Sabarnya Ina

​“We tundukko,” sebuah suara memberi perintah untuk membuat pandangan ke bawah. Saya yang masih mahasiswa baru (maba) takut mendegar suara lantang itu dan tentu saja mematuhi perintah tersebut. Waktu itu kurang lebih ada empat puluh orang mahasiswa baru Jurusan Sastra Indonesia  Unhas yang mengikuti pengaderan, termasuk saya. 

Mahasiswa baru dan pengaderan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Tahun 2011 adalah tahun untuk saya merasakan kedua hal tersebut. Saya bertemu dengan banyak orang baru dengan karakter yang berbeda-beda. Setiap selesai kuliah, kami dikumpulkan oleh senior di belakang himpunan (sekretariat). Hari libur juga tidak luput dari pengumpulan. Di tengah pengaderan, tidak semua yang bertahan pada proses itu. Tersisa sekitar tiga pulhan orang yang melulusi pengaderan. 

Pengaderan mengharuskan kami saling mengenal satu sama lain, bukan cuma nama panggilan yang harus kami tahu, melainkan nama lengkapnya juga. Dari tiga puluhan orang tersebut, ada satu nama yang frekuensi kebersamaannya dengan saya lebih banyak dibandingkan dengan teman yang lain. Hampir semua kegiatan di himpunan kami selalu selalu terlihat bersama-sama. Bahkan, ada senior yang menganggap kami kembar. ketika kami namanya dipanggil biasa tertukar. Kalau salah satu datang di sebuab kegiatan dan tidak terlihat bersama, pasti orang-orang akan bertanya di mana yang satunya. Kami juga sering makan bersama, pergi ke mana-mana sering bersama. Dia juga biasa menginap di kos saya waktu kegiatan himpunan mengharuskan kami pulang larut malam. 

Namanya Nikarlina, kami biasa memanggilnya Ina.  Ada juga yang memanggilnya Lina karena ada salah satu senior yang namanya sama dengannya. Dia merupakan keturunan Bugis, tepatnya Bugis Bone. Dia lahir tahun 1995, tepatnya tanggal 6 Januari. Dari semua teman angkatan saya, dialah yang paling muda, makanya jika dulu kami disuruh berbaris berdasarkan umur pastilah dia ada di barisan paling belakang.

Sudah banyak kejadian-kejadian yang kami alami bersama. Mulai dari kejadian yang menyedihkan, menyenangkan, dan memalukan. Rasanya seperti nano-nano. Dia jugalah salah satu orang yang pernah mengajari saya naik motor. Waktu itu, dia mengajari saya naik motor di jalan sekitar Unhas. Kami mengelilingi Unhas bersama, saya menyetir dia ada di belakang saya memberi arahan. Awalnya saya bawa motor lancar-lancar saja. Dari arah fakultas teknik, motor akan belok kiri ke jalan menuju gedung rektorat. Saat itu, gasnya terlalu tinggi dan cara saya membelokkan motor terlalu ke kanan. Akhirnya, kami pun jatuh.

“Ina nda apa-apa ji?” Tanya saya khawatir

Ndaji, kauyya?” Dia balik bertanya

Ndaji, tapi sakitnya telingaku, mauka menangis tapi nda bisa keluar air mataku,” jawab saya waktu itu.

Di dekat lokasi kami jatuh, tiga orang yang sedang berjalan kaki berlari menuju kami untuk membantu. Mereka membangunkan motor yang posisinya jatuh ke samping. Syukur kami berdua tidak apa-apa. Motornya Ina kami bawa ke bengkel yang ada di pintu satu Unhas karena salah satu bagiannya terlepas, tetapi tidak parah. Kami hanya membayar Rp.5.000,00 waktu itu. Di motor tersebut juga banyak goresan-goresan. Sampai sekarang, saya belum memperbaiki goresan-goresan di motor Ina. Ina juga tidak pernah menuntut untuk motornya diperbaiki.

Ina juga pernah mengajari saya menari. Kami masih menjadi pengurus di himpunan waktu itu. Program kerja saat itu adalah Festival Sastra Indonesia (FSI). Saya memang belum pernah menari sebelumnya. Dengan sabar, Ina mengajarkan saya gerakan-gerakan Tari Pa’duppa. Badan saya yang kaku tentu saja membuat gerakan yang saya buat terlihat sangat kaku. Saking kakunya, seorang senior pernah mengatakan, “Seperti orang-orangan sawah.” Akan tetapi, Ina tak pernah marah waktu mengajari saya.

Ketika ajakan untuk buka puasa bersama di sebuah grup media sosial kurang yang merespon, Ina juga tetap sabar dan malah menghubungi satu per satu dari kami. Namun, hasilnya tetap tak banyak yang datang. Hanya empat orang yang datang waktu itu. 

Semoga tidak hilang kesabaran Ina karena Allah bersama orang-orang yang sabar!
#15harimenulis

​Obrolan dengan Cinta Pertama

Seharian saya merenung memikirkan siapa cinta pertama saya. Tidak ada seorang pun terpikir dalam kepala. Sampai sore hari saya masih berpikir dan bertanya pada diri sendiri, “Siapa ya cinta pertama saya?” Waktu berbuka pun tiba, satu nama untuk memenuhi tema menulis hari ini belum terpikir sama sekali. Buka puasa, salat magrib, dan makan malam sudah saya lakukan. “Ayomi pergi e,” sebuah suara mengajak saya untuk bergegas  meninggalkan rumah. Muncullah ide untuk memenuhi tema menulis hari ini. “Ahhaaa, ini ada pale e sosok cinta pertamaku, kenapa nda terpikir dari tadi,” gumam saya dalam hati.

Saya pun menaikkan semua barang ke dalam mobil. Kami akan menempuh perjalanan ke Makassar. Dia menyetir dan saya duduk di sampingnya. Dalam mobil itu, penumpangnya hanya dua, saya dan dia. Untuk memecah keheningan dan menghilangkan kantuk, kami pun bercakap-cakap. Dia yang memulai obrolan. Sesekali saya bertanya tentang alasan di masjid sudah tidak ada yang membawa takjil lagi untuk berbuka puasa atau alasan di masjid dekat rumah tak ada yang mau salat sunah dua rakaat setelah isya. Dia lebih lama hidup di kampung tentu dia tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Maklum, sudah enam tahun saya tidak menetap di kampung karena menempuh pendidikan di kota daeng. Banyak sekali yang berubah dari masjid itu makanya saya menanyakannya.

Beberapa kali hening, tetapi beberapa kali juga kami bergantian bertanya. Kali ini giliran dia bertanya. “Gelar apa itu kalau S.Pt.?” Tanyanya setelah dia melihat spanduk yang terpasang di pagar warga ketika kami melintasi jalanan. “Sarjana Peternakan.” Jawab saya. “Kalau sarjana pertanian S.P. ​ji di’?. “Iye cocokmi.” Saya membenarkan perkataannya. Dia ingin tahu banyak tentang kehidupan yang saya jalani di kampus. Saya pun ingin banyak tahu tentang kampung kelahiran saya yang jarang saya temui itu. Dia juga sesekali memberitahukan kehidupan teman-teman saya yang ia temui.

