Ngobrol Dulu, Cocok Kemudian

sumber foto: slate.com

Telah beberapa lama tidak mengunggah tulisan di blog dan ada rasa bersalah terlebih karena pernah menjadi peserta kelas menulis Kepo. Akhirnya, saya pun “membunuh” rasa malas dan mulai menulis lagi yang dimulai dengan bismillah ulasan film. Film yang saya pilih dan memang itu yang ada di laptop saya adalah film yang berjudul “Before Sunrise” yang diperankan oleh Ethan Hawke sebagai James dan memperkenalkan diri sebagai sebagai Jesse. Lawan mainnya adalah Julie Delpy sebagai Celine. Film ini dibuat tahun 1995, setahun setelah kelahiran saya. Namun, baru saya tonton tahun lalu dan menonton ulang serta membuat ulasannya tahun ini.

Film ini dibuka dengan kereta api yang melintasi rel dengan menampilkan rel kereta apinya disusul dengan pemukiman warga yang dapat dilihat di atas kereta api. Jika pembukaan film ini dijadikan pembuka tulisan yang ditulis tahun ini dan dikirim ke Tirto, tentu Mas Fahri tidak akan membacanya, seperti yang ia katakan di Kelas Menulis Makassar ketika ia hadir 5 Juli lalu. Namun, ini adalah film, bukan tulisan. Film ini pun dibuat tahun 1995.

Dua orang (laki-laki dan perempuan) tengah berbincang dalam bahasa Jerman yang diakhiri dengan pertengkaran. Pertengkaran itu membuat si perempuan meninggikan nada suaranya yang membuat si Celine terganggu dengan aktivitas membaca. Akhirnya Celine si gadis Paris harus pindah tempat duduk dan memulai mengobrol dengan James atau yang biasa dipanggil Jesse. Obrolan mereka berlanjut ke tujuan perjalanan masing-masing, orang-orang dewasa, dan tentang kematian.

Jesse akan singgah di Wina dan Celine akan ke Paris setelah perjalanan dari Budapest mengunjungi neneknya. Kereta sudah sampai di Wina. Dengan ragu, Jesse mengajak Celine turun dari kereta dengan iming-iming bahwa hal itu tidak akan disesali Celine dan akan ia ingat suatu saat sebagai sebuah kenangan yang hebat. Tak perlu lama-lama membujuk Celine untuk setuju. “Baiklah, aku akan ambil tasku.” Dan mereka pun turun dari kereta. Pada saat mereka turun dari kereta, mereka belum tahu nama satu sama lain. Baru ketika akan mencari loker untuk tas-tas mereka yang tak mungkin dibawa mengelilingi Wina, mereka berkenalan.  Jika kalian jadi Celine, kalian mau nda turun bersama orang yang baru kalian kenal untuk menemaninya semalam saja?

Canggung, itulah yang mereka rasakan saat berjalan-jalan menyusuri Kota Wina, tetapi mereka berusaha menghilangkannya dengan mengobrol. Karena tujuan mereka tidak tidak jelas, sama kayak hubunganmu akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya tentang museum atau pameran yang bisa mereka kunjungi selama di kota itu.

Mereka saling bertanya dan menjawab. Jesse-Celine-Jesse-Celine begitulah urutan mereka bertanya. Pertanyaan-pertanyaan mereka adalah pertanyaan dengan jawaban tentang pribadi masing-masing. Si Celine benar-benar terbuka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Jesse. Mereka ke toko musik yang menyediakan musik dari piringan hitam. Mereka ke kuburan, gereja, ke klub, kafe, dan ke bar untuk meminta sebotol anggur merah dan meminjam tanpa mengembalikan dua gelas yang dipakai untuk menghabiskan malam.

Mereka bersenang-senang. Melewati jalan dengan berpegangan tangan yang sebelumnya didahului dengan ciuman di atas kincir raksasa. Ada satu hal yang saya yakini bahwa perempuan akan selalu bertanya kepada laki-laki, “Bagaimana kau melihatku?” Kenapa bisa jatuh cinta?” Kenapa bukan yang lain?” atau pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya. Tapi Jesse cukup pintar tentunya dengan tak memberi jawaban karena jawabannya bisa saja menjadi bumerang baginya

Dalam perjalanan, mereka dicegat oleh seorang pemuda yang jarinya mengapit rokok. Pemuda itu memberikan tawaran membuat puisi untuk mereka, kalau puisinya bisa menambah sesuatu dalam hidup mereka, si pemuda boleh dibayar dengan apa saja. Celine dan Jesse pun memberikan satu kata yang akan dibuat dalam satu puisi.

“Mencintai dan dicintai penting bagiku, bukankah semua yang kita lakukan hanya agar lebih dicintai? Celine mengatakan hal itu ketika mereka mulai membicarkan hubungan dengan lawan jenis. Mereka menghabiskan malam dengan sebotol anggur. Besoknya mereka harus berpisah, tetapi berjanji untuk bertemu lagi di bulan Desember. Mereka tidak bertukar alamat rumah untuk berkirim pesan atau bertukar nomor telepon. Mereka hanya berjanji akan bertemu enam bulan terhitung sejak perpisahan mereka hari itu.

Film ini diisi dengan banyak sekali percakapan. Sesuatu yang tentunya sulit jika dijadikan sebuah tulisan. Bahkan, Eka Kurniawan dalam blognya pernah menulis bahwa percakapan adalah hal yang susah untuk dituliskan. Namun, karena ini adalah film jadi tidak sulit-sulit amat kali ya. Suka sih sama film ini.

Kali Pertama

Kali pertama meninggalkan Sulawesi

Kali ini adalah kali pertama saya bepergian di luar Sulawesi. Kalau mau dibilang jauh dari orang tua sih sebenarnya sudah biasanya, tetapi masih dalam provinsi yang sama. Yang membuat tidak biasa adalah saya bepergian sendiri dan di pulau Jawa. Keluarga sempat khawatir, tetapi namanya tekad sudah terlalu kuat jadilah saya berangkat sendiri dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju Juanda. Durasi perjalanan ± 90 menit.
Saya berangkat tepat 7 November 2017, istirahat dua hari di Surabaya. Kemudian berselang dua hari berangkat ke Kampung Inggris, Pare, Kediri. Bikin apa sih di Pare? Ya apalagi kalau bukan nambah followers dan buat cari jodoh buat belajar bahasa Inggris. Maklumlah sekarang pekerjaan dan pendidikan sering mencantumkan persyaratan penguasaan bahasa Inggris sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi jika ingin bergabung di perusahaan atau institusi.

