Kenapa Suka Korea?

​”Kak ini FDta, sudahmi saya copykanki film di dalam.”

“Oh oke, makasih nah.”

“Ada lagi drama baruku kak, tapi nda cukupmi fdta.”

Oh iyo nanti pi lagi, sudah pi  kunonton ini nah.

Bel masuk kelas pun berbunyi dan menandai percakapan tentang drama Korea harus diakhiri.
Percakapan ini berbeda jauh ketika saya masih kuliah dulu. Ketika satu atau dua orang teman laki-laki saya mendengar kami sedang membicarakan tentang K-pop, pasti ada saja celotehan yang muncul.

“Ah oplas itu.”

“Bencong itu. Apa itu kau nonton-nonton terus. Masih banyak lagi ocehan-ocehan mereka tapi kami (saya dan teman pencinta K-pop) tak peduli. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kami pencinta oppa* dan eonni* yang suka diejek. Namun, salah satu teman yang sering mengejek kami pencinta K-pop tiba-tiba datang pada saya dan berkata Menangiska we nonton itu film. Dia baru selesai menonton film Miracle Cell No.7. Masih mauko macalla, nunonton ji pale juga? balas saya sambil tertawa. Dari sini saya belajar satu hal bahwa apa yang selama ini kita cela, suatu saat akan kita sukai *tsaah. Jadi, hati-hati kalau mau mencela

Saya tidak bisa untuk tidak menyukai drama, film, dan boyband atau girlband Korea. Apa sih yang membuat saya sampai sekarang masih menonton drama dan teman-temannya itu? Alasannya adalah:
Sering bertemu dengan orang banyak dan terbilang bergaul dengan yang usianya lebih muda bukanlah hal yang mudah terutama bagi saya. Tentu latar belakang berbeda. Saya harus sebisa mungkin dekat dengan mereka. Salah satu caranya adalah mencari sesuatu yang sama-sama kita sukai. Apa itu? Korea.  Korea adalah salah satu pembicaraan yang bisa mengakrabkan saya yang usianya sudah seperempat abad ini dengan siswa yang masih berusia belasan tahun. Apalagi perempuan. Kesukaan mereka kebanyakan adalah boyband, seperti EXO, BTS atau juga girlband, seperti Blackpink, dan Twice. 

Kak siapa kita suka di EXO?

Kak siapa bias* ta di BTS?

 Dan sederet pertanyaan lain ketika saya mulai menyerempet ke pembicaraan seputar boyband dan girlband Korea.

Berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, tentunya menyebaban interaksi  yang terjadi juga dengan orang yang berbeda. Lagi-lagi saya dihadapkan dengan bertemu banyak orang. Saya harus mampu beradaptasi. Salah satu yang tersulit adalah memulai obrolan. Saya harus mulai dari mana? Bilang apa ya supaya enak? Kalau saya bilang ini, nda tersinggung ji kah ini orang? Itulah yang muncul dalam pikiran saya. Ketika bertemu dengan orang baru, saya akan diam-diam, berbicara jika ditanya. Namun, sekarang saya mulai sadar bahwa saya perlu berinteraksi dengan orang lain. Saya pun berpikir cara untuk membuang kebiasaan buruk itu. Pertama, saya harus bisa memiliki bahan untuk memulai sebuah obrolan. Daaan salah satu bahan obrolan yang bisa digunkaan adalah tentang Korea. Bahkan, akan sampai bertukar film, dikasi cuma-cuma filmnya atau kebetulan film yang kita cari ada di arsip laptopnya. Tentunya itu adalah salah satu kesenangan tersendiri. Jadi, Korea sedikit banyak telah membantu saya dalam pergaulan. Itulah alasan saya tak bisa berhenti menyukai seputar Korea apalagi kamu

