangannya. Ia menawarkannya, tetapi hari itu saya sedang berpuasa. Ia meminum sendiri minuman yang telah dibelinya dan kembali menyalakan rokok ketiganya. Sementara itu, di seberang jalan terlihat kemacetan. Klakson saling bersahut-sahutan.
Pukul 15.40 WITA, saya merasa observasi hari ini sudah cukup dan hujan rintik-rintik telah berhenti. Saya pun berpamitan pulang, mengucapkan terima kasih, dan menjabat tangannya. Saat itu, ia masih menghisap rokok keempatnya sejak bertemu dengan saya.

Refleksi Tulisan Pertama di Kelas Menulis Kepo Angkatan IV

Saya memulai hari ini seperti biasa, bangun terlambat. Begitulah yang saya alami beberapa hari belakangan ini. Maklum saja, saya baru bisa tidur pukul 03.00 WITA dini hari ditambah sedang tidak melaksanakan salat makanya terlambat bangun. Tak ada yang istimewa, aktivitas tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, yaitu bangun pagi, mandi, sarapan, dan lain-lain. Namun, perasaan agak berbeda hari ini. Saya selalu deg-degan sepanjang hari. Penyebabnya tak lain adalah gara-gara Kelas Menulis Kepo. Lho, apa hubungannya? Tentu saja ada hubungannya. Hari ini, 17 Februari 2017 adalah pertemuan ketiga Kelas Menulis Kepo Angkatan IV yang akan membahas tulisan yang dijadikan tugas pertama dan telah dipublikasikan di blog peserta masing-masing. Dalam kepala saya, sudah timbul bayangan komentar-komentar yang akan saya terima.

Pertemuan ketiga tersebut akan dilaksanakan pukul 17.00 WITA di Kafe Brew Brothers Coffe Shop kawasan Ruko Akik Hijau, Panakkukang, Makassar, tempat yang sama di pertemuan pertama dan kedua. Pukul 16.05 WITA, saya sudah berangkat menuju lokasi pertemuan dan tiba di kafe pukul 16.58 WITA. Saya mengira sudah ada peserta lain yang hadir, tetapi ternyata belum ada seorang pun. Saya kembali menjadi orang pertama yang datang. Di pertemuan sebelumnya pun begitu. Beberapa menit kemudian, datanglah Kak Hasymi dan Hamid ̶ yang merupakan peserta dari kelas menulis ini ̶ disusul Kak Fadli ̶ peserta kelas menulis yang disepakati menjadi ketua kelas ̶ . Kak Fadli mengeluarkan map batik berwarna coklat yang berisi daftar hadir peserta Kelas Menulis Kepo Angkatan IV. Sambil membuka map tersebut, dia pun berkata dengan santainya, “Irma, pegangmi daftar hadir nah, jadi sekretarismi.” Kak Hasymi dan Hamid pun tak menolak. Bahkan, Hamid pun menambahkan bahwa saya pernah menjadi sekretaris. Pernyataan tersebut membuat tak ada lagi alasan untuk menolak. Ini adalah penunjukkan mutlak, sesuatu yang tidak bisa ditolak. Kasusnya sama dengan penunjukkan Kak Fadli sebagai ketua kelas di pertemuan pertama. Tidak ada pertanyaan tentang kesediaan si calon.

Sebelum kelas dimulai, Oppa Lebug ̶ salah satu fasilitator kelas Kepo ̶ memberikan hadiah notebook kepada saya dan Citra  ̶ merupakan peserta dari kelas menulis ini juga ̶  yang tulisan tentang deskripsi Oppa Lebug terpilih. Tentu saja, senang mendapatkan hadiah tersebut. Kelas pun dibuka oleh Kak Nunu  ̶  salah satu pendamping kelompok di kelas menulis ini ̶ dan diawali dengan pertanyaan mengenai kesulitan dalam menyelesaikan tugas pertama. Setiap orang diberikan kesempatan untuk menjawab. Setelah itu, refleksi tulisan pun dimulai.