Kali pertama ke Kampung Inggris dengan menggunakan bus. Saya lupa nama busnya, intinya busnya tujuan ke Pare dan terakhir di Blitar kalau tidak salah. Di atas bus, banyak penjual mulai dari penjual tahu, penjual buah, dan masih banyak lagi. Orang-orang yang ada di atas bus menggunakan (mungkin) bahasa Jawa yang yang tidak saya pahami. Namanya kali pertama pasti bingung kalau kali kedua itu kan judul lagunya Raisa tujuannya sudah sampai atau belum, jangan-jangan tempat tujuannya sudah lewat, dan sejumlah pikiran-pikiran lain. Untunglah penumpang di sebelah tempat duduk saya menanyakan tujuan saya. Kabar baiknya ternyata tujuan kami sama. Inikah yang dinamakan jodoh? Penumpang itu adalah seorang lelaki yang sekira 50 tahun umurnya, memakai tas selempang yang muat beberapa pasang pakaian. Waktu berdampingan duduk, ia sempat memakan tahu, tahu Sumedang itulah namanya. Penumpang tersebut yang selanjutnya saya panggil ‘Pak’ bahkan mencarikan becak untuk saya tumpangi menuju tempat kursus tujuan. Akhirnya, saya sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, itulah yang seharusnya saya lakukan di sini. Akan tetapi, ada yang beda dan belum bisa saya sesuaikan. Apa sih? Kebiasaan makan. Sebagai orang yang jarang menjadikan kerupuk sebagai teman makan, jika berada di Makassar, tentu saja cukup aneh bagi saya melihat kerupuk hampir selalu ada di warung dan di piring orang-orang. Lidah saya tak terbiasa dengan kerupuk. Di Makassar hampir tidak pernah saya makan kerupuk dengan nasi, kalau pun makan kerupuk setelah nasinya habis. Namun, bukan hanya saya yang merasakannya, salah seorang teman yang berasal dari daerah yang sama pun merasakannya.

No love before meeting, pepatah Inggris itulah yang diamini dan dipraktikkan di pertemuan pertama di The Eagle, tempat kursus saya. Dari pekenalan inilah saya tahu, teman-teman saya usianya lebih muda dari saya, baru lulus kuliah, baru lulus SMA, dan ada juga yang sudah kerja. Kami bersepuluh, empat orang perempuan dan enam orang laki-laki. Di antara bersepuluh itu, salah seorang di antaranya sudah berkeluarga dan berprofesi sebagai guru. Usianya sekira 40–50 tahun. Walaupun usianya lebih tua, semangat belajarnya tidak kalah dengan kami. Namanya Syamuddin, kami biasa memanggilnya Mr. Syam. Beliau berasal dari Kalimantan.

Foto bersama setelah belajar listening

Bersepuluh orang dengan latar belakang yang berbeda satu sama lain menjadi sesuatu yang menarik. Mengapa? Karena saya bisa tahu makanan khas dari suatu daerah, kultur mereka seperti apa walaupun belum menginjakkan kaki di sana. Jadilah selama dua minggu itu bercakap untuk saling mengenal satu sama lain. Isinya apa? Tentang keluarga, cita-cita, bahkan sampai asmara. Intinya mereka menyenangkan karena tiada hari tanpa humor dan apa ya. Pokoknya menyenangkanlah. Menyenangkan kan itu kan kata sifat atau perasaan yang berasal dari hati. Namanya perasaan kan susah dijelaskan.
Dua minggu selanjutnya ada suasana baru. Seperti sebuah keharusan, ada pertemuan tentu saja ada perpisahan. Mr. Syam harus kembali ke kampung halamannya. Niken, salah satu dai sepuluh orang, pun harus meninggalkan kami. Namun, ada dua teman baru yang datang. Dua minggu tersebut, materi sudah naik level dong pastinya. Materi vocabulary-nya sudah lebih luas cakupan kata-katanya, pronunciation yang senam lidahnya lebih susah, grammar sudah belajar semua tenses dari yang sebelumnya hanya lima tenses. Speaking yang materinya sudah lebih luas, drama menggunakan bahasa Inggris, story telling, dan masih banyak lagi. Di dua minggu tersebut, hubungan pertemanan kami pun sudah lebih dekat. Kami sering makan malam bersama. Bahkan, liburan bersama di Pantai Ngliyep Malang.

Berfoto di Pantai Ngliyep
Sebuah keharusan lagi untuk saya apalagi merasa nyaman di sebuah tempat maka saya harus meninggalkan tempat itu. Istilahnya keluar dari zona nyaman. Sedih tentunya meninggalkan mereka, tetapi hal itu harus. Akan tetapi, itu hanya berlaku untuk konteks yang seperti itu ya. Untuk konteks hati itu beda lagi. Kalau sudah nyaman ngapain nyari yang lain?

Dan bulan kedua saya di Pare dihabiskan dengan orang-orang baru lagi.

 

 

​Tidak Ada Alasan untuk Tidak ke Pasar Tiban

Dekorasi Press Conference Anne Avantie Pasar Tiban Karya Anak Negeri

Penggemar Anne Avantie patut berbahagia karena setelah 28 tahun berkarya, Bunda, begitu panggilan Anne Avantie, akan hadir di Makassar pada tanggal 15 ̶ 24 September 2017. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Trans Studio Mall 28 Agustus 2017 lalu hadir Creative Director Event Anna Avantie, Head Project Pasar Tiban Anne Avantie, CEO EO 3 Pro, GM Trans Studio Mall, GM Four Points Hotel by Sheraton, dan perwakilan Anne Avantie Management. Sebelum keenam pembicara tersebut dipersilakan memberikan gambaran tentang Pasar Tiban yang akan diadakan mulai pertengahan September mendatang, ada suara Anne Avantie via telepon yang didengarkan terlebih dahulu. “Inspirasi selalu berhubungan dengan cinta,” kata Bunda Anne lewat suaranya via telepon. Mungkin itulah salah satu kekuatan Bunda Anne Avantie dalam berkarya, yaitu cinta.
Bunda Anne akan hadir menyapa Makassar dengan Pasar Tiban yang menawarkan karya-karya gemilangnya dengan menggandeng sejumlah UKM. Karya-karya tersebut akan dipasarkan mulai  Rp.100.000,00. Cukup terjangkau bukan? Beberapa produk yang akan hadir dalam Pasar Tiban adalah produksi Anne Avantie, produksi dari UKM, kebaya brokat, Anna Avantie Heritage, Produk yang dijahit sendiri oleh UKM, dress, batik, pakaian laki-laki, pakaian anak-anak. Anak-anak yang hadir dalam Pasar Tiban bisa bermain seperti yang terlihat pada video yang diputar pada saat konferensi.