Laptop dengan ukuran 9 inch masih menampilkan adegan seorang siswa belajar dengan giat. Di depan laptop tersebut, seorang sedang berderai air mata, tetapi hanya bisa diseka dengan tangan sesekali dengan sarung yang dipakai. Ya, itulah yang saya lakukan apabila malam-malam mata belum bisa terpejam, saya memilih untuk menonton. Ketika itu, saya menonton drama God of Study. Ceritanya tentang beberapa pelajar yang memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Maka dari itu, mereka belajar dengan giat. Saya terharu ketika melihat perjuangan mereka, sungguh-sungguh betul. 
Di beberapa program survival  untuk membentuk girlband atau boyband, sebut saja Mix and Match atau Produce 101, prosesnya bukanlah main-main. Para peserta harus berlatih dengan sungguh-sungguh menampilkan bakat mereka. Jika melihat lincahnya mereka menari di atas panggung dan suara yang merdu. Tentu itu adalah sesuatu yang mereka beli dengan sangat mahal. Mereka berlatih keras. Tubuh yang indah mereka dapatkan dengan diet ketat. Dance yang enerjik mereka dapatkan dengan latihan, latihan, dan latihan. Jika tak percaya, nonton saja beberapa program survival, terutama dua yang saya sebutkan sebelumnya. Dua program survival tersebut benar-benar memperlihatkan kerja keras seorang trainee yang ingin menjadi idola. Ikon dan IOI adalah hasil dari kedua program tersebut. Tentu saja, Ikon adalah boyband dengan rapper yang keren dan tarian yang enerjik. IOI memiliki vokalis yang suaranya memukau serta penari yang mumpuni
Kalau kamu pernah suka sesuatu? Alasannya apa sih? 

Catatan:
Oppa adalah panggilan adik perempuan kepada kakak laki-laki.

Eonni adalah panggilan adik perempuan kepada kakak perempuan

Bias adalah salah satu personil yang disukai di dalam sebuah girlband atau boyband.

Iklan

Lilin, Lingkar, dan Sejarah

“Semangat Sejarah untuk Perubahan,” sekumpulan anak-anak sedang berteriak dipandu oleh seorang perempuan. Mereka adalah anak-anak Kampung Kara’ba dan yang memandu adalah Anna. Suara itu menggema di tengah sepinya aktivtas siang itu di Jalan Balaikota, Makassar. Mereka masih bersemangat untuk melihat koleksi dari Museum Kota Makassar. 
Hari itu, 16 September 2018 bersama anak-anak Kampung Kara’ba dan beberapa mahasiswa jurusan sejarah di Makassar mengikuti sebuah kegiatan. Kegiatan ini diberi tema Jalan-Jalan ke Bangunan Tua yang diadakan oleh Lembaga Lingkar di bawah naungan Komunitas Lilin.

Foto bersama dengan anak-anak Kampung Kara’ba di depan Klenteng

“Kak, ini Lingkar apa bedanya dengan Komunitas Lilin?” tanya saya pada Anna yang saya sapa dengan panggilan Kak Anna. Kak Anna atau Anna Asriani Mukhlis adalah alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Hasanuddin. Ia sekarang menempuh magister di Universitas Negeri Makassar. Selain itu, ia juga aktif menulis. Baru-baru ini tulisannya diterima dan dipublikasikan oleh LIPI tentang kuliner Makassar.

“Lembaga Lingkar, Imagined History, Media Visual, dan Lembaga Penelitian di bawah naungan Komunitas Lilin yang diketuai oleh Arianto,” imbuhnya pada voice note yang ia kirimkan melalui WhatsApp. Komunitas Lilin sendiri berdiri karena keresahan tentang apa yang harus mereka (alumni jurusan Ilmu Sejarah Unhas) lakukan sebagai lulusan Ilmu Sejarah pascalulus dari jurusan tersebut. Keresahan yang dirasakan mereka, yaitu Anna, Anto, Kahfi, Ma’ruf, dan lain-lain melahirkanlah komunitas ini. “Event pertama yang dilaksanakan itu adalah diskusi mengenai komik rampokan celebes,” jelas Anna. 