Tulisan yang akan dievaluasi seharusnya berjumlah lima belas, tetapi salah satu peserta tidak bisa hadir. Akhirnya, pertemuan kali ini hanya akan mengevaluasi empat belas tulisan. Sebagian peserta terlihat biasa saja dan sebagian lain terlihat deg-degan menantikan giliran tulisannya akan dievaluasi, tak terkecuali saya. Akhirnya, terpilihlah tulisan pertama yang akan dievaluasi kali ini, yaitu tulisan kak Baizul. Tulisan itu pun dibuka di https://baizulzaman.wordpress.com/2017/02/15/kamera-pertamaku-yang-dicuri-orang/. Setiap orang yang ingin menyampaikan komentar tentang tulisan tersebut dipersilakan. Saya pun tak ketinggalan memberikan komentar tentang penggunaan ejaan dan kata baku. Mulai dari penulisan kata hubung, kata depan, kata serapan, huruf miring, dan sebagainya.  Entah mengapa ketika melihat kalimat atau kata yang salah, dorongan dalam hati sangat kuat untuk menyampaikan kesalahan tersebut.

Hampir di setiap tulisan selalu ada komentar yang saya lontarkan. Oleh karena itu, tulisan saya menjadi tulisan paling buntut untuk dievaluasi. Perasaan deg-degan pun menghampiri karena khawatir akan banyak kesalahan (terutama ejaan) dalam tulisan. Sampai akhirnya, tulisan terakhir pun dikomentari. Tulisan dibuka di www.cecein.wordpress.com/2017/02/15/buku-puisi-dan-perihal-jatuh-cinta/. Oppa Lebug menemukan kesalahan dalam tulisan tersebut. Penulisan kata dan yang salah. Kata tersebut berada di awal kalimat. Padahal, dikomentar yang saya lontarkan tadi, kata tersebut tidak boleh berada di awal kalimat. Kata dan merupakan konjungsi intrakalimat yang menghubungkan antara klausa yang satu dan klausa yang lain. Tentu saja posisinya ada di tengah kalimat, bukan di awal kalimat.

Penggunaan kata saya juga terlalu banyak dan dianggap boros. Selain itu, penggunaan hehehe sebaiknya dikurangi. Biarkan pembaca tertawa sendiri membaca tulisan tersebut karena akan aneh apabila menulis hehehe dalam tulisan dan ternyata orang yang membacanya tidak tertawa. Itu saran yang diberikan oleh kak Iyan ̶ salah satu fasilitator juga di kelas menulis ini ̶. Bagian lain yang dikomentari kak Iyan adalah pernyataan “… bentuk buku yang tidak terlalu besar.” Pernyataan tersebut kurang jelas karena tidak disebutkan pembandingnya buku yang seperti apa yang menjadi alasan mengatakan buku tersebut tidak terlalu besar. Kita bisa mengetahui sesuatu itu besar atau kecil jika ada pembandingnya. Saran yang diberikan oleh Daeng Ipul ̶ merupakan salah satu fasilitator juga di kelas menulis ini ̶ mengenai hal tersebut adalah dituliskan saja berapa ukuran kertas yang dipakai buku itu. Dengan adanya ukuran kertas, pernyataan akan akan memuat fakta dan pembaca diberikan kebebasan untuk menilai apakah buku itu besar atau kecil.

Klausa Kak Aan pun tak luput dari komentar. Daeng Ipul mengatakan jika ingin menggunakan klausa tersebut seharusnya dijelaskan dulu di paragraf sebelumnya. Terlihat aneh jika di paragraf sebelumnya  saya menyebut nama lengkap penulis (M. Aan Mansyur) kemudian di paragraf selanjutnya tiba-tiba tertulis hanya Kak Aan.

Sedikit tahu tentang aturan penulisan bahasa baku bukan berarti tulisan yang kita buat luput dari kesalahan. Saya pun masih belajar. Semoga dengan komentar-komentar yang diberikan membuat tulisan-tulisan ke depannya lebih baik.

Buku Puisi dan Perihal Jatuh Cinta


Puisi atau Novel. Ketika disuruh memilih untuk membaca puisi atau novel, mungkin sebagian orang (termasuk saya) lebih memilih untuk membaca novel. Salah satu alasannya karena novel berbentuk cerita yang tentu penokohan dan alurnya lebih kompleks dalam menyampaikan makna dibandingkan puisi. Karena hal tersebut, novel lebih banyak saya baca dibandingkan buku kumpulan puisi. Jika menghitung novel dan buku kumpulan puisi yang saya miliki, pasti novellah yang menang banyak.