Ketika mobil sudah ada di Jeneponto, ia tiba-tiba menawari saya untuk belajar mengemudi mobil. Belajar naik sepeda dan naik motor dia jugalah yang mengajari. Bahkan, tekadnya mengajari lebih kuat daripada tekad saya untuk belajar. Alhasil, saya sudah bisa mengendarai motor walaupun saya tidak yakin masih bisa naik sepeda sekarang.

Ingatan saya pun kembali ke Ramadan tahun lalu. Di tahun 2016, tepatnya bulan Ramadan, salah satu stasiun televisi swasta menyiarkan secara langsung pertandingan Piala Eropa. Saya pun menontonnya berdua dengannya. Kadang, dialah yang membangunkan saya untuk makan sahur sekaligus nonton pertandingan itu. Dia tak mau nonton sendiri, akhirnya saya pun menemaninya karena saya pun suka menonton pertandingan olahraga, termasuk bola. Mungkin karena dia jugalah saya suka menonton pertandingan bola karena dulu saya sering ikut duduk menonton siaran pertandingan bola . Dari dialah saya tahu arti istilah offside.

“Yang bagaimanakah itu offside?” Tanya saya waktu itu.

“Itu offside, waktu mengumpan bola ke temannya,  ini yang dapat umpan bola lebih dekatki ke gawang daripada itu lawannya, atau ini yang terima umpan tinggal penjaga gawang yang dia hadapi.” Jawabnya menjelaskan. Kurang lebih seperti itulah penjelasannya tentang  offside tersebut.

Tak hanya tentang bola, kami pun pernah mengobrolkan pertandingan bulu tangkis ketika itu sedang digelar Piala Sudirman di bulan Mei. Jadwal hari itu adalah pertandingan Indonesia melawan India.Waktu itu dia bertanya tentang siapa yang menang antara Indonesia dan India. Akan tetapi, saya juga tidak menontonnya sampai tuntas karena pertandingan itu sebanyak lima partai, ganda campuran, ganda putri, ganda putra, tunggal putra, dan tunggal putri. Tidak semua saya tonton. Saya pun menjawabnya dengan jawaan tidak tahu.

Obrolan-obrolan ringan itulah yang biasa saya lakukan dengan dia. Dia adalah bapak saya yang memiliki kesukaan yang sama, yaitu di bidang olahraga. Namun, hanya kesukaan sebagai menonton bukan bermain olahraga. Sayang, kami tidak bisa menonton bersama pertandingan Indonesia Open 2017. Saya di Makassar dan dia di Bantaeng. Semoga bisa menonton pertandingan olahraga bersama lagi ya pak, seperti waktu menonton Piala Eropa 2016.
#15harimenulis

Perihal Mi Instan

​Siapa yang tidak kenal dengan mi instan? Mi instan boleh dikatakan adalah salah satu jenis makanan sejuta umat. Mulai anak-anak sampai lansia bisa menikmatinya. Ia bisa diterima di semua kalangan. Mi instan sendiri diartikan sebagai mi dadak. Mi dadak  adalah mi yang setelah dimasak sekejap sudah siap untuk dimakan. Dari pengertiannya, pantas saja mi tersebut digelari mi instan karena prosesnya yang dimasak tanpa memakan waktu terlalu lama.Dengan berbagai merek dan varian rasa kita dibebaskan untuk memilih sesuai isi kantong dan selera. Mulai dari merek S*kura, S*jati, Ind*mie, Mi g*las, dan masih banyak lagi. Varian rasa pun juga beraneka ragam, misalnya rasa soto, rasa ayam bawang, dan rasa-rasa yang lain. 

Sebagai anak kos, tentunya saya tak pernah lepas dari mi instan. Rak bagian atas dari lemari tempat piring hampir tak pernah kosong oleh mi instan. Hal ini sebagai antisipasi jika lapar melanda dan saat itu sedang malas memasak atau apabila nanti terbangun di tengah malam karena kelaparan. Mi instan juga bisa dijadikan sebagai pelarian saat uang di dompet sedang tipis. Namun, di saat dompet sedang tebal, mi instan seolah terlupakan.

Untuk menikmati mi instan, tak perlu waktu khusus. Pagi, siang, sore, malam, tengah malam, atau subuh. Penyajiannya juga tidak membuat kepala pusing, tinggal lihat saran penyajian yang ada di bagian belakang kemasan. Kita juga bisa membuat mi instan sesuai dengan yang ada di iklan. Penyajian mi instan yang biasa saya lakukan adalah tentunya mi instan dimasak terlebih dahulu. Air rebusan pertamanya saya buang kemudian ditambah lagi dengan air yang baru. Tentunya saya juga menambahkan telur rebus ke dalamnya apabila saya makan mi instan rasa soto. Kalau saya makan mi instan dengan rasa mi goreng, telurnya telur mata sapi. Setelah mi dan telur tercampur tak lupa saya menambahkan sambal, kecap, dan cuka sesuai selera. Satu lagi bahan yang harus masuk dalam mi instan saya yaitu daun bawang. Setelah semua bahan sudah ada dalam sebuah mangkok barulah siap untuk dinikmati. Namun, jika lapar tengah malam melanda, saya tak sempat menyiapkan mi instan seperti yang saya sebutkan di atas.

Mi instan juga bisa dijadikan sebagai ajang berkreasi. Mi instan bisa dibuat menjadi martabak mi dengan dicampur terlebih dahulu dengan telur lalu digoreng. Mi instan juga bisa dibuat menjadi pizza mi dengan campuran sosis, paprika, jamur, keju, terigu, dan telur.

Mi instan adalah makanan ‘mulia’. Namun, ia tak luput dikambinghitamkan dalam beberapa hal. “Mentang-mentang sering makan mi instan jadinya semua yang kau lakukan juga maunya serba instan.” Kira-kira begitulah kalimat yang pernah saya dengar tentang mi instan. Perihal copy paste yang biasa terjadi di tugas perkuliahan. Padahal, bisa saja bukan kesalahan (sepenuhnya) ada pada mi instan. Malah, mi instanlah sang penyelamat, di kala lapar dan uang tinggal sedikit di dompet datanglah ide makan mi instan yang tak perlu banyak uang yang dikeluarkan untuk memakannya. Dia adalah penyelamat. Akan tetapi, sering dikambinghitamkan. Bersyukur karena mi instan tidak bisa berbicara. Bagaimana jika seandainya ia bisa berbicara? Apa yang akan ia katakana perihal pengambinghitamannya?