Anna juga menjelaskan bahwa untuk di kancah nasional mereka membawa nama Komunitas Lilin, seperti pada Workshop Pendataaan Cagar Budaya yang akan mereka ikuti. Nah, jika mereka berkegiatan di Makassar mereka akan menggunakan Lembaga Lingkar. Jadi, Lembaga Lingkar ini memang khusus bagian dari Komunitas Lilin yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat kesejarahan, kesastraan, dan kebudayaan. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk seminar, tur, pertunjukkan seni, pemutaran film, lomba, dan kegiatan sosial. 

Brosur berisi kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan

Saat ini sudah banyak kegiatan-kegiatan  telah diselenggarakan, di antaranya Tur Museum Kota Makassar Bersama Anak Jalanan, Wisata Kota Tua Makassar Chinatown, Kartini Celebration: Wanita dan Seni, Nonton dan Ngobrol Karya Sastra, Membaca W.S. Rendra:  Ngobrol, Pembacaan Sajak, Musikalisasi. 

“Kenapa namanya Komunitas Lilin?” tanyaku penasaran. “Makna lilin sendiri adalah benda sederhana yang mampu menerangi dalam kegelapan. Ini diambil berdasarkan hasil bacaan Anto dari buku Ben Anderson dengan judul Imagined. Itu juga yang menjadi sejarah terbentuknya nama majalah Imagined History

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Lembaga Lingkar secara khusus (dan secara umum Komunitas Lilin) biasanya juga melibatkan anak-anak, seperti Jalan-Jalan ke Bangunan Tua bersama Anak Kampung Kara’ba. Kampung Kara’ba sendiri adalah sebuah daerah yang terletak di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo. Ada juga tur Museum Kota Makassar dengan mengajak anak jalanan. Selain itu, ada juga lomba mewarnai yang juga melibatkan anak-anak. Ketika ditanya alasan sering melibatkan anak-anak dalam kegiatan Lembaga Lingkar, Anna menyatakan bahwa anak-anak memorinya cepat menangkap sebuah pengetahuan. Selain itu, mereka punya pengalaman ke tempat-tempat bersejarah sekaligus belajar tentang sejarahnya. Pada usia dini, anak-anak akan mengalami proses pembentukan memori jangka panjang, tetapi belum detail seperti pada orang dewasa. Anak kecil lebih mudah mengingat hal-hal yang menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Lembaga Lingkar dikemas dengan menyenangkan seperti memberikan mereka hadiah. Hal ini bertujuan agar memori tentang kunjungan ke museum atau penjelasan tentang sejarah masih bisa mereka (anak-anak) ingat di kemudian hari walaupun tidak sempurna. Selain itu, akan lebih menyenangkan bila belajar dengan melihat langsung objeknya.

Pada tur ke museum Kota Makassar bersama anak-anak Kampung Kara’ba, mereka memasuki sebuah ruang yang berisi lukisan dan foto tokoh-tokoh penting yang pernah ada di Makassar, seperti Sultan Hasanuddin, sembilan belas walikota, dan H.M. Daeng Patompo. Seorang pemandu yang merupakan salah satu staf dari museum menjelaskan yang ada dalam ruang tersebut. Penjelasan yang ringan dan mudah dimengerti ditambah lagi dengan sedikit candaan.

Pengetahuan sejarah tentunya penting untuk diketahui agar kita bisa menjelaskan bahwa Makassar bukan hanya tentang uang panaik dan tawuran, tetapi Makassar juga punya orang-orang hebat, seperti H.M Daeng Patompo seorang kolonel dan seorang walikota yang pernah menjabat selama dua periode yaitu tahun 1965 dan 1970. Seorang yang punya “kunci sakti” dan bisa digunakan ketika ia memasuki Jepang. Hanya beliau yang bisa menggunakannya. Ia juga melegenda karena program kerja yang itawarkan ketika menjabat walikota adalah memberantas 3K (kemiskinan, kebodohan, dan kemelaratan).

Dari komunitas inilah saya tahu bahwa Fort Rotterdam juga dikenal dengan Benteng Pannyoa’. Saya pun baru mengetahui bahwa ada tiga museum di Makassar, Museum La Galigo di Fort Rotterdam, Museum Kota yang ada di Jalan Balaikota, dan Museum Pattingalloang di Somba Opu.  Dari sini pula saya tahu bahwa sudah ada sembilan belas orang yang pernah menjabat sebagai Walikota Makassar.