Apa sih keunikan Pasar Tiban di Makassar? Ika Marissa Roberta selaku Head Project Pasar Tiban Anne Avantie menjelaskan bahwa selain memamerkan tekstil, di Pasar Tiban nanti akan ada juga sutra Makassar, dekorasinya bergaya Makassar, ada kuliner dari vendor Makassar, dan tentunya Pasar Tiban dilaksanakan dalam rangka mengangkat UKM. Nantinya akan ada ± 100 UKM yang akan hadir dalam kegiatan tersebut. Selain itu, bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang kebaya atau konsultasi pakaian langsung ke Bunda Anne Avantie itu juga bisa. Rugi jika tidak memanfaatkan kesempatan langka ini lho.

Ika Marissa Roberta sedang menjelaskan keunikan Pasar Tiban yang akan hadir di Makassar

Pasar Tiban sudah hadir di sembilan mal yang ada di Indonesia. Kali ini, Pasar Tiban pertama kalinya diadakan di luar Pulau Jawa dan kota yang terpilih adalah Makassar. Selain itu, akan ada juga donasi yang diberikan berupa pemberian seratus kursi roda dan tongkat tunanetra bagi warga Makassar. Pada kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari tersebut akan diadakan juga fashion show pada tanggal 19 September 2017 yang bertempat di Four Points Hotel by Sheraton.
Pasar Tiban dengan konsep berbeda dari yang lain menawarkan sebuah konsep pasar yang bisa dihadiri oleh semua anggota keluarga. Istri, suami, dan anak. Sambil istri berbelanja di Pasar Tiban, si suami juga bisa belanja pakaian karena tidak hanya kebaya yang akan dipamerkan di sana, akan ada juga pakaian untuk laki-laki atau bisa ngopi-ngopi sambil menyantap penganan karena di Pasar Tiban nantinya ada juga kuliner yang akan dihadirkan. Selain itu, anak-anak juga bisa bermain atau mengikuti lomba mewarnai caping. Yang ingin eksis di instagram juga boleh datang ke Pasar Tiban karena dekorasinya juga menggunakan dekorasi khas Makassar. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak datang di Pasar Tiban kan?

Dalam 10 hari tersebut, setiap harinya akan ada workshop kasih, inspirasi, dan cinta yang merupakan kegiatan yang bersifat edukasi yaitu membagikan kiat-kiat mempresentasikan barang dari Bunda Anne langsung. Jadi, walaupun sudah berhasil dalam berkarya, Bunda Anne tidak ingin sukses sendirian, ia mengedukasi para pelaku UKM untuk bisa sukses seperti dirinya, melalui workshop ini contohnya. 

Dalam fashion show yang akan digelar nanti, ada model yang berasal dari Makassar, Jakarta, Surabaya, Bali, dan Jogjakarta. Sekedar bocoran akan ada Wulandari, Kiwi Jayanti lho. Selain itu, Carend Melano dan Patricia Go akan menjadi Master of Ceremony (MC). Ada ± 100 koleksi Anne Avantie yang akan dipamerkan lewat ± 50 model. Selain itu, ada juga selebriti yang akan hadir. Penasaran siapa? Makanya datang ke Pasar Tiban untuk dapat info lengkapnya. Persiapan fashion show ini tidak bisa dibilang main-main karena salah satu perwakilan Anne Avantie Management mengatakan bahwa untuk fashion show tersebut ada seleksi model Makassar untuk bekerja sama dalam kegiatan pada tanggal 19 September itu.

Masih ada alasan untuk tidak datang ke Pasar Tiban?

Saya Merdeka Kok Ketika Maba

Bila membaca tulisan yang berjudul “Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa, juga untuk Maba” rasanya semua isinya adalah hal negatif tentang pengaderan. Sebagai mahasiswa yang menghabiskan waktu, di luar waktu kuliah, dengan mengikuti pengaderan, baik tingkat fakultas maupun tingkat jurusan di awal semester, ada beberapa hal yang saya kurang setuju dalam tulisan tersebut.

Pada paragraf pertama terdapat kata barbar yang ditulis dengan bar-bar. Kata barbar bukanlah sebuah kata ulang. Jadi, penulisannya ditulis serangkai tanpa tanda penghubung. Tentunya, saya tidak akan menyetujui perbuatan barbar dalam bentuk apa pun itu. Pasti semua orang tidak akan menyetujui perbuatan tersebut apalagi di negara demokrasi seperti ini.

Pada paragraf keempat terdapat kalimat “Saya yang juga datang dari jauh untuk kuliah, sudah merasakan betapa tahun pertama perkuliahan serupa neraka bagi saya.” Siapa sih yang tidak merasakan hal berat selama menjalani awal semester ditambah dengan mengikuti pengaderan? Saya pun juga merasakannya, tetapi saya tidak sendirian menjalaninya. Ada ratusan mahasiswa baru yang mengikutinya di fakultas saya. Ada puluhan mahasiswa baru yang menjalani hal tersebut khususnya di jurusan saya. Memang berat, tetapi karena  melakukannya bersama mereka maka tidak terasa berat lagi. Seperti filosofi sapu lidi. Ketika bersama kita akan kuat, tetapi jika sendiri akan mudah dipatahkan.