Aktivitas membaca puisi sebenarnya suka saya lakukan, tetapi hanya membaca beberapa puisi yang saya suka, tidak pernah fokus membaca satu kumpulan puisi. Namun, dua tahun belakangan ini, saya jatuh cinta *eh pada sebuah buku kumpulan puisi. Buku kumpulan puisi tersebut judulnya adalah Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia karya M. Aan Mansyur.

Buku kumpulan puisi tersebut memiliki ± 78 jumlah halaman dengan bentuk buku yang tidak terlalu besar. Hal ini membuat saya mudah untuk membawanya ke mana saja walaupun memakai tas kecil. Selain itu, yang membuat saya jatuh cinta pada buku kumpulan puisi tersebut adalah puisi-puisi yang ada di dalamnya. Puisi-puisi tersebut berjudul “Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia”, “Sepasang Baju Penghangat”, dan “Surat Cinta yang Ganjil”. Ketiga puisi itu menjadi andalan saya di dalam buku kumpulan puisi tersebut. Ada baiknya kalau saya membagi isi yang saya dapatkan dari ketiga puisi tersebut supaya rasa penasaranmu hilang dan alasan jatuh cinta saya jelas, hehehe.

Puisi “Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia” adalah puisi favorit saya. Puisi ini terletak di halaman pertama. Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang hanya memikirkan satu orang (mungkin pacar) di dalam hidupnya. Kak Aan menganalogikan kepala yang tak pernah berhenti memikirkan seseorang dengan sebuah kantor yang tak pernah berhenti bekerja walaupun hari libur.

ya, percayalah. kepalaku: kantor paling sibuk di dunia.

anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.

 engkau saja.

Kutipan di atas menggunakan kata-kata yang sederhana. Tidak ada kata asing bagi telinga kita. Namun, kak Aan mengemasnya dengan sangat menarik. Saya membayangkan si aku yang dipenuhi dengan pikiran tentang pekerjaan yang harus segera diselesaikan, tentang rekan kerja yang menyebalkan, tentang menu makan siang yang membingungkan untuk dipilih. Namun, gara-gara seseorang (si engkau), pikiran-pikiran tersebut pun hilang berganti dengan pikiran  tentang si engkau. Siang dan malam selalu memikirkan si engkau. Akhirnya kepala si aku layaknya kantor tersibuk yang buka 24 jam seperti minimarket dan UGD.

Puisi ini juga menggambarkan perasaan yang mendalam. Setia, itulah perasaan mendalam yang saya maksudkan. Si aku hidup di dunia yang dipenuhi oleh miliaran manusia, bertemu dengan banyak orang setiap harinya, tetapi kepala si aku hanya didominasi oleh si engkau. Tidak ada tempat untuk orang lain dan tidak ada waktu memikirkan orang lain. Setia bukan? Zaman sekarang sulit/langka menemui seseorang yang setia. Jika kamu mendapatkan sesuatu yang langka, itu akan membekas dalam ingatanmu, bukan? Akan meninggalkan kesan yang mendalam.

Jika kamu punya pacar, puisi tersebut jangan dibacakan dulu kalau kamu belum siap menikah hehehe. Atau kalau pacarmu sedang marah coba bacakan bait di atas, mungkin marahnya akan reda.

Puisi yang berjudul “Sepasang Baju Penghangat” ada pada halaman delapan belas. Puisi ini juga adalah salah satu puisi menarik yang pernah saya baca. Sebenarnya, tokoh (aku) dalam puisi ini hanya mau mengatakan bahwa dia merindukan dan ingin memeluk si kamu. Namun, cara penyampaiannya tidak biasa karena dengan cara mengambinghitamkan baju penghangat. Kalau tidak percaya lihat saja kutipan puisi tersebut di bawah ini:

di lemariku ada satu baju penghangat 

yang bagian dalamnya rindu memeluk 

tubuhku dan bagian luarnya rindu dipeluk

tubuhmu

Puisi tersebut boleh dibacakan untuk pacarmu, tetapi jangan mempraktikkannya ya, kan belum muhrim, hehehe.

Puisi terakhir berjudul “Surat Cinta yang Ganjil” ini ada di halaman 21 ̶ 22. Di halaman 21 ada 25 baris. Setiap barisnya diberi nomor dari 1 ̶ 25. Jika kita baca baris pertama sampai terakhir, puisi tersebut bermakna perpisahan dan kebencian. Namun, ingat ya judulnya adalah “Surat Cinta yang Ganjil” jadi saya hanya membaca baris yang bernomor ganjil. Maknanya sangat berbeda ketika membaca semua baris. Ini serius. Tidak percaya? Silakan dibaca.