Bagaimana dengan komunitasmu?

Sudah Benarkah Penggunaan Konjungsi Kita?

“Apa itu konjungasi kak?” Tanya seorang siswa.

“Konjungsi dek,” jawabku sambil memperbaiki apa yang dia katakan.

Konjungsi itu adalah kata hubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang lain atau menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Konjungsi yang menghubungkan klausa yang satu dengan klausa yang lain disebut konjungsi intrakalimat. Konjungsi yang tugasnya menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain disebut konjungsi antarkalimat. Penggunaannya pun pasti berbeda makanya sebagian besar orang keliru dalam penggunaannya. Misalnya konjungsi namun ditulis di tengah kalimat, salah? Sudah pasti, kenapa? Ayo, simak beberapa konjungsi yang sering kali digunakan secara keliru.

1. Konjungsi namun

Konjungsi ini adalah konjungsi yang berfungsi untuk menyatakan        pertentangan. Kata hubung namun termasuk ke dalam konjungsi antarkalimat. Itu artinya penempatannya pasti ada di awal kalimat. Suatu waktu siswa saya bertanya, “Kak, berarti kata namun harus ditulis pake huruf kapital? Tanyanya. “Iya pasti karena letaknya ada di awal kalimat dan setelah konjungsi itu harus ada tanda komanya, jelasku. “Kak bisa kasi contoh?”

Tim kami kalah dalam pertandingan itu. Namun, kami tetap bangga karena telah berjuang.

Saya menuliskan contoh tersebut di papan tulis dengan menggarisbawahi kata namun dan memberikan lingkaran merah pada tanda komanya sebagai penekanan dan memperlihatkan penggunaannya serta tanda baca yang dipakai.

2. Konjungsi jika dan maka

Konjungsi ini adalah konjungsi intrakalimat yang menghubungkan kalimat majemuk bertingkat. “Ada kalimat majemuk bertingkat dan ada kalimat majemuk setara nah dek,” jelasku pada siswa kelas tiga SMP hari itu. “Kalau kalimat majemuk bertingkat berarti ada anak kalimat dan ada induk kalimat,” Lanjutku “Bagaimana cara membedakannya kak?” tanya seorang siswa penasaran. “Kalau anak kalimat berarti tidak bisa berdiri sendiri, induk kalimat yang bisa berdiri sendiri tanpa anak kalimat dan berpola subjek dan predikat. “Kak kalau kalimat ini:

Jika kamu rajin maka kamu dapat hadiah, benar inikah kak?”

Kalimat di atas tentu saja keliru karena di dalam sebuah kalimat majemuk bertingkat, hanya boleh digunakan satu konjungsi saja sehingga ada yang namanya klausa bawahan (anak kalimat) dan ada yang sebagai klausa atasan (induk kalimat). Induk kalimat harus memiliki fungsi subjek dan predikat. Penggunaan konjungsi cukup pada klausa bawahan saja.  Jadi, konjungsi jika sudah digunakan maka tidak usah lagi menambahkan kata maka. Begitu pun sebaliknya.

3. Konjungsi tetapi dan akan tetapi

Kalau saya bertanya ke siswa saat mengajar, apa bedanya tetapi dan akan tetapi? Jawabannya pasti mereka bilang: “Ada yang pake akan ada yang tidak kak.” Saya pun tertawa atau nyengir mendengar jawaban seperti itu.

Mau tahu apa bedanya? Bedanya adalah tetapi merupakan konjungsi intrakalimat yang berarti penulisannya harus ada di tengah kalimat dan ada tanda koma sebelumnya. Konjungsi akan tetapi digunakan di awal kalimat, itu artinya termasuk dalam konjungsi antarkalimat yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Penulisannya menggunakan huruf kapital dan ada tanda koma setelahnya. Bingung? Coba cek contohnya di bawah ini.