Di paragraf yang sama, terdapat pula kalimat, “Selesai kuliah tanpa jeda dikumpulkan, diteriaki, diperintah, dihajar secara psikis…..” Dulu setelah kuliah kami juga dikumpulkan, tetapi tidak digiring dan saya tidak pernah merasa seperti hewan gembala. Saya berjalan menuju area pengumpulan karena kemauan bukan paksaan. Memang berat ketika melakukan sesuatu hal dengan tekanan. Ketika pengumpulan pun tak sekadar berkumpul, tetapi pengaderan juga diisi dengan pemberian materi terkait himpunan atau apapun itu. Bahkan, ketika punya tugas kami dipersilakan untuk mengerjakannya di sana. Jika memang tidak setuju dengan jadwal pengumpulan tersebut, mengapa tidak berani memberikan pendapat? Kalau diam saja berarti sama saja dengan menyetujui jadwal pengumpulan yang telah ada atau telah dijadwalkan.

Pada kalimat lain terdapat kata dijajah. Nah,  penjajahan seperti apa yang dimaksudkan? Pada pengumpulan yang saya ikuti malah kami dimerdekakan dengan bebas mengemukakan pendapat. Pada masa pengumpulan, kami yang jumlahnya ± 40 orang dibagi menjadi beberapa kelompok dan harus mempresentasikan sebuah tema yang diberikan. Semua orang diberi kesempatan untuk berkomentar. Di situlah terjadi kemerdekaan bebas berpendapat.

“Suatu kali saya pulang dan melempar semua pernak-pernik bodoh, buku tanda tangan, menginjak-[ng]injaknya sambil berurai air mata, benci….” Saya juga punya buku tanda tangan. Bagi saya buku tanda tangan adalah salah satu jalan untuk mengakrabkan diri antara senior dan junior. Aneh saja, ketika satu jurusan dan tidak saling mengenal satu sama lain kan? Siapa tahu bertemu di jalan kan bisa saling bertegur sapa, kali aja ditraktir atau dibayarkan ongkos pete-pete, lumayanlah. Pada lembar terakhir, terdapat lembar kreasi yang bebas diisi apa saja. Rata-rata teman saya mengisinya dengan puisi. Hanya saya yang mengisinya dengan pantun.

“Saya lebih memilih bergabung di UKM, tempat dimana kami menemukan kehangatan pertemanan. Tanpa sekat, tanpa segan kepada yang lebih dulu lahir. Kami belajar menghormati dengan kasih sayang, bukan tekanan.” Dalam dua kalimat tersebut, ada kata dimana di tengah kalimat. Penempatannya kurang tepat. Kata di mana adalah jenis kata tanya, penempatannya di awal kalimat. Penulisannya pun dipisah, yaitu di mana. Di berfungsi sebagai kata depan yang harus dipisah penulisannya dari kata yang mengikutinya.

Di himpunan pun saya menemukan kehangatan pertemanan. Karena saya bersama mereka, saya bisa bertahan di jurusan yang telah memberi saya gelar sarjana sastra. Mereka jugalah yang membuat saya mengurungkan niat untuk mengikuti SBMPTN tahun 2012 silam padahal sudah di depan teller bank saat itu. Kami juga sering makan bersama-sama, baik saat pengumpulan maupun ketika menjadi pengurus himpunan. Di himpunan saya belajar menghargai bukan menghormati. Saya teringat ucapan salah satu senior yang bilang bahwa ia tidak butuh dihormati karena dia bukan bendera, tetapi ia minta dihargai.

Pengaderan adalah sebuah konsep dan realisasi yang selalu menghadirkan pro dan kontra. Semua hal tentu punya sisi positif dan negatif. Bergantung dari sisi mana kita memandangnya. Sebagai seseorang yang pernah mengikuti pengaderan, rasanya berdosa bila saya tidak mengemukakan hal positif yang saya dapatkan dari pengaderan yang saya ikuti. Karena pengaderanlah saya bisa sampai seperti ini sekarang.

Hari Minggu Berkualitas

Baju dengan stripe masih tergeletak bersama rok panjang berwarna abu-abu dan jilbab berwarna lime. Pakaian tersebut akan saya setrika sebelum dipakai untuk mengikuti kelas infografis hari Minggu lalu. Listrik padam dan saya harus menunggu. Sambil menunggu, saya asyik melihat percakapan di beberapa grup media sosial khususnya line. Belum ada seorang pun yang mengabarkan dirinya sudah tiba di rumah Daeng Ipul, pemateri kelas infografis.
Oppa Lebug, yang memiliki nama lengkap Mansyur Rahim, baru saja mengirimkan stiker yang bersimbol ia sudah menuju rumah Daeng Ipul. Rencananya kelas akan dimulai pukul 10.00 Wita. Namun, ketika berangkat waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10.00 Wita. “Ai, terlambatma,” pikir saya. Saya pun bergegas menuju rumah Daeng Ipul. Tak sampai sejam, saya sudah sampai di rumahnya. Belum ada orang lain di sana. Padahal, saya kira Oppa sudah sampai duluan. Jadilah, saya menjadi orang pertama datang. Nyaris semua kelas, orang yang pertama datang adalah saya. Kak Alya pun datang, sapaan akrab untuk Halia Asriyani. Disusul Andi Arniati atau Kak Nanni. Terakhir, barulah Oppa sampai. Pesertanya hanya empat orang. Lalu, dimulailah kelas hari itu. 

Suasana kelas infografis

Infografis intinya adalah menyediakan data dalam bentuk gambar sehingga lebih mudah dipahami. Itu yang saya pahami tentang infografis lewat penjelasan Daeng Ipul.  Ada beberapa macam jenis infografis yang bisa kita gunakan. Ada infografis khusus data, angka, ada juga yang berbentuk timeline.
Selain itu, ada beberapa pranala yang bisa diakses untuk mempermudah pembuatan infografis. Untuk mengambil gambar yang akan digunakan pada infografis bisa lewat freepik.com. Untuk ide pembuatan infografis, Daeng Ipul biasa menemukan ide lewat pinterest.com. Kita juga bisa membuka piktochart yang menyediakan template infografis. Infografis biasanya untuk keperluan blog sehingga bentuknya bisa kita pilih portrait. Portrait dipilih karena mengikuti kecenderungan orang membaca blog lewat handphone

Sebelum memulai membuat infografis, tentunya ada aplikasi yang harus diinstal lewat laptop. Ya, Adobe Illustrator CS 6. Jika sudah terinstal berarti langkah awal telah dimulai. Langkah selanjutnya adalah mengklik file pada pojok kiri atas lalu pilih New maka akan muncul beberapa pengaturan untuk kertas yang akan digunakan infografis yang akan kita buat. Setelah selesai, muncullah tampilan kertas kosong. Untuk meng-zoom bisa gunakan Alt + “roda” yang ada pada keyboard. Banyak ilmu yang saya dapatkan di hari Minggu itu, tetapi ilmu tersebut harusnya langsung dipraktikkan karena infografis adalah sesuatu yang bersifat teknis.