“Kalian ya tidak tau diri, sudah bagus saya masih ada di saat kalian sedang kere. Kalian harusnya berterima kasih. Ini kok jadi saya yang dipersalahkan? Kira-kira itulah dialog yang akan dikatakan oleh si mi instan jika saja ia dapat berbicara dan membela diri.

​Air Mata dan Hujan

Air tentunya salah satu hal penting yang harus ada di dunia ini agar kita masih bisa melanjutkan kehidupan. Mulai dari air untuk minum, air untuk mandi, dan air untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya. Saya pun iseng membuka KBBI V untuk mengetahui ada berapa kata yang menggunakan kata air. Ternyata ada seratus lebih kata yang menggunakan kata air. Kata air dipakai dalam pembentukan kata majemuk, misalnya air  asin, air susu, dan air beras. Tak ketinggalan kata air juga dipakai dalam peribahasa, misalnya air beriak tanda tak dalam. Ini menandakan bahwa kata air memiliki makna yang luas bergantung kata yang mengikutinya.

Dari sekian banyak kata dan peribahasa yang menggunakan kata air, ada kata air mata yang memiliki dua sisi. Sisi bahagia dan sisi sedih. Air mata bisa menunjukkan dua keadaan yang berlawanan tersebut. Di satu sisi, air mata bisa menunjukkan kesedihan seseorang. Ketika ditinggalkan selama-lamanya oleh orang yang disayangi, air mata akan menetes karena merasa kehilangan. Di sisi lain, air mata juga bisa menunjukkan kebahagiaan. Misalnya, air mata yang menunjukkan rasa bangga orang tua melihat anaknya telah mendapatkan gelar sarjana. Bahagia dan sedih bisa diekspresikan dengan satu benda, yaitu air mata. 

Nah, tentang air mata, saya adalah orang yang boleh dikatakan mudah untuk mengeluarkan air mata. Dulu, ketika masih kecil sampai remaja saya masih sering menangis jika dimarahi oleh orang. Bahkan, sampai sekarang pun saya masih biasa menangis. Namun, bukan karena dimarahi lagi, melainkan karena menonton film atau drama. Akhirnya, saya jika diajak menonton film di bioskop saya harus tahu dulu apakah filmya sedih atau tidak. Bukan tanpa alasan, dulu saya dan tiga orang teman pernah menonton bersama film Surga yang Tak Dirindukan. Saat itu, dua orang teman saya menangis ketika menonton salah satu scene dari film tersebut. Teman yang seorang lagi malah asyik menertawakan kedua teman yang menangis tadi. Dari kejadian itulah, saya sudah tak mau menonton film yang ada sedih-sedihnya. Jika saya menonton drama, itu pun harus sendirian karena alasan itu tadi.

Di KBBI V sebenarnya saya mau cari kata ‘air hujan’. Namun, ternyata tak ada. Kata yang ada hanya kata hujan. Di KBBI V tersebut, kata hujan memiliki arti titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan. Walaupun tidak ada kata air yang mendahului kata hujan. Akan tetapi, hujan memiliki kandungan air. Jadi, tidak salah kan saya bahas tentang hujan di tulisan ini? Hujan sangat sering saya jumpai selama Ramadan. Dari hari pertama Ramadan, di sini sudah diguyur hujan. Bahkan, bisa dari pagi sampai malam dan lanjut ke pagi lagi. 

Bagi saya, hujan juga punya dua sisi. Sisi yang menyenangkan dan sisi yang tidak menyenangkan. Saat menyenangkan dari hujan adalah ketika saya bisa memandangi hujan dari rumah. Semua kenangan tiba-tiba bangkit ketika memandangi hujan. Selain itu, tidur saya terasa lebih nyenyak dan durasinya juga lebih lama ketika hujan. Namun, sisi yang tidak menyenangkan dari hujan adalah ketika hari itu saya punya janji dan akan keluar rumah. Bisa jadi saya terlambat memenuhi janji tersebut dan juga sepatu yang saya kenakan akan basah dan kotor terkena genangan air.

Air mata dan hujan sama-sama memiliki dua sisi. Sisi menyenangkan dan tidak menyenangkan. Sama juga dengan kita. Ada beberapa orang di suatu waktu akan menganggap kita sebagai orang yang menyenangkan dan sebagian lainnya di suatu waktu pula akan menganggap kita tidak menyenangkan. Tenang saja, itu bukan kesalahan. Semua orang tidak bisa kita bahagiakan.

#15harimenulis

​Buku dan Kesulitan Memilih

Menentukan pilihan itu sulit. Setidaknya itulah yang saya alami sekarang. Saya sulit menentukan lima buah buku terbaik yang saya baca yang merupakan tema hari ketiga di #15harimenulis ini. Namun, terlepas dari kesulitan itu saya menganggap semua buku bagus bergantung dari cara kita menafsirkan buku tersebut. Akhirnya, tanpa mengurangi kebagusan dari buku-buku lain yang telah saya baca sebelumnya, saya persembahkan beberapa buku yang menurut saya baik untuk dibaca.
1. Sang Alkemis karya Paulo Coelho

Novel ini adalah novel pertama  yang membuat saya membacanya dua kali. Ceritanya menunjukkan tentang Santiago seorang gembala yang rajin membaca buku dan juga seorang pencerita. Suatu malam, Santiago bermimpi mendapatkan harta karun. Tak hanya sekali mimpi itu datang. Ia pun mencari tahu arti dari mimpinya tersebut. Berbagai cara ia lakukan, bertemu dengan perempuan gipsi sampai bertemu seorang raja bernama Melkisedek untuk mendapatkan petunjuk atas mimpinya. Dalam menggapai mimpinya, banyak sekali masalah yang dihadapi Santiago. Mulai dari ia ditipu, bekerja di sebuah toko kristal, bertemu Fatima perempuan yang membuatnya jatuh cinta, sampai bertemu dengan pemimpin perang yang hampir membunuhnya. Santiago adalah representasi manusia yang tak menyerah untuk mewujudkan mimpi yang ia percaya sekalipun banyak sekali rintangan yang dihadapi. Jadi, belajar dari kisah Santiago bahwa memang benar proses tidak akan mengkhianati hasil. Jika masih penasaran dengan kisah Santiago, silakan dibaca buku Sang Alkemis ini.

2. Merahnya Merah karya Iwan Simatupang

Kalau biasanya tokoh yang ada di dalam sebuah cerita diberi nama sesuai jabatan, sesuai peran, atau nama pada umumnya. Namun, tokoh utama dalam novel ini diberi nama Tokoh Kita. Mengapa nama tokohnya Tokoh Kita? Asumsi saya adalah pengarang ingin membuat pembacanya ikut merasa menciptakan tokoh sentral yang ada di dalam novel ini. 