Dia sangat cantik, tetapi sombong.

Dia adalah seorang siswa yang pintar. Akan tetapi, dia tidak pernah sombong.

Sudah lihat kan bedanya?

4. Konjungsi demi, untuk, agar, dan supaya

Keempat konjungsi di atas adalah konjungsi intrakalimat yang ditulis di tengah kalimat. Keempat konjungsi di atas fungsinya sama ya, sama-sama termasuk ke dalam konjungsi yang menyatakan tujuan. Penggunaannya masih biasa ada yang keliru, baik dalam tulisan maupun dalam penggunaan secara lisan. Mari kita lihat.

Kita harus menjaga kebersihan agar supaya lingkungan tetap terjaga.

Kegiatan ini demi untuk kepentingan bersama.

Kedua kalimat di atas kurang tepat penggunaanya karena keempat konjungsi tersebut fungsinya sama, yaitu menyatakan tujuan. Jadi, pemakaiannya cukup salah satu saja. Jika ingin menggunakan kata agar tidak usah menggunakan kata supaya atau jika ingin menggunakan kata demi tidak usah menggunakan kata untuk begitu pun sebaliknya. Belajarlah untuk setia pada satu kata hubung saja *eh

Baku dan Tidak Baku

“Kak yang baku yang mana napas atau nafas?” Seorang siswa bertanya kepada saya.
“Napas dek yang pake p,” sambil memperlihatkan kata napas dalam KBBI luring.

“Oke, makasih kak.”

Saya hanya menundukkan kepala sambil tersenyum pada siswa tersebut. Namanya Nisa, salah seorang siswa yang bersekolah di salah satu SMP negeri di Makassar. Tingginya tidak lebih dari 150 cm. Wajahnya hitam manis.

Kata nafas adalah satu dari sekian banyak kata tidak baku yang biasa kita gunakan. Padahal, yang baku adalah napas. Selain kata napas, kata yang juga sering salah digunakan adalah kata aktivitas. Kata aktivitas harus ditulis dengan menggunakan huruf v bukan huruf f. Ini terjadi karena sebagian orang mengira bahwa kata aktivitas berasal dari kata aktif ditambahkan kata itas. As matter of fact, kata aktivitas berasal dari bahasa Inggris yaitu activity yang diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui adaptasi. Huruf  c berubah menjadi k dan akhiran –ty berubah menjadi –tas. Ini juga berlaku pada kata kreativitas. Jadi, aktivitas dan kreativitas ya yang baku. Jangan salah lagi ya.

“Kak kalau Jumat iyya? Pake koma atas toh?”

“Tidak pake dek, tulis Jumat saja,” sambil menuliskannya di papan tulis.

“Alquran iyya kak?”

“Samaji, koma atasnya juga dihilangkan,” saya pun menulis kata tersebut menggunakan spidol berwarna biru. Posisinya tepat di bawah kata Jumat.

Setelah mendengar jawaban saya, para siswa pun kaget serasa tidak percaya atas apa yang saya katakan. Untuk memperkuat argumen, saya pun meminta mereka membuka KBBI. Jadi, kalau menulis kata Jumat hilangkan saja tanda koma atasnya ya. Ini juga berlaku pada kata Alquran.

Ajang Asian Games 2018 yang menempatkan Indonesia sebagai tuan rumah adalah sebuah kebanggaan. Namun, hati saya sedikit kecut melihat spanduk yang bertuliskan kata mensukseskan. Memangnya kenapa? kan kata dasarnya sukses kemudian mendapatkan konfiks me- -kan. Salahnya adalah kata sukses berawalan huruf s. Kata-kata yang diawali dengan salah satu dari empat huruf k, t, s, dan p dan bertemu dengan awalan me(N)- akan berubah menjadi power rangers atau lebih tepatnya luluh atau lesap menjadi:

k → ng

t → n

s → ny

p → m

Mari kita buktikan, kata tulis jika diawali dengan imbuhan me(N)-, kata bentukannya adalah menulis. Kenapa bukan mentulis? Karena huruf awalnya huruf t maka akan luluh. Jadi, yang benar adalah menulis. Nah, sekarang kata mempesona benar atau salah? Kata dasarnya adalah kata pesona, berarti huruf awalnya adalah p. Huruf p akan luluh menjadi huruf m. Jadi, kata yang benar adalah memesona.