Karena menyukai beberapa puisi di dalamnya, buku ini sering saya bawa ke mana-mana. Ketika bertemu teman, saya membawanya untuk berjaga-jaga apabila saya harus menunggu. Membaca puisi di dalam buku tersebut membuat saya tidak bosan  dan jengkel menunggu karena saya selalu membayangkan bahwa si engkau dalam puisi “Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia” adalah saya. Saya yang terus dipikirkan orang lain. Saya menjadi dominan dalam kepala orang tersebut. Membayangkannya saja saya sudah bahagia. Seketika bosan dan jengkel berubah jadi bahagia. Buku ini adalah moodboster.

Saat saya sedih, merasa tidak ada yang peduli dengan saya buku ini selalu ada. Ketika membaca buku ini (khususnya puisi “Surat Cinta yang Ganjil”) saya merasa bahwa di tempat yang jauh ada seseorang yang peduli dan menyayangi serta mengharapkan kebahagiaan saya. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk bersedih.

Saat senang pun, seperti saat selesai makan atau saat tulisan telah diposting di blog, buku ini juga selalu ada. Membaca buku ini (khususnya puisi “Sepasang Baju Penghangat”) saya merasa bersyukur karena saya masih bisa makan dengan baik dan menyelesaikan tulisan dibandingkan si aku dalam puisi tersebut yang sedang merindukan seseorang. Sungguh, makan dengan perasaan merindukan orang lain itu tidak enak.

Bukankah kita akan bahagia apabila seseorang atau sesuatu yang dicintai selalu ada bersama kita dalam keadaan apa pun? Dan buku ini selalu ada. Jadi, saya sudah bahagia. Lalu, apalagi yang saya cari? Ya, tinggal pembaca puisinya yang mesti saya cari hehe.

Perkataan dan Pemikiran (yang Sempit)

​Kata-kata selalu punya dua sisi,sisi negatif dan sisi positif, bergantung yang mendengar memaknainya. Jika kata-kata dianggap sebagai tantangan atau pemacu untuk menjadi lebih baik berarti kata-kata tersebut dipandang sebagai sisi yang positif. Akan tetapi, jika kata-kata tersebut dianggap sebagai celaan atau hinaan berarti itu dipandang dari sisi negatif.
Kebanyakan (dari kita) memandang kata-kata yang menunjukkan kelemahan diartikan sebagai hinaan. Orang yang mendengarnya pun akan tersinggung dan langsung mengomentari perkataan kita. Jika berlarut-larut dan tidak ada yang mau mengalah, terjadilah pertengkaran.
Sebenarnya, jika ingin menyampaikan kelemahan seseorang tentunya haruslah disertai dengan solusi, itulah pengertian kritik sebenarnya. Kemudian, si yang dikritik juga harus bisa melihat perkataan tersebut dari sisi yang lebih luas. Bukan hanya melihat dari sisi yang negatif. Pasti  jika kita memandang kata-kata (yang menunjukkan kelemahan) tersebut dari sisi positif, 
reaksinya akan berbeda tentunya.
Semalam, ada kejadian yang menempatkan saya sebagai orang yang memberikan hinaan, terlebih memberi hinaan terhadap pekerjaan orang tersebut. Namun, saya tidak pernah berpikir dan tidak berhak menghina pekerjaan orang lain. Mungkin, perkataan saya dilihat dari sisi negatif. Alhasil, saya dipandang meremehkan dan menghina. Saya pun tidak membenarkan diri saya karena saya memberikan kritik tidak disertai dengan solusi. Akan tetapi, saya hanya ingin kata-kata saya dipandang dari sisi positif. Sama halnya, saya memandang kata-kata orang lain. Namun, tentunya saya tidak bisa menyamakan cara pandang saya dengan orang lain.

Dunia terlalu luas untuk pemikiran sempit kita, guys.