Alur yang disajikan dalam novel ini bukan alur yang sama seperti dalam roman Siti Nurbaya. Alur yang digunakan adalah alur maju mundur atau alur zigzag. Jadi, sebagai pembaca kita mau tak mau harus mampu sambung-menyambungkan kejadiankejadian yang ada di dalamnya. Dalam novel ini, kita akan mendapati Tokoh Kita yang gelandangan, tetapi idealis.

3. Puya ke Puya karya Faisal Oddang

Saya selalu tertarik membaca buku yang kental dengan nuansa lokalitas daerah, terutama Sulawesi Selatan. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah novel Puya ke Puya ini. Di novel ini saya banyak tahu tentang Toraja, tentang rambu solo (upacara kematian), tentang bayi yang dikubur di pohon Tarra, dan banyak lagi tentang Toraja yang saya tahu lewat novel ini. Penyajian novel ini dibagi menjadi tiga pencerita, Rante Ralla, Allu Ralla, dan Maria Ralla. Ketiganya memiliki hubungan bapak dan anak (kakak dan adik). Pertentangan pemikiran tentang budaya antara golongan tua dan golongan muda menjadi salah satu konflik dalam novel ini. 

4. Namaku Matahari karya Remy Silado

Mata Hari adalah seorang tokoh perempuan yang memiliki keturunan Indonesia dan telah jatuh cinta pada Indonesia. Walaupun dia lahir di Belanda dengan nama Margaretha Geertruida, ia begitu kagum dengan kata matahari sehingga mengganti namanya menjadi Mata Hari. Mata Hari adalah seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Selain itu,  karena kecintaannya terhadap tari, ia pun menekuni profesi sebagai penari erotis. Dengan profesinya itu, ia juga sekaligus menjadi agen ganda Prancis dan Jerman dan akhirnya tertangkap dan diberi hukuman mati. Walaupun profesinya sebagai penari erotis (dia lebih suka dengan sebutan penari eksotis), ia adalah gambaran perempuan yang cerdas. Sebagai ibu, dia juga penuh kasih sayang. Seorang perempuan yang memilih hidup merdeka. Dalam novel ini pun akan banyak ditemui katakata yang jarang kita dengar. Jadi, siapkan KBBI ya sebelum membaca novel ini.

5. Kumpulan Puisi Kepalaku Kantor Paling Sibuk di Dunia Karya Aan Mansyur

Keempat buku yang saya sebutkan di atas, semuanya adalah novel. Nah, izinkanlah saya menutup tulisan ini dengan buku kumpulan puisi dari Aan Mansyur. Mengapa memilih buku ini masuk jajaran buku yang baik yang pernah saya baca? Jawabannya saya telah jatuh cinta dengan beberapa puisi yang ada di dalamnya. Saya tak mau membahas isi dari buku puisi ini karena sudah pernah saya tuliskan di blog ini. Selain itu, saya ingin membuat kamu penasaran dengan buku ini. 
Selamat Membaca!
#15harimenulis

Daftar Sempat yang Tertunda

Memiliki banyak hal yang ingin dilakukan tentu tak ada salahnya sepanjang bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Namun, tidak semua yang kita inginkan bisa tercapai. Adakalanya, yang kita inginkan itu masih tertunda. Saya pun masih memiliki beberapa hal yang belum sempat saya lakukan.

Yang Belum Sempat Saya Lakukan dengan Teman Angkatan

Bulan Ramadan rasanya tak lengkap kalau tak ada ajakan buka bersama atau diakronimkan menjadi bukber. Ajakan tersebut bisa datang dari teman angkatan pas kuliah, teman SMA, teman SMP, sampai teman SD. Di media sosial sudah banyak teman yang mengunggah foto bukber mereka. Melihat unggahan tersebut, tentunya timbul juga keinginan untuk buka puasa bersama, terlebih dengan teman angkatan saya selama kuliah. Tahun lalu kami gagal melakukan bukber. Namun, tahun ini saya berharap bisa bukber dengan orang-orang di angkatan yang diberi nama Deskripsi 2011. Ya, nama angkatan kami adalah Deskripsi 2011. Deskripsi merupakan akronim dari kaderisasi dan pengenalan Sastra Indonesia. Deskripsi sendiri kalau sesuai KBBI V itu memiliki makna pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci. Nama ini diberikan kepada kami tentunya memiliki tujuan. Tujuan yang saya pahami adalah bahwa saya dan teman-teman diharapkan mampu menjadi gambaran yang jelas dari sebuah himpunan yang membawahkan kami. 

“Bukber yuk!”

“Ayomi bukber.”

“Yuklah.”

Kirakira itulah beberapa pesan yang ada di media sosial. Isinya sama, samasama mengajak untuk bukber. Pesan ini muncul di grup Line. Percakapan yang terjadi di grup masih sebatas ajakan, waktu dan tempatnya masih samar-samar, belum jelas. Hari ini puasa sudah memasuki hari keenam belas. Namun, ajakan tersebut belum menjadi sebuah temu. Semoga tak berakhir menjadi sebuah wacana belaka

Yang Belum Sempat Saya Lakukan sebagai Anak 

Ibu dan bapak hanya punya dua orang anak. Saya dan seorang adik laki-laki. Kami berdua jarang berada di rumah. Saya lebih banyak tinggal di Makassar dan adik sedang berada di Banjarmasin. Adik saya, entah karena berada jauh dari rumah, sering sekali menelepon untuk memberi kabar dan menanyakan apakah bapak dan ibu sehat. Obrolan-obrolan seperti itulah yang juga diharapkan terjalin antara saya dengan bapak dan ibu. Namun, saya jarang sekali menelepon ke rumah. Paling saya menelepon karena ada hal yang penting dan mendesak yang harus dibicarakan. Perbedaan di antara kedua anaknya menyebabkan ibu dan bapak sering sekali membandingkan saya dan adik. “Itu adekmu seringnya tawwa menelpon, kau iyya nda pernah,” kata ibu saya. Mendengar kalimat itu, saya hanya diam tak mampu berkata-kata. Sebenarnya, saya ingin membela diri tapi saat itu saya sedang malas menjelaskan. 

Saya belum sempat menjadi anak yang baik untuk orang tua dengan banyak memberi kabar kepada mereka. Walaupun belum menjadi anak yang baik, tetapi semoga tidak menjadi anak yang durhaka. Jangan sampai nasib saya seperti Malin Kundang. Satu hal pertama yang saya inginkan di usia 23 tahun ini adalah menjadi anak yang frekuensi menelponnya kurang lebih sama dengan adik agar tak dibanding-bandingkan lagi. 