Daeng Ipul sedang menjelaskan pemilihan warna

Pembuatan infografis tak semudah yang saya bayangkan. Butuh latihan rutin, imajinasi, dan kreativitas dalam membuatnya. Infografis memang bukanlah hal yang inti dalam sebuah tulisan. Namun, tulisan akan lebih menarik jika ada infografis di dalamnya. Terlebih pembaca bisa menemukan informasi penting dalam tulisan lewat infografis.

Infografis adalah ilmu praktik. Butuh latihan agar mahir. Tentu saja, dalam sehari saya belum benar-benar bisa membuat infografis apalagi sebagus milik Daeng Ipul. Namun, yang pasti sudah ada pemahaman awal tentang aplikasi pembuat infografis ini.

“Banyakji tutorial itu di youtube,” begitu kata Daeng Ipul. Kalimat tersebut tentu saja menyiratkan bahwa masih ada jalan lain untuk belajar agar bisa membuat infografis. Yang penting adalah punya kemauan untuk belajar. Karena di mana ada kemauan, di situ ada jalan (ini sebenarnya sebagai penyemangat untuk saya). 

Terima kasih untuk hari Minggu yang berkualitasnya Daeng Ipul, Oppa, Kak Alya, dan Kak Nanni.

Sabarnya Ina

​“We tundukko,” sebuah suara memberi perintah untuk membuat pandangan ke bawah. Saya yang masih mahasiswa baru (maba) takut mendegar suara lantang itu dan tentu saja mematuhi perintah tersebut. Waktu itu kurang lebih ada empat puluh orang mahasiswa baru Jurusan Sastra Indonesia  Unhas yang mengikuti pengaderan, termasuk saya. 

Mahasiswa baru dan pengaderan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Tahun 2011 adalah tahun untuk saya merasakan kedua hal tersebut. Saya bertemu dengan banyak orang baru dengan karakter yang berbeda-beda. Setiap selesai kuliah, kami dikumpulkan oleh senior di belakang himpunan (sekretariat). Hari libur juga tidak luput dari pengumpulan. Di tengah pengaderan, tidak semua yang bertahan pada proses itu. Tersisa sekitar tiga pulhan orang yang melulusi pengaderan. 

Pengaderan mengharuskan kami saling mengenal satu sama lain, bukan cuma nama panggilan yang harus kami tahu, melainkan nama lengkapnya juga. Dari tiga puluhan orang tersebut, ada satu nama yang frekuensi kebersamaannya dengan saya lebih banyak dibandingkan dengan teman yang lain. Hampir semua kegiatan di himpunan kami selalu selalu terlihat bersama-sama. Bahkan, ada senior yang menganggap kami kembar. ketika kami namanya dipanggil biasa tertukar. Kalau salah satu datang di sebuab kegiatan dan tidak terlihat bersama, pasti orang-orang akan bertanya di mana yang satunya. Kami juga sering makan bersama, pergi ke mana-mana sering bersama. Dia juga biasa menginap di kos saya waktu kegiatan himpunan mengharuskan kami pulang larut malam. 

Namanya Nikarlina, kami biasa memanggilnya Ina.  Ada juga yang memanggilnya Lina karena ada salah satu senior yang namanya sama dengannya. Dia merupakan keturunan Bugis, tepatnya Bugis Bone. Dia lahir tahun 1995, tepatnya tanggal 6 Januari. Dari semua teman angkatan saya, dialah yang paling muda, makanya jika dulu kami disuruh berbaris berdasarkan umur pastilah dia ada di barisan paling belakang.

Sudah banyak kejadian-kejadian yang kami alami bersama. Mulai dari kejadian yang menyedihkan, menyenangkan, dan memalukan. Rasanya seperti nano-nano. Dia jugalah salah satu orang yang pernah mengajari saya naik motor. Waktu itu, dia mengajari saya naik motor di jalan sekitar Unhas. Kami mengelilingi Unhas bersama, saya menyetir dia ada di belakang saya memberi arahan. Awalnya saya bawa motor lancar-lancar saja. Dari arah fakultas teknik, motor akan belok kiri ke jalan menuju gedung rektorat. Saat itu, gasnya terlalu tinggi dan cara saya membelokkan motor terlalu ke kanan. Akhirnya, kami pun jatuh.

“Ina nda apa-apa ji?” Tanya saya khawatir

Ndaji, kauyya?” Dia balik bertanya

Ndaji, tapi sakitnya telingaku, mauka menangis tapi nda bisa keluar air mataku,” jawab saya waktu itu.

Di dekat lokasi kami jatuh, tiga orang yang sedang berjalan kaki berlari menuju kami untuk membantu. Mereka membangunkan motor yang posisinya jatuh ke samping. Syukur kami berdua tidak apa-apa. Motornya Ina kami bawa ke bengkel yang ada di pintu satu Unhas karena salah satu bagiannya terlepas, tetapi tidak parah. Kami hanya membayar Rp.5.000,00 waktu itu. Di motor tersebut juga banyak goresan-goresan. Sampai sekarang, saya belum memperbaiki goresan-goresan di motor Ina. Ina juga tidak pernah menuntut untuk motornya diperbaiki.

Ina juga pernah mengajari saya menari. Kami masih menjadi pengurus di himpunan waktu itu. Program kerja saat itu adalah Festival Sastra Indonesia (FSI). Saya memang belum pernah menari sebelumnya. Dengan sabar, Ina mengajarkan saya gerakan-gerakan Tari Pa’duppa. Badan saya yang kaku tentu saja membuat gerakan yang saya buat terlihat sangat kaku. Saking kakunya, seorang senior pernah mengatakan, “Seperti orang-orangan sawah.” Akan tetapi, Ina tak pernah marah waktu mengajari saya.