Menjadi Lebih Berani

Kata tidak adalah salah satu bentuk perlawanan. Ketika mengatakan kata tidak berarti kita menolak, tidak setuju, atau melawan pernyataan sebelumnya. Sekali-kali kita butuh untuk menolak, tidak setuju, bahkan menolak. Hal itulah yang coba saya lakukan. Mencoba menolak tawaran anak kecil yang menawarkan tisunya ketika saya akan pulang dari daerah Bumi Tamalanrea Permai (BTP). Sebenarnya saya ingin membelinya karena kasian dan tisu di kost juga sudah hampir habis. Akan tetapi, saya menyadari bahwa persediaan uang saya sudah menipis. Jika saya membeli tisu itu dan menghabiskan uang mingguan saya, apa yang harus saya lakukan untuk beberapa hari ke depan? Akhirnya, saya pun menolak membeli tisu tersebut. Saya teringat kalimat dalam drama The Legend of The Blue Sea yang dikatakan oleh Heo Joon Jae, kurang lebih dia bilang begini, “Khawatirkan dirimu sendiri sebelum mengkhawatirkan orang lain.” Dan saya sepakat.

Menunjukkan kelemahan seseorang bukanlah perkara yang mudah. Butuh keberanian untuk melakukannya. Hari ini tiba-tiba saja saya merasa berkewajiban untuk menunjukkan kesalahan tajwid oleh teman yang menjadi imam pada waktu salat Maghrib. Ada kesalahan pada saat dia membaca an’amta. Dia membacanya dengan berdengung. Padahal, hukum tajwid pada kata tersebut adalah idzhar (jelas dan terang) yang berarti tidak didengungkan. Itulah yang saya ketahui dan saya menyampaikannya kepadanya. Tentunya tidak di depan banyak orang karena saya masih ingat perkataan Imam Ibnu Hibban yang mengatakan bahwa menasihati jika dilakukan secara rahasia berarti memperbaiki dan kemungkinan diterima nasihat tersebut lebih besar. Hasilnya, teman saya berterima kasih atas apa yang saya beritahukan padanya. Dan saya senang.

Satu hari mungkin tidak cukup dengan dua keberanian saja. Butuh lebih banyak tindakan berani lainnya di hari-hari selanjutnya.

Jangan Lupa Bahagia dan Jangan Lupa Lebih Berani.

Mengenal dan Mengenang Prof. A. Amiruddin

Di Tulisan sebelumnya, saya telah menyinggung nama Prof. A. Amiruddin. Salah satu mantan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) yang memiliki sikap to’do’puli. Beliau menjabat sebagai rektor keenam pada tahun 1973 s.d. 1982 dan juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan ke-4. Tentunya beliau bukan orang biasa. Selain pernah menjadi orang nomor satu di Unhas, beliau juga pernah menjadi orang nomor satu di Sulawesi Selatan. Selain itu, masih banyak pencapaian-pencapaian beliau yang belum saya sebutkan.

Orang sehebat Prof. A. Amiruddin punya sisi yang menarik. Sisi menarik tersebut diceritakan oleh seorang dosen pada saat memberikan mata kuliah. Cerita (berdasarkan pengalaman) itu disampaikan selang beberapa minggu kepergiannya. Cerita ini disampaikan (barangkali) untuk mengenang Prof. A. Amiruddin semasa hidupnya. Cerita ini terjadi ketika seorang dosen (Drs. H.M Dahlan Abubakar, M.Hum) yang sempat bersama beliau menghadiri perayaan Penerbitan Kampus (PK) Identitas.

Hari itu, Drs. H.M. Dahlan Abubakar, M.Hum., (atau biasa dipanggil Pak Dahlan oleh mahasiswa) ke rumah Prof. A. Amiruddin untuk menjemput beliau di rumahnya tepatnya di Jl. Hertasning untuk menghadiri perayaan ulang tahun Penerbitan Kampus (PK) Identitas. Sesudah Maghrib pun mereka siap-siap berangkat ke tempat acara tersebut. Ketika membuka pintu, Prof Amiruddin bertanya, “Siapa yang bawa mobil? Pak Dahlan pun menjawab,“Saya sendiri Prof.” Prof. Amiruddin pun langsung menjawab, “Oh baiklah, saya duduk di depan kalau begitu.” Pak Dahlan pun berpikiran kok mau-maunya ya seorang mantan rektor dan mantan gubernur menumpang Mercy keluaran 2003. Selama di perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka. Pak Dahlan tidak berani membuka diskusi.