Yang Belum Sempat Saya Lakukan untuk Diri Sendiri

Hampir sebulan saya berada di kampung halaman. Namun, belum sempat merasakan keindahan kampung halaman saya ini. Banyak sekali tempat wisata yang ingin dikunjungu. Mulai dari Pantai Seruni, Mini Showfarm, sampai kebun stroberi. Semua itu belum sempat saya rasakan keindahannya. Niat untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut selalu ada. Namun, apa daya cuaca tak mendukung. Ya, selama Ramadan hari-hari selalu dipenuhi dengan hujan. Selama enam belas hari puasa, cuma di hari kelima belaslah saya bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Hari-hari yang lain selalu dipenuhi dengan rintik hujan. Alhasil, rencana untuk mengunjugi tempat-tempat tersebut masih tertunda sampai saat ini

Kamu bagaimana? Masih banyak hal yang belum sempat kamu lakukan juga?

#15harimenulis

Tetangga dan Kesalingan

​Dua hari belakangan ini, berkunjung ke rumah tetangga adalah kebiasaan baru saya. Bukan tak ada alasan. Di kampung saya, khususnya tetangga-tetangga, sedang menggeliat semangat untuk membuat kerajinan tangan berupa bunga dari kantong plastik dan dari plastik jilid. Tidak ketinggalan ibu saya. Alhasil, sebagai satu-satunya anak perempuan, saya harus ikut membantu.

Hari pertama, kantong plastik dan kertas jilid yang telah dibeli oleh ibu dibawa ke rumah tetangga untuk dibuatkan bunga, tidak lupa gunting juga ikut dibawa. Saya pun harus ikut supaya saya bisa melihat proses pembuatannya. Jadi, nanti jika masih ingin membuat lagi tak perlu membawanya ke rumah tetangga, cukup dilakukan di rumah saja. Tak membutuhkan waktu terlalu lama kantong plastik dan kertas jilid telah berubah menjadi rangkaian bunga. Lebih cepat jika hanya sendiri yang mengerjakannya. Maklum saja, kami mengerjakannya bertujuh, lima orang dewasa dan dua anak-anak.

Hari itu ibu saya juga mendapat kiriman sayur berupa buncis dari saudaranya. Kebetulan bapak juga sedang ingin makan sayur buncis dicampur nangka maka ia pergi ke kebun untuk mencari nangka. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada tetangga-tetangga yang telah membantu membuatkan bunga, ibu saya memberikan buncis dan nangka tersebut untuk dimasak. Mereka pun girang tak terkira karena membayangkan betapa enaknya sayur yang akan mereka masak. Terbayang sajian sayur yang akan mereka nikmati nanti akhirnya berganti menu juga.

Besoknya di siang hari, Ibu saya bangun dari tidurnya karena mendengar suara gaduh yang bersumber di depan rumah. Ternyata beberapa orang terlihat berkumpul di salah satu rumah panggung, tentu bisa ditebak apa yang mereka lakukan, ya apalagi kalau bukan perihal bunga dari plastik tersebut. Di atas rumah panggung yang terletak pas di depan rumah, terlihat beberapa orang sedang menggunting plastik, yang lain merangkai plastik-plastik tersebut dan mengaitkannya ke sebuah kawat, terlihat sampah guntingan sisa plastik bertebaran di sekitar mereka. Saya pun tak ingin ketinggalan dan ikut bergabung. Saya merasa perlu bergabung karena di hari sebelumnya tetangga saya itu telah membantu, sekarang giliran sayalah yang membantunya.

Begitulah kami menjalani hidup bertetangga. Saling meringankan pekerjaan masing-masing dan saling berbagi makanan jika bahan makanannya memungkinkan untuk dibagi. Perihal hidup bertetangga, saya teringat akan sebuah drama korea yang berjudul Reply 1988. Di drama tersebut terlihat tetangga yang satu dengan tetangga yang lain saling memberi makanan yang diantarkan oleh anak-anak mereka. 

Begitulah kami menjalani kehidupan bertetangga, saling meringankan beban satu sama lain. Yang lain akan membantu pekerjaan yang satu. Hal ini tidak hanya dilihat dari pekerjaan sederhana seperti ini. Akan tetapi, kita juga bisa dapati momen saling membantu pada acara pernikahan. Para tetangga akan datang ke rumah yang empunya acara membantu membuat makanan untuk menjamu tamu undangan yang akan datang. Saudara yang rumahnya jauh juga biasanya juga turut hadir di acara penting tersebut. Mereka datang tentu bukan dengan tangan kosong, biasanya mereka membawa beras, gula, terigu, atau barang-barang lain yang dibutuhkan yang empunya acara. Ini sebagai bentuk balas budi atau (mungkin) sebagai pengeksistensian diri. Dengan berkumpulnya tetangga yang satu dengan tetangga yang lain tentunya akan banyak cerita yang terjalin. Mulai dari cerita tentang anak perempuan mereka yang tak bisa masak padahal biasanya di rumah anaknyalah yang memasak, membandingkan acara pernikahan yang satu dengan yang lain, atau sibuk menyuruh orang yang duduk di sekelilingnya untuk makan. Dari obrolan-obrolan para tetangga tersebut maka terjalinlah keakraban.
#15harimenulis

Jangan Sampai Ada Ue di Tulisan Ilmiahmu 

Pintu tiba-tiba terbuka dengan kecepatan sepersekian detik. Seorang perempuan muncul  dengan memakai baju batik berwarna hijau, sedangkan jilbab dan rok berwarna senada, warna coklat. Ya, hari itu adalah hari Sabtu. Di bahu perempuan itu tergantung tas pianika. Bibirnya monyong karena tidak tahu ruang tempat belajarnya diganti, akibatya ia salah masuk kelas. Dari pintu, ia melangkah masuk ke ruang kelas sambil ditertawakan oleh teman-temannya karena mendengar si perempuan tadi diejek oleh pengajar di kelas sebelah. Karena tak tahan, ia pun mencoba meredakan tawa-tawa itu. Tapi semakin dia melarang temannya untuk tertawa semakin keras tertawa yang ia dengar.

“ We sans ko nah,” kata perempuan itu sambil bibir masih dalam posisi monyong.

Belakangan, saya ketahui bahwa sans ternyata adalah santai. Di kelas lain pun saya pernah mendengar seorang siswa SMA menggunakan kata sokab. Sokab ternyata adalah sok akrab. Akhir-akhir ini, saya semakin sering mendengar kedua kata tersebut. Sokab dan sans adalah salah dua bahasa yang dipakai di kalangan remaja saat ini. Kedua kata tersebut hanya digunakan oleh sekelompok orang yang sekarang lebih dikenal dengan bahasa gaul.