Ketika ajakan untuk buka puasa bersama di sebuah grup media sosial kurang yang merespon, Ina juga tetap sabar dan malah menghubungi satu per satu dari kami. Namun, hasilnya tetap tak banyak yang datang. Hanya empat orang yang datang waktu itu. 

Semoga tidak hilang kesabaran Ina karena Allah bersama orang-orang yang sabar!
#15harimenulis

​Obrolan dengan Cinta Pertama

Seharian saya merenung memikirkan siapa cinta pertama saya. Tidak ada seorang pun terpikir dalam kepala. Sampai sore hari saya masih berpikir dan bertanya pada diri sendiri, “Siapa ya cinta pertama saya?” Waktu berbuka pun tiba, satu nama untuk memenuhi tema menulis hari ini belum terpikir sama sekali. Buka puasa, salat magrib, dan makan malam sudah saya lakukan. “Ayomi pergi e,” sebuah suara mengajak saya untuk bergegas  meninggalkan rumah. Muncullah ide untuk memenuhi tema menulis hari ini. “Ahhaaa, ini ada pale e sosok cinta pertamaku, kenapa nda terpikir dari tadi,” gumam saya dalam hati.

Saya pun menaikkan semua barang ke dalam mobil. Kami akan menempuh perjalanan ke Makassar. Dia menyetir dan saya duduk di sampingnya. Dalam mobil itu, penumpangnya hanya dua, saya dan dia. Untuk memecah keheningan dan menghilangkan kantuk, kami pun bercakap-cakap. Dia yang memulai obrolan. Sesekali saya bertanya tentang alasan di masjid sudah tidak ada yang membawa takjil lagi untuk berbuka puasa atau alasan di masjid dekat rumah tak ada yang mau salat sunah dua rakaat setelah isya. Dia lebih lama hidup di kampung tentu dia tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Maklum, sudah enam tahun saya tidak menetap di kampung karena menempuh pendidikan di kota daeng. Banyak sekali yang berubah dari masjid itu makanya saya menanyakannya.

Beberapa kali hening, tetapi beberapa kali juga kami bergantian bertanya. Kali ini giliran dia bertanya. “Gelar apa itu kalau S.Pt.?” Tanyanya setelah dia melihat spanduk yang terpasang di pagar warga ketika kami melintasi jalanan. “Sarjana Peternakan.” Jawab saya. “Kalau sarjana pertanian S.P. ​ji di’?. “Iye cocokmi.” Saya membenarkan perkataannya. Dia ingin tahu banyak tentang kehidupan yang saya jalani di kampus. Saya pun ingin banyak tahu tentang kampung kelahiran saya yang jarang saya temui itu. Dia juga sesekali memberitahukan kehidupan teman-teman saya yang ia temui.

Ketika mobil sudah ada di Jeneponto, ia tiba-tiba menawari saya untuk belajar mengemudi mobil. Belajar naik sepeda dan naik motor dia jugalah yang mengajari. Bahkan, tekadnya mengajari lebih kuat daripada tekad saya untuk belajar. Alhasil, saya sudah bisa mengendarai motor walaupun saya tidak yakin masih bisa naik sepeda sekarang.

Ingatan saya pun kembali ke Ramadan tahun lalu. Di tahun 2016, tepatnya bulan Ramadan, salah satu stasiun televisi swasta menyiarkan secara langsung pertandingan Piala Eropa. Saya pun menontonnya berdua dengannya. Kadang, dialah yang membangunkan saya untuk makan sahur sekaligus nonton pertandingan itu. Dia tak mau nonton sendiri, akhirnya saya pun menemaninya karena saya pun suka menonton pertandingan olahraga, termasuk bola. Mungkin karena dia jugalah saya suka menonton pertandingan bola karena dulu saya sering ikut duduk menonton siaran pertandingan bola . Dari dialah saya tahu arti istilah offside.

“Yang bagaimanakah itu offside?” Tanya saya waktu itu.

“Itu offside, waktu mengumpan bola ke temannya,  ini yang dapat umpan bola lebih dekatki ke gawang daripada itu lawannya, atau ini yang terima umpan tinggal penjaga gawang yang dia hadapi.” Jawabnya menjelaskan. Kurang lebih seperti itulah penjelasannya tentang  offside tersebut.

Tak hanya tentang bola, kami pun pernah mengobrolkan pertandingan bulu tangkis ketika itu sedang digelar Piala Sudirman di bulan Mei. Jadwal hari itu adalah pertandingan Indonesia melawan India.Waktu itu dia bertanya tentang siapa yang menang antara Indonesia dan India. Akan tetapi, saya juga tidak menontonnya sampai tuntas karena pertandingan itu sebanyak lima partai, ganda campuran, ganda putri, ganda putra, tunggal putra, dan tunggal putri. Tidak semua saya tonton. Saya pun menjawabnya dengan jawaan tidak tahu.

Obrolan-obrolan ringan itulah yang biasa saya lakukan dengan dia. Dia adalah bapak saya yang memiliki kesukaan yang sama, yaitu di bidang olahraga. Namun, hanya kesukaan sebagai menonton bukan bermain olahraga. Sayang, kami tidak bisa menonton bersama pertandingan Indonesia Open 2017. Saya di Makassar dan dia di Bantaeng. Semoga bisa menonton pertandingan olahraga bersama lagi ya pak, seperti waktu menonton Piala Eropa 2016.
#15harimenulis

Perihal Mi Instan

​Siapa yang tidak kenal dengan mi instan? Mi instan boleh dikatakan adalah salah satu jenis makanan sejuta umat. Mulai anak-anak sampai lansia bisa menikmatinya. Ia bisa diterima di semua kalangan. Mi instan sendiri diartikan sebagai mi dadak. Mi dadak  adalah mi yang setelah dimasak sekejap sudah siap untuk dimakan. Dari pengertiannya, pantas saja mi tersebut digelari mi instan karena prosesnya yang dimasak tanpa memakan waktu terlalu lama.Dengan berbagai merek dan varian rasa kita dibebaskan untuk memilih sesuai isi kantong dan selera. Mulai dari merek S*kura, S*jati, Ind*mie, Mi g*las, dan masih banyak lagi. Varian rasa pun juga beraneka ragam, misalnya rasa soto, rasa ayam bawang, dan rasa-rasa yang lain. 