Akhirnya, mereka pun tiba di tempat acara pukul 19.30 Wita. Di tempat tersebut, hadir juga Rektor dan Wakil Rektor III Unhas. Prof. Amiruddin pun menyantap makan malam di barisan kursi depan bersama dengan rektor dan wakil rektor III. Sebelum acara selesai, Pak Dahlan pun membisiki Prof. Amiruddin untuk pulang. Mereka pun keluar ke tempat parkir menuju mobil yang mereka kendarai. Tiba-tiba dari arah belakang, Pak rektor bertanya kepada Prof. Amiruddin,“Prof siapa yang antar?” Prof. Amiruddin pun menjawab, “Itu ada sopir saya.” Pak Dahlan pun langsung menambahkan, “Saya Prof, kapan lagi menjadi sopir mantan rektor dan mantan gubernur.” Prof Amir pun langsung tertawa.

Memaknai cerita tentang Prof. Amiruddin di atas, saya belajar tentang kesederhanaan seseorang yang luar biasa dan kedekatan seorang (mantan) pemimpin dengan orang lain. Barangkali, hal itu bisa diteladani.

To’do’puli dan Lima Tokoh yang Mempraktikkannya

Berdomisili di Makassar? Pasti pernah dengar kata To’do’puli kan? Mendengar kata tersebut, kita akan teringat sebuah jalan, ya Jl. Toddopuli yang berjumlah sampai sepuluh. To’do’puli bukan hanya nama sebuah jalan. Akan tetapi, kata To’do’puli adalah sebuah nilai/sikap yang dipegang teguh oleh para tokoh/pemimpin terdahulu.

To’do’puli atau bersatunya kata dengan perbuatan tidak hanya dikenal dalam masyarakat Makassar. Masyarakat Bugis juga sangat akrab dengan kata sifat yang satu ini,  mereka menyebutnya dengan sebutan getteng yang berarti teguh berpegang pada prinsip kebenaran). Selain berarti teguh, kata ini pun berarti tetap asas atau setia pada keyakinan, atau kuat dalam pendirian, erat memegang sesuatu. Tociung menyatakan bahwa ada empat perbuatan nilai keteguhan. (a) tak mengingkari janji, (b) tak mengkhianati kesepakatan, (c) tak membatalkan keputusan, tak mengubah kesepakatan, (d) jika berbicara dan berbuat, tak berhenti sebelum rampung.

Getteng ini merupakan salah satu pendidikan moral yang diajarkan La Mellong atau yang lebih dikenal dengan nama Kajaolaliddo kepada anak-anak raja dan bangsawan Bugis tepatnya di kerajaan Bone. Sifat Getteng ini dimaksudkan bahwa setiap orang tidak mudah tergeser dari prinsip kebenaran yang dianutnya. Sekalipun bumi pecah berantakan, langit runtuh tidak membuat kita dari keyakinan dan prinsip kebenaran.

To’do’puli/ Getteng tentunya bukan hanya sebagai teori, tetapi bentuk nyatanya dapat dilihat dari sebuah pengaplikasian (sebuah tindakan). Tokoh atau pemimpin yang mengaplikasikan sikap ini dapat kita lihat berikut ini.

  1. Datu Luwu

Nilai yang disebut getteng yang berarti ketegasan atau keteguhan berpegang         pada keyakinan yang benar dapat ditelaah dari sikap yang ditunjukkan Dewan Adat       Kerajaan Luwu dalam Pau-pau Rikadong Arung Masala Ulik-e. Dalam suatu dialog yang memberikan pilihan pada Datu Luwu “Mana yang Datu pilih, telur sebiji yang rusak ataukah telur yang banyak” yang bermakna pilihan, apakah Datu memilih mempertahankan kehadiran puteri tunggalnya yang berpenyakit kulit di dalam istana, ataukah memilih kepentingan, keselamatan, dan ketentraman rakyat. Bilamana Datu memilih puterinya, jelas Dewan Adat akan meninggalkan Datu atau   menurunkan Datu dari tahtanya. Dewan Adat melakukan hal itu sebagai pertanda ketegasan dan keteguhannya berpegang pada prinsip pengayoman kepada rakyat. Datu Luwu yang juga berpegang pada prinsip-prinsip adat kerajaan memahami bahwa dirinya pun harus menunjukkan sikap getteng, dengan melawan perasaan subjektifnya sebagai seorang ayah dengan memilih “telur yang banyak”. Hal itu berarti bahwa puteri raja harus disingkirkan dari kerajaan, harus ripali, diasingkan         dengan cara dinaikkan ke atas perahu kemudian dihanyutkan mengikuti aliran sungai (Ibrahim, 2003:165).