Bahasa gaul sebenarnya berasal dari bahasa prokem. Sejarah adanya bahasa prokem bisa dilacak dimulai sekitar paruh kedua dasawarsa 1950-an yang hanya digunakan oleh para bromocorah kemudian menjadi tren di kalangan anak muda kota. Bahasa prokem pun akhirnya meluas di kalangan para anak muda di dasawarsa 1970-an setelah hadir Teguh Esha yang dalam novelnya memperkenalkan kata-kata bahasa prokem. Bahasa ini umumnya digunakan di Jakarta tahun 1970-an. sebenarnya berasal dari kata preman yang dipotong dua fonem akhirnya, jadi tinggal prem. Prem ini lalu disisipkan ‘ok’ sesudah pr dan sebelum em. Akhirnya terbentuklah kata prokem. Bahasa prokem sekarang lebih dikenal sebagai bahasa gaul.

Belakangan juga muncul bahasa alay. Ada yang membedakan antara bahasa gaul dan bahasa alay. Bahasa gaul itu digunakan untuk ragam lisan, misalnya dalam percakapan seorang remaja mengucapkan sokab pada temannya yang sebenarnya yang dimaksudkan adalah sok akrab. Bahasa alay adalah bahasa yang digunakan pada ragam tulis, misalnya Contw0h b4h45A AL4y 1tU Sperty 1n1. Namun, tulisan ini akan membahas bahasa gaul saja.

Penggunaan bahasa gaul lebih dominan digunakan antarremaja di lingkungannya. Zaimah, seorang pelajar SMPN 35 Makassar mengatakan bahwa ia menggunakan bahasa gaul jika berbicara dengan teman-temannya. Bahasa gaul yang dipakai contohnya ue untuk menyatakan gue atau saya, sans untuk menyatakan santai, oaza/oaja untuk menggantikan kata oh.

“Kalau kayak sans, oaza atau oaja, pakbal, sokab itu semua dipake sama orang yang akrab paki kak,” katanya sambil menggoyang-goyangkan pulpen di tangan kanannya. Diakui pula oleh Zaimah bahwa ia menggunakan bahasa gaul karena mengikuti tren.

Aziza Hamka, seorang siswa SMA Negeri 21 Makassar juga mengaku sering menggunakan bahasa gaul dengan temannya. Bahasa gaul yang biasa Cica ̶ begitu ia akrab disapa ̶  gunakan tak jauh berbeda dengan yang digunakan oleh Zaimah, seperti kata sans, pakbal, dan sokab. Namun, Cica juga pernah menggunakan kepada ibunya, “Kalau ke Ibuku pernahka kak gunakan kayak ‘sans lah bu’ terus ibuku tanyami artinya ke saya, sudah itu dia pake juga ke temannya, baru temannya natanyaki lagi ibuku apa artinya,” terang Cica sambil sesekali menatap layar telepon genggamnya.

Diakui Zaimah dan Cica bahwa kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi dengan teman-temannya itu berasal dari media sosial, seperti youtube, salah satunya akun Reza Arap, instagram, dan di wattpadd.

Bahasa gaul yang sering dipakai oleh remaja merupakan sesuatu yang wajar. Remaja memang memiliki kecenderungan untuk mengikuti kelompoknya. “Ada istilah konformitas. berperilaku sesuai teman kelompoknya. Kalau temannya alim, ia juga akan ikut alim. Kalau sebaliknya juga seperti itu,” terang Emilia Mustary, seorang psikolog, lewat media sosial WhatsApp ketika saya menanyakan tentang penyebab remaja suka menggunakan bahasa gaul. Kecenderungan mengikuti teman kelompoknya disebabkan oleh pergaulan remaja lebih banyak dengan teman sebayanya dibandingkan dengan keluarga. Emilia menambahkan bahwa bahasa gaul itu cenderung tidak bermasalah yang penting remaja tetap diingatkan penggunaannya. Misalnya dengan orang tua penggunaannya cenderung dikurangi.

Setali tiga uang dengan Emilia, Anwar Jimpe Rahman yang dikenal sebagai peneliti, penulis, pustakawan, sekaligus bekerja di rumah penerbitan yang berfokus pada kebudayaan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat juga menganggap bahwa penggunaan bahasa gaul boleh-boleh saja. Menurutnya, bahasa gaul tersebut adalah bagian dari kebudayaan. “Bahasa itu kan bagian dari budaya, budaya itu kan cair cepat sekali berubah.”

Dikatakannya pula bahwa bahasa gaul juga bisa sebagai penanda zaman. Misalnya, di tahun 1980-an itu pernah ada kata doski, tetapi kata tersebut sempat hilang dan sekarang muncul lagi. Di tahun 1990-an ia juga pernah menggunakan kata biskal dengan teman-temannya ketika masih berkuliah. “Biskal itu adalah singkatan dari bisikan kalbu, kalau sekarang disebut curhat. Biskal itu bisa digolongkan ke dalam istilah lokal karena awalnya dulu itu di radio ada salah satu nama acara yang namanya biskal, dari acara tersebutlah akhirnya muncul istilah biskal itu.” Selain kata biskal, kata lain yang pernah digunakan adalah kata ‘palsu’ untuk mengatakan balle-balle atau berbohong. Sebagai pengguna bahasa gaul sekaligus penulis ia tetap mengingatkan bahwa ketika menulis dalam ragam ilmiah jangan sampai bahasa gaul memengaruhi tulisan yang ditujukan untuk kegiatan yang resmi atau ilmiah

Jika dilihat dari segi bahasa, bentuk-bentuk bahasa gaul yang hadir di kalangan remaja banyak menggunakan singkatan, seperti kata sans, pakbal, dan sokab. Penyingkatan kata-kata itu memang menjadi ciri tersendiri dari bahasa gaul. Hal ini dibenarkan oleh Ketua Prodi S3 Linguistik Unhas, Dr. Ikhwan M. Said, M.Hum., bahwa salah satu ciri dari penggunaan bahasa gaul adalah dengan memperpendek, mengurangi, atau menyingkat dari bentuk aslinya.

Kata sans, sokab, pakbal, ue, dan oaza/oaja merupakan beberapa contoh yang sering digunakan oleh remaja saat ini. Beberapa orang teman yang saya tanya tentang kata-kata di atas mengaku baru pertama mendengar dan tidak tahu artinya maka dari itu mari kita lihat arti dan proses terbentuknya kata-kata tersebut.

1.Sans

sanslah’, kata tersebut memiliki makna santailah. Digunakan untuk menyuruh orang yang sedang pusing atau berbicara dengan nada tinggi agar santai saja. Proses terbentuknya kata ini dengan dua cara, yaitu cara apokof atau proses penghilangan sebuah fonem atau lebih di akhir kata. Jadi, kata santai dihilangkan  tiga fonem di belakang. Cara kedua dengan penambahan fonem di akhir. Kata san ditambah fonem s. Jadilah kata sans

2. Ue

“Malasnya mi ue”. Kata ue pada kalimat tersebut sebenarnya berasal dari kata gue yang sama maknanya dengan kata aku/saya. Proses terbentukya kata ue bisa kita lihat dengan cara aferesis, yaitu penghilangan sebuah fonem atau lebih pada awal kata. Kata Gue dihilangkan fonem g nya lalu jadilah  ue.