Sebagai anak kos, tentunya saya tak pernah lepas dari mi instan. Rak bagian atas dari lemari tempat piring hampir tak pernah kosong oleh mi instan. Hal ini sebagai antisipasi jika lapar melanda dan saat itu sedang malas memasak atau apabila nanti terbangun di tengah malam karena kelaparan. Mi instan juga bisa dijadikan sebagai pelarian saat uang di dompet sedang tipis. Namun, di saat dompet sedang tebal, mi instan seolah terlupakan.

Untuk menikmati mi instan, tak perlu waktu khusus. Pagi, siang, sore, malam, tengah malam, atau subuh. Penyajiannya juga tidak membuat kepala pusing, tinggal lihat saran penyajian yang ada di bagian belakang kemasan. Kita juga bisa membuat mi instan sesuai dengan yang ada di iklan. Penyajian mi instan yang biasa saya lakukan adalah tentunya mi instan dimasak terlebih dahulu. Air rebusan pertamanya saya buang kemudian ditambah lagi dengan air yang baru. Tentunya saya juga menambahkan telur rebus ke dalamnya apabila saya makan mi instan rasa soto. Kalau saya makan mi instan dengan rasa mi goreng, telurnya telur mata sapi. Setelah mi dan telur tercampur tak lupa saya menambahkan sambal, kecap, dan cuka sesuai selera. Satu lagi bahan yang harus masuk dalam mi instan saya yaitu daun bawang. Setelah semua bahan sudah ada dalam sebuah mangkok barulah siap untuk dinikmati. Namun, jika lapar tengah malam melanda, saya tak sempat menyiapkan mi instan seperti yang saya sebutkan di atas.

Mi instan juga bisa dijadikan sebagai ajang berkreasi. Mi instan bisa dibuat menjadi martabak mi dengan dicampur terlebih dahulu dengan telur lalu digoreng. Mi instan juga bisa dibuat menjadi pizza mi dengan campuran sosis, paprika, jamur, keju, terigu, dan telur.

Mi instan adalah makanan ‘mulia’. Namun, ia tak luput dikambinghitamkan dalam beberapa hal. “Mentang-mentang sering makan mi instan jadinya semua yang kau lakukan juga maunya serba instan.” Kira-kira begitulah kalimat yang pernah saya dengar tentang mi instan. Perihal copy paste yang biasa terjadi di tugas perkuliahan. Padahal, bisa saja bukan kesalahan (sepenuhnya) ada pada mi instan. Malah, mi instanlah sang penyelamat, di kala lapar dan uang tinggal sedikit di dompet datanglah ide makan mi instan yang tak perlu banyak uang yang dikeluarkan untuk memakannya. Dia adalah penyelamat. Akan tetapi, sering dikambinghitamkan. Bersyukur karena mi instan tidak bisa berbicara. Bagaimana jika seandainya ia bisa berbicara? Apa yang akan ia katakana perihal pengambinghitamannya?

“Kalian ya tidak tau diri, sudah bagus saya masih ada di saat kalian sedang kere. Kalian harusnya berterima kasih. Ini kok jadi saya yang dipersalahkan? Kira-kira itulah dialog yang akan dikatakan oleh si mi instan jika saja ia dapat berbicara dan membela diri.

​Air Mata dan Hujan

Air tentunya salah satu hal penting yang harus ada di dunia ini agar kita masih bisa melanjutkan kehidupan. Mulai dari air untuk minum, air untuk mandi, dan air untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya. Saya pun iseng membuka KBBI V untuk mengetahui ada berapa kata yang menggunakan kata air. Ternyata ada seratus lebih kata yang menggunakan kata air. Kata air dipakai dalam pembentukan kata majemuk, misalnya air  asin, air susu, dan air beras. Tak ketinggalan kata air juga dipakai dalam peribahasa, misalnya air beriak tanda tak dalam. Ini menandakan bahwa kata air memiliki makna yang luas bergantung kata yang mengikutinya.

Dari sekian banyak kata dan peribahasa yang menggunakan kata air, ada kata air mata yang memiliki dua sisi. Sisi bahagia dan sisi sedih. Air mata bisa menunjukkan dua keadaan yang berlawanan tersebut. Di satu sisi, air mata bisa menunjukkan kesedihan seseorang. Ketika ditinggalkan selama-lamanya oleh orang yang disayangi, air mata akan menetes karena merasa kehilangan. Di sisi lain, air mata juga bisa menunjukkan kebahagiaan. Misalnya, air mata yang menunjukkan rasa bangga orang tua melihat anaknya telah mendapatkan gelar sarjana. Bahagia dan sedih bisa diekspresikan dengan satu benda, yaitu air mata. 

Nah, tentang air mata, saya adalah orang yang boleh dikatakan mudah untuk mengeluarkan air mata. Dulu, ketika masih kecil sampai remaja saya masih sering menangis jika dimarahi oleh orang. Bahkan, sampai sekarang pun saya masih biasa menangis. Namun, bukan karena dimarahi lagi, melainkan karena menonton film atau drama. Akhirnya, saya jika diajak menonton film di bioskop saya harus tahu dulu apakah filmya sedih atau tidak. Bukan tanpa alasan, dulu saya dan tiga orang teman pernah menonton bersama film Surga yang Tak Dirindukan. Saat itu, dua orang teman saya menangis ketika menonton salah satu scene dari film tersebut. Teman yang seorang lagi malah asyik menertawakan kedua teman yang menangis tadi. Dari kejadian itulah, saya sudah tak mau menonton film yang ada sedih-sedihnya. Jika saya menonton drama, itu pun harus sendirian karena alasan itu tadi.

Di KBBI V sebenarnya saya mau cari kata ‘air hujan’. Namun, ternyata tak ada. Kata yang ada hanya kata hujan. Di KBBI V tersebut, kata hujan memiliki arti titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan. Walaupun tidak ada kata air yang mendahului kata hujan. Akan tetapi, hujan memiliki kandungan air. Jadi, tidak salah kan saya bahas tentang hujan di tulisan ini? Hujan sangat sering saya jumpai selama Ramadan. Dari hari pertama Ramadan, di sini sudah diguyur hujan. Bahkan, bisa dari pagi sampai malam dan lanjut ke pagi lagi. 