Datu Luwu yang saat itu harus memilih antara anaknya dan rakyat banyak.              Datu Luwu tentu saja mengalami dilema. Di satu sisi, tentunya ia tidak tega membuang anaknya yang memiliki penyakit kulit. Namun, di sisi lain, raja juga harus mempertimbangkan keselamatan rakyatnya. Akhirnya, raja dengan sikap teguh sebagai prinsip adat kerajaan, membuang anaknya demi rakyatnya. Ia pun mengesampingkan belas kasihnya sebagai orang tua. Keputusan tersebut tentunya tidak mudah untuk diambil oleh Datu Luwu. Walaupun membuang anaknya, itu semua demi kepentingan orang banyak. Mengesampingkan kepentingan             pribadi dan berpegang teguh terhadap adat tentulah sebuah tindakan yang           mencerminkan pemimpin teladan karena dapat menciptakan keamanan dan ketenangan bagi kerajaan dan orang-orang di dalamnya. Tindakan Datu Luwu ini dapat dikatakan mirip dengan tindakan Mangara yang tetap teguh tanpa terpengaruh oleh apapun demi melaksanakan sesuatu yang benar.

  1. Nene’ Mallomo

Nene’ Mallomo merupakan seorang cendekiawan yang berasal dari                   Sidenreng Rappang. Nene’ Mallomo merupakan tokoh cendekiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang yang teguh melaksanakan apa yang dikatakannya ketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nene’ Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Nene’ Mallomo pun berkata: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana (terjemahan : sesungguhnya adat itu tidak mengenal bapak dan tidak     mengenal anak).

Nene’ Mallomo memperlihatkan sikap teguh menjalankan tatanan hukum          yang berlaku pada saat itu. Semua yang bersalah harus dihukum, tidak terkecuali anak dari Nene’ Mallomo. Walaupun Nene’ Mallomo merupakan tokoh yang     disegani karena kecerdasannya, ia tidak menggunakan keistimewaannya tersebut untuk melanggar hukum yang berlaku di masyarakat. Nene’ Mallomo tetap             konsisten menjalankan apa yang seharusnya dilakukan kepada orang yang telah melanggar hukum, sekalipun itu adalah anak, saudara, maupun kerabat. Bagi Nene’ Mallomo, hukum tidak memandang siapa pun yang bersalah yang dihukum.

  1. Baso Pagilingi Abdul Hamid (Petta Ponggawae)

Amir dalam Jurnal Buletin Bosara (2001:70) menjelaskan bahwa Baso             Pagilingi merupakan seorang pejuang pada masa penjajahan Belanda yang berasal dari kerajaan Bone. Ketika Belanda menyerang pasukan Baso Pagilingi di pegunungan Awo dan Raja Bone meminta pertimbangan kepada putranya Baso Pagilingi, Baso Pagilingi menjawab sebagai berikut:

                   “Menurut pertimbangan dan pendapatku sebaiknyalah kita bertahan habis-habisan di sini menyelesaikan perang untuk menentukan siapa yang kalah. Sebab   walaupun kita menyingkir sampai ke ujung langit, tak hentinya kita diikuti                       pasukan Belanda… Biarkan mereka datang, saya akan menghadapi langsung                     untuk mempertahankan serta menjunjung tinggi kehormatan rakyat serta Raja               Bone, ataukah menumpahkan darah yang akan membasahi gunung Awo”.

Pada data kutipan di atas, terlihat jelas Baso Pagilingi akan melawan Belanda       sampai titik darah penghabisan bersama pasukannya. Ia sudah lelah menghindari pasukan Belanda yang mengejar mereka, maka ketika ditanya mengenai pendapat tentang penyerangan Belanda, ia dengan lantang mengatakan akan berjuang         habis-habisan melawan penjajah.

Pertempuran pun terjadi antara pasukan Belanda dan pasukan Baso Pagilingi.        Pasukan Belanda cukup besar jumlahnya di bawah pimpinan Mayor Infantri Van     Bonnekom dan dibantu oleh satu kompi pasukan khusus yang dipimpin Kapten     March Stipriaan Luiscius. Sementara itu, pasukan Baso Pagilingi bersama 25 orang pasukan. Dari pertempuran tersebut akhirnya pasukan Belandalah yang keluar sebagai pemenang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sikap Baso Pagilingi yang memiliki tekad             yang kuat untuk melawan Belanda, walaupun hanya memiliki pasukan berjumlah 25 orang dan akan melawan Belanda yang memiliki pasukan cukup banyak. Dengan keteguhan sikap yang dimiliki Baso Pagilingi, ia tetap melawan Belanda walaupun dengan pasukan yang sedikit tersebut. Nyawa pun rela dikorbankan dalam melawan Belanda demi membela tanah airnya. Sikap teguh pada pendirian terlihat jelas pada     Baso Pagilingi yang tidak gentar melawan Belanda walaupun dengan jumlah yang   sedikit, Baso tetap konsekuen terhadap apa yang dikatakan.