3. Pakbal

Pakbalnya ini e.” Pakbal sebenarnya adalah akronim dari pakaballisik yang dalam bahasa Makassar artinya bikin jengkel. Ketika mendengar kalimat di atas berarti lawan bicara sedang merasa jengkel atau kesal kepada kita. Proses terbentuknya adalah dengan mengambil suku kata pertama dan di tengah sehingga penggabungan suku kata tersebut membentuk kata pakbal

4. Sokab

Sokabnyai ni e.” Kata sokab itu sebenarnya adalah akronim dari sok akrab. Proses terbentuknya kata ini juga memadukan suku kata  pada  kata pertama dengan gabungan huruf pada kata kedua. Akhirnya, terbentuklah kata sokab.

5. Oaza/oaja

Kata tersebut digunakan untuk menggantikan kata oh. Sebelumnya, remaja di Makassar pernah menggunakan opale untuk menggantikan kata oh. Namun, menurut Zaimah  kata opale dianggap mengandung unsur lale atau mesum makanya diganti menjadi oaza/oaja. Proses terbentuknya kata ini terbilang unik karena melewati dua proses yaitu penghilangan fonem terlebih dahulu, yaitu fonem h. Setelah itu, barulah ditambahkan suku kata za atau ja. Akhirnya, terbentuklah kata oaza/oaja.

Seperti yang dikatakan oleh Anwar Jimpe Rahman bahwa penggunaan bahasa gaul tentunya boleh-boleh saja. Tidak ada larangan. Namun, tetap sebagai pengguna harus mampu menempatkan bahasa sesuai tempatnya. Dalam menulis ragam ilmiah tentunya tulisan tidak boleh terpengaruh oleh bahasa gaul, harus tetap berdasarkan bahasa Indonesia yang baku. Jadi, jika kita sebagai pengguna bahasa gaul, jangan sampai ada salah satu kata dalam bahasa gaul yang ikut di tulisan ilmiah, seperti skripsi. Kata ue jangan sampai ada ya di skripsimu, takutnya kamu tidak jadi wisuda dua bulan ke depan. *Eh

 
Referensi:

1. Isra, Harry M., dkk. 2016. Telinga Palsu. Makassar: Nala Cipta Litera

2.Munsyi, Alif Danya. 2003. 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

3. www. wikipedia.com. Diunduh tanggal 21 April 2017.

Tari, Tanggung Jawab, dan Kebahagiaan

Matahari mulai menampakkan sinarnya. sangat berbeda dengan hari sebelumnya yang mendung dan hujan. Saya sudah duduk di sebuah kursi di dalam sebuah kafe menunggu seseorang. Sesekali menengok ke arah jalan masuk sekiranya orang yang sedang ditunggu datang. 

Sekitar sepuluh menit seorang perempuan berkaca mata memasuki kafe. Tingginya kira-kira 155 cm. Ia duduk di kursi kosong yang ada di depan saya. Perempuan itu bernama Andi Utari Artika Sari, seorang alumnus Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin. Ia resmi melepas gelar mahasiswanya September 2016.

Perempuan ini beberapa waktu lalu mengajak saya ke kegiatan salah satu komunitasnya, Komunitas Pencinta Anak Jalanan (KPAJ). Saya masih ingat waktu itu di tepi Danau Unhas, ia berdiri di depan anak-anak menyuruh mereka duduk dengan rapi tanpa membelakangi satu sama lain.

Tari, begitu ia akrab disapa, sudah bergabung di KPAJ sejak tahun 2012. Dua tahun setelah berdirinya KPAJ. Alasan bergabungnya di komunitas itu bukan karena semata-mata karena ia suka anak-anak, suka mengajar dan berbagi. Akan tetapi, ada alasan lain. Dia butuh pelarian untuk melupakan sang mantan waktu itu. Namun, pelarian itu akhirnya ia seriusi.

“Jadi ini KPAJ pelarian ji?” Tanyaku

“Pelarian yang diseriusi.” Jawabnya

Keseriusannya dapat dilihat dari keaktifannya di KPAJ sampai sekarang. Bahkan, ia pernah menjadi nakhoda KPAJ 2015/2016. Menjadi pemimpin di KPAJ tentu saja ia harus menunda kelulusannya. Memimpin tentu saja ada jalan terjal yang harus dilalui. Begitu pun dengan perempuan berusia 23 tahun itu. Selama kepengurusannya, ada saat ketika semua volunteer tidak hadir di kegiatan KPAJ. Tiga minggu hanya dia yang datang di Sekolah Ahad-kegiatan rutin KPAJ setiap hari Minggu- Tiga minggu itu hanya ada dia dan anak-anak yang datang membawa buku, pulpen, dan kepala yang ingin diisi ilmu. Di depan anak-anak itu, ia membagi ilmu yang dipunyainya, ia sendirian. Hatinya sebenarnya menangis tapi ia harus membungkusnya dengan semangat dan keceriaan.

Di hari Minggu saat orang-orang masih enak-enaknya tidur, ada Tari yang harus bangun pagi-pagi menyediakan alas duduk untuk anak-anak, menyapa, memarahi, dan setelah itu tertawa melihat tingkah laku mereka.Saya pun menanyakan alasan mengapa ia melakukan hal tersebut.

“Kenapako bisa bertahan dengan situasi seperti itu?” tanyaku

“Kebahagiaan itu Irma ada banyak macamnya dan sumbernya. Saya tidur di rumah sambil nonton dan ngemil mungkin bikin enak-enak sesaat. Tapi datang di Sekolah Ahad  berbicara di depan anak-anak polos itu, memikirkan masa depan mereka bikinka merasa lebih hidup. Liat mereka jadi pintar menari, liat mereka dapat pujian dan tepuk tangan dari orang-orang bikin bahagia sekali.” Kenangnya.

Selama tiga minggu itu, ia pun merenung memikirkan penyebab para volunteer tidak datang ke kegiatan KPAJ. Ia mengoreksi dirinya. bertanya-tanya apakah ia tidak becus menjadi pemimpin. Tiga minggu itu ia lalui dengan merenung dan bersabar

Ia pun mencari solusi untuk keluar dari masalah tersebut. Tari meminta anak-anak KPAJ membuat surat untuk para volunteer yang isinya pertanyaan dan bujukan agar ada yang mau mengajar mereka. Tak hanya sampai di situ, ia pun meminta untuk bertemu dengan para volunteer itu untuk membicarakan apa yang menjadi kendala mereka sehingga tidak datang ke Sekolah Ahad. Bahkan, juga membuka open recruitment bagi orang-orang yang mau bergabung. Perlahan-lahan mereka pun mulai aktif kembali. 

Langkah itu berhasil. Terbukti ketika Tari mengajak saya ke sekolah Agad beberapa minggu lalu di tepi danau pagi itu, sekira dua puluh orang volunteer datang. Beberapa orang menyapa dan mengajak berkenalan.