Bagi saya, hujan juga punya dua sisi. Sisi yang menyenangkan dan sisi yang tidak menyenangkan. Saat menyenangkan dari hujan adalah ketika saya bisa memandangi hujan dari rumah. Semua kenangan tiba-tiba bangkit ketika memandangi hujan. Selain itu, tidur saya terasa lebih nyenyak dan durasinya juga lebih lama ketika hujan. Namun, sisi yang tidak menyenangkan dari hujan adalah ketika hari itu saya punya janji dan akan keluar rumah. Bisa jadi saya terlambat memenuhi janji tersebut dan juga sepatu yang saya kenakan akan basah dan kotor terkena genangan air.

Air mata dan hujan sama-sama memiliki dua sisi. Sisi menyenangkan dan tidak menyenangkan. Sama juga dengan kita. Ada beberapa orang di suatu waktu akan menganggap kita sebagai orang yang menyenangkan dan sebagian lainnya di suatu waktu pula akan menganggap kita tidak menyenangkan. Tenang saja, itu bukan kesalahan. Semua orang tidak bisa kita bahagiakan.

#15harimenulis

​Buku dan Kesulitan Memilih

Menentukan pilihan itu sulit. Setidaknya itulah yang saya alami sekarang. Saya sulit menentukan lima buah buku terbaik yang saya baca yang merupakan tema hari ketiga di #15harimenulis ini. Namun, terlepas dari kesulitan itu saya menganggap semua buku bagus bergantung dari cara kita menafsirkan buku tersebut. Akhirnya, tanpa mengurangi kebagusan dari buku-buku lain yang telah saya baca sebelumnya, saya persembahkan beberapa buku yang menurut saya baik untuk dibaca.
1. Sang Alkemis karya Paulo Coelho

Novel ini adalah novel pertama  yang membuat saya membacanya dua kali. Ceritanya menunjukkan tentang Santiago seorang gembala yang rajin membaca buku dan juga seorang pencerita. Suatu malam, Santiago bermimpi mendapatkan harta karun. Tak hanya sekali mimpi itu datang. Ia pun mencari tahu arti dari mimpinya tersebut. Berbagai cara ia lakukan, bertemu dengan perempuan gipsi sampai bertemu seorang raja bernama Melkisedek untuk mendapatkan petunjuk atas mimpinya. Dalam menggapai mimpinya, banyak sekali masalah yang dihadapi Santiago. Mulai dari ia ditipu, bekerja di sebuah toko kristal, bertemu Fatima perempuan yang membuatnya jatuh cinta, sampai bertemu dengan pemimpin perang yang hampir membunuhnya. Santiago adalah representasi manusia yang tak menyerah untuk mewujudkan mimpi yang ia percaya sekalipun banyak sekali rintangan yang dihadapi. Jadi, belajar dari kisah Santiago bahwa memang benar proses tidak akan mengkhianati hasil. Jika masih penasaran dengan kisah Santiago, silakan dibaca buku Sang Alkemis ini.

2. Merahnya Merah karya Iwan Simatupang

Kalau biasanya tokoh yang ada di dalam sebuah cerita diberi nama sesuai jabatan, sesuai peran, atau nama pada umumnya. Namun, tokoh utama dalam novel ini diberi nama Tokoh Kita. Mengapa nama tokohnya Tokoh Kita? Asumsi saya adalah pengarang ingin membuat pembacanya ikut merasa menciptakan tokoh sentral yang ada di dalam novel ini. 

Alur yang disajikan dalam novel ini bukan alur yang sama seperti dalam roman Siti Nurbaya. Alur yang digunakan adalah alur maju mundur atau alur zigzag. Jadi, sebagai pembaca kita mau tak mau harus mampu sambung-menyambungkan kejadiankejadian yang ada di dalamnya. Dalam novel ini, kita akan mendapati Tokoh Kita yang gelandangan, tetapi idealis.

3. Puya ke Puya karya Faisal Oddang

Saya selalu tertarik membaca buku yang kental dengan nuansa lokalitas daerah, terutama Sulawesi Selatan. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah novel Puya ke Puya ini. Di novel ini saya banyak tahu tentang Toraja, tentang rambu solo (upacara kematian), tentang bayi yang dikubur di pohon Tarra, dan banyak lagi tentang Toraja yang saya tahu lewat novel ini. Penyajian novel ini dibagi menjadi tiga pencerita, Rante Ralla, Allu Ralla, dan Maria Ralla. Ketiganya memiliki hubungan bapak dan anak (kakak dan adik). Pertentangan pemikiran tentang budaya antara golongan tua dan golongan muda menjadi salah satu konflik dalam novel ini. 

4. Namaku Matahari karya Remy Silado

Mata Hari adalah seorang tokoh perempuan yang memiliki keturunan Indonesia dan telah jatuh cinta pada Indonesia. Walaupun dia lahir di Belanda dengan nama Margaretha Geertruida, ia begitu kagum dengan kata matahari sehingga mengganti namanya menjadi Mata Hari. Mata Hari adalah seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Selain itu,  karena kecintaannya terhadap tari, ia pun menekuni profesi sebagai penari erotis. Dengan profesinya itu, ia juga sekaligus menjadi agen ganda Prancis dan Jerman dan akhirnya tertangkap dan diberi hukuman mati. Walaupun profesinya sebagai penari erotis (dia lebih suka dengan sebutan penari eksotis), ia adalah gambaran perempuan yang cerdas. Sebagai ibu, dia juga penuh kasih sayang. Seorang perempuan yang memilih hidup merdeka. Dalam novel ini pun akan banyak ditemui katakata yang jarang kita dengar. Jadi, siapkan KBBI ya sebelum membaca novel ini.

5. Kumpulan Puisi Kepalaku Kantor Paling Sibuk di Dunia Karya Aan Mansyur

Keempat buku yang saya sebutkan di atas, semuanya adalah novel. Nah, izinkanlah saya menutup tulisan ini dengan buku kumpulan puisi dari Aan Mansyur. Mengapa memilih buku ini masuk jajaran buku yang baik yang pernah saya baca? Jawabannya saya telah jatuh cinta dengan beberapa puisi yang ada di dalamnya. Saya tak mau membahas isi dari buku puisi ini karena sudah pernah saya tuliskan di blog ini. Selain itu, saya ingin membuat kamu penasaran dengan buku ini. 
Selamat Membaca!
#15harimenulis