  1. Andi Mappanyuki

Andi Mappanyuki seorang keturunan Raja Gowa pada masa penjajahan                Belanda juga menunjukkan sikap teguh pada pendirian. Dalam Jurnal Buletin          Triwulan Bosara (2000:52) dijelaskan sikap Andi Mappanyukki menghadapi Belanda.      Pada tahun 1910 Belanda menawarkan kepada Andi Mappanyuki jabatan Regen untuk daerah Gowa Barat dengan gaji 400 gulden per bulan, padahal gaji seorang regen pada waktu itu , rata-rata 30 ̶ 50 gulden per bulan. Namun, tawaran itu ditolak oleh Andi Mappanyuki. Kemudian sejumlah tawaran kerja sama dengan Belanda         pun tetap ditolak, seperti: penolakan memimpin bekas kerajaan Gowa yang akan dibentuk menjadi Federasi Gowa. Meskipun yang ditawarkan kepada Andi   Mappanyukki, untuk memimpin suatu wilayah yang besar atau lebih luas dari yang pernah ditawarkan sebelumnya, tetapi ia tetap menolaknya. Andi Mappanyukki juga menolak kerja sama dengan NICA (Belanda) pada tanggal 27 Oktober 1945. Ia dengan tegas menyatakan bahwa: saya tidak mau bekerja sama dengan Belanda             karena saya sudah merdeka, lebih baik saya dibunuh daripada mau bekerja sama dengan Belanda. Demikian pula dengan pertemuannya dengan Dr. Hove nama       Letnan Gubernur Jenderal Van Mook di Hotel Empress. Pada pertemuan itu, Andi Mappanyukki kembali menolak dengan tegas bujukan dan rayuan dari Belanda, dengan pernyataan bahwa: Saya hanya sekali dilahirkan. Sekali saya menyatakan berdiri di belakang republik, saya akan tetap pada pendirian itu, sekalipun saya harus hancur lebur. Dengan keteguhannya itu mempertahankan prinsipnya, Andi         Mappanyukki dipecat atau dicopot dari kedudukannya, ia rela dicopot dari           jabatannya sebagai Raja Bone daripada ia harus menjadi pengkhianat.

  1. Prof. A. Amiruddin (Mantan Rektor Universitas Hasanuddin)

Sikap teguh juga dapat dilihat dalam diri seorang Alm. Prof. A. Amiruddin            (Mantan Rektor Universitas Hasanuddin) yang ketika menjabat rektor membangun perumahan dosen. Harahap dkk (1999:107) menyebutkan banyak yang meragukan rencana tersebut dapat berjalan baik. Bahkan ada yang mengatakan uang akan               hilang percuma seperti yang lalu-lalu. Memang pernah ada rencana serupa dan ternyata gagal setelah orang-orang menyetorkan uangnya. Namun, berkat sikap Amiruddin yang tak mau mundur dan terus mendesakkan kemauannya, rencana itu akhirnya disetujui dan dimulailah segala persiapan pembangunan tahap I di kampus Baraya. Dalam tiga bulan berdirilah selusin rumah yang langsung dapat dihuni. Sekalipun masih saja terdengar suara-suara sumbang di sana-sini,                     pembangunan terus dilakukan oleh “Yayasan Perumahan”. Ada yang bahkan menganggap Rektor Unhas menjual aset negara. Amiruddin tak acuh terhadap     suara-suara semacam itu.

To’do’puli atau getteng bukanlah sebuah sikap yang main-main. Kelima tokoh di atas, rela kehilangan anak, nyawa, jabatan, dan dituduh melakukan korupsi hanya untuk menegakkan sikap to’do’puli/ getteng. Mereka tetap teguh dengan apa yang mereka yakini benar tanpa merasa takut oleh apa pun dan siapa pun.

Sudahkah kita to’do’puli hari ini?