Tari  menunda mendapatkan gelar sarjana karena memilih tanggung jawab di KPAJ. Dia bisa saja berbahagia mendapat gelar sarjana sastranya di tahun 2015, tetapi ternyata dia lebih berbahagia ketika menjalankan tanggung jawab mengajari anak-anak itu. 

Malam Minggu di Rumah Duka

Hujan masih rintik-rintik. Langit gelap tak terlihat satu bintang pun. Petir bergerumuh mengantar keberangkatan dari Tamalanrea menuju ke sebuah rumah di daerah Bandara Lama. Aspal tampak basah karena hujan yang turun sejak sore tadi. Cuaca hari ini berbeda sekali dengan dua hari sebelumnya. Kami ̶ saya dan lima orang teman ̶  melaju memakai kendaraan beroda dua. Kami yang terdiri atas lima orang perempuan dan seorang lelaki memakai tiga kendaraan ke tempat yang akan dituju. Dingin dan macet menghiasi perjalanan. Di tengah perjalanan, hujan mulai deras kendaraan pun diberhentikan sejenak untuk memakai jas hujan agar tubuh tidak basah.

Kami pun masuk ke area yang orang-orang sebut Bandara Lama. Sepanjang perjalanan, saya melihat deretan rumah di pinggir jalan. Berbeda sekali dengan Bandara Baru yang di pinggir jalan hanya ada beberapa bangunan, itu pun bukan rumah. Memasuki lorong dan berbelok beberapa kali akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Rumah itu di bagian sampingnya berkumpul banyak orang sedang duduk di kursi plastik. Mereka duduk dinaungi sebuah tenda berwarna biru untuk melindungi dari hujan. Seorang berada di depan orang-orang tersebut sedang memegang mic dan sedang berceramah. Hujan pun turun dengan deras seakan menyambut kedatangan kami. Namun, Pak Ustaz yang sedang berceramah tadi suaranya tak kalah dari suara rintik hujan. Sesekali orang yang berkumpul itu tertawa mendengar ceramah yang disampaikan. Saya agak risih dengan adegan itu. Pasalnya baru saja si pemilik rumah ditinggalkan oleh suami yang sekaligus sebagai ayah dari tiga orang anak. Tak patut jika memperlihatkan kesenangan di tengah kedukaan. Namun, mungkin itulah cara agar kehilangan tak terlalu perih.

Malam ini adalah malam tausiah dari senior yang bapaknya meninggal di hari Jumat kemarin. Saya dan teman-teman yang datang hari ini adalah yang tak sempat melihat prosesi pemakaman. Akhirnya, jadilah kami datang ke tausiah. Hujan mulai reda. Namun, suara Pak Ustaz masih deras terdengar di telinga. Kalimat-kalimatnya sesekali memberikan semangat kepada orang yang ditinggalkan. Sesekali juga menasihati dengan nada bicara yang tinggi seperti sedang marah. Sesekali juga bertanya kepada orang-orang yang berkumpul. Tausiah ditutup dengan mengirimkan doa kepada almarhum.

Tausiah sudah selesai. Makanan ringan pun disajikan yang dibungkus dengan kotak.  Kami makan dan disapa oleh Kak Zul ̶ senior yang bapaknya baru saja meninggal ̶ Kami berpindah duduk dari kursi plastik ke kursi yang dudukannya lebih empuk. Saya duduk di tengah-tengah empat teman perempuan. Kami memakan kue yang diberikan, sesekali melihat isi kotak satu sama lain untuk saling tahu isinya atau saling bertukar kue. Kak Zul memulai perbincangan pertanyaan, “Kenapa terlambat sekali datang?”

“Hujan kak, Ini juga baru selesai mengajar.” Jawab teman yang laki-laki sambil menunjuk saya.

Kak Zul pun menawari kami untuk minum kopi. Namun, saya dan empat teman perempuan menolak untuk minum kopi karena sudah  malam takut tak bisa tidur. Akhirnya, hanya teman laki-laki ̶ yang biasa kami sapa Kamsah ̶ minum kopi yang ditawarkan. Kak Zul pun melanjutkan kisahnya merawat sang Bapak. Ia bercerita ketika disuruh pulang seminggu sebelumnya, tepatnya malam Minggu. Ia sibuk mencari-cari tiket pulang karena dikabari bahwa bapaknya masuk rumah sakit lagi setelah sempat baikan.  Bapaknya sudah lama sakit. Tepatnya diabetes selama empat belas tahun. Namun, tak hanya itu,  penyakit lain pun seperti ginjal, stroke juga menyerang tubuh beliau.

Di rumah sakit, ia sempat kebingungan mengambil keputusan apakah harus menuruti kemauan bapaknya yang mau pulang sedangkan infus ada di mana-mana di bagian tubuhnya atau tetap bertahan di rumah sakit. Ia sempat bertanya pada tantenya. Namun, keputusan dikembalikan kepadanya sebagai anak pertama.

“Kauji nak, bapakmu!” begitu kisahnya.

Sang Bapak masih bersikeras untuk pulang. Akhirnya, di hari Rabu keinginan sang Bapak dikabulkan. Ia merawat sang Bapak di rumah bersama ibu dan kedua adiknya. Sampai akhirnya sang Bapak menghembuskan napas terakhir di hari Jumat. Ia pun melanjutkan cerita dengan proses menuntun syahadat, memandikan, mengafani, sampai menguburkan.

“Sakit dan syukur. Sakitnya itu karena ditinggalkan. Syukurnya itu karena sudah bisa rawat bapak selama sakit.” Saat mengatakan hal tersebut di wajahnya terlihat senyum dengan ginsul di sebelah kiri. Namun, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Kantong matanya terlihat jelas. Mungkin ia tidak tidur selama seminggu itu untuk mengurus sang bapak. Selesai mengatakan tiga kalimat itu, teman di samping kanan mulai mengeluarkan air matanya. Mungkin saja ia juga teringat oleh bapaknya yang telah pergi setahun yang lalu. Saya juga baru tersadar saya duduk diapit oleh dua orang teman di samping kiri dan seorang di samping kanan yang telah kehilangan bapaknya.

Begitulah obrolan di malam Minggu. Obrolan tentang bapak. Setiap kali Kak Zul menceritakan tentang bapaknya seperti ada tangis yang tertahan. Namun, dibungkus dengan ketegaran dan senyuman.

Malam itu kami pamit pulang karena sudah larut. Kami mencium tangan ibunya Kak Zul yang telah ditinggal suaminya

“Bisaki datang lagi besok nak?” Ucapnya kepada kami ketika mencium tangannya.

Iye bu diusahakan.” Kami pun menjawab

Hujan sudah reda dan kami pun pulang membawa sedih di malam Minggu itu.