Kata terakhir adalah kata fotokopi. Kata yang tidak asing bagi kita semua. Kata ini berasal dari kata photocopy. Kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui proses adaptasi atau penyesuaian huruf dalam bahasa Indonesia. Dua huruf awal pada kata tersebut, yaitu huruf ph disesuaikan menjadi f, huruf c menjadi k dan huruf y menjadi i. Jadi, kata yang baku adalah fotokopi, bukan fotocopy atau photokopi.

Beberapa kata di atas sering kita gunakan. Namun, beberapa orang masih keliru karena sudah terbiasa menggunakan kata-kata yang tidak baku. Kalau biasanya pakai kata nafas, mulai sekarang pakai kata napas karena itu yang baku. Kalau dulu mengira kata aktivitas berasal dari kata aktif sehingga jadi aktifitas, coba sekarang ditulisnya menggunakan aktivitas. Nah, kalau kata yang ini yang baku yang mana, lembab atau lembap?

Sukses Tak Hanya Butuh Modal

Kali pertama mengikuti Regional Conference oleh Sophie Paris dengan tema Dare to Change. Acara ini dihadiri oleh Bruno Hasson CEO and Founder Sophie Paris, Gregory Fauvet (EVP Sales & Marketing) dan Deasy Rahayu (VP Sales & Training). Salah satu acara keren yang pernah saya ikuti. Pak Bruno membuat yang tidak yakin menjadi yakin untuk sukses lewat ceritanya membangun Sophie 20 tahun lalu.

Ramai. Suasana di luar Ballroom Maraja sebelum acara dimulai

Gate telah dibuka pukul 11.00 Wita. Sudah banyak ibu-ibu yang ada di luar ballroom, ada yang makan, ada yang sedang melihat-lihat tas, sepatu, dan dompet. Beberapa terlihat sedang berpose di photobooth, ada juga melihat-lihat produk kecantikan karena tak hanya fokus pada tas, Sophie sudah merambah dunia kecantikan. Acara baru dimulai pukul 13.00 WITA setelah ketiganya hadir di Maraja Ballroom Hotel Sahid. Peserta yang hadir disuguhkan dengan tari empat etnis.

Setelah pembukaan dengan tari empat etnis, Gregory Fauvet dan Deasy Rahayu sebagai EVP Sales & Marketing Sophie dan VP Sales & Training naik ke atas panggung. Gregory Fauvet menjelaskan bahwa Sophie Paris melakukan perubahan, yaitu penjualan 100 % online (daring). Mengingat sekarang adalah dunia digital. Setiap orang terhubung dengan yang lain berkat jaringan internet. Inilah yang dimanfaatkan oleh Sophie. Sebuah terobosan untuk tetap hadir di mana pun dan kapan pun. Jadi, para member dipermudah tentunya dalam menjalankan bisnis. Caranya cukup dengan scan kode QR pada setiap barang yang ada di katalog dan posting di sosial media.

Giliran Mbak Deasy Rahayu menjelaskan beberapa keuntungan yang akan didapatkan jika jadi member baru. Apa saja? Jika berbelanja sebesar Rp175.000,00 akan dapat katalog Sophie Paris. Belanja Rp500.000,00 dapat business kid. Belanja Rp700.000,00 dapat hadiah program member baru sebesar Rp300.000,00 dan belanja Rp750.000,00 dapat produk eksklusif seharga Rp350.000,00. Banyak  ya keuntungannya. Selain itu, untuk daftar sebagai member baru juga bisa dilakukan lewat SMS. Mbak Deasy pun membagikan tas dan dompet yang ada di katalog Sophie yang baru lho. Tapi, hanya dua orang yang mengunggah produk Sophie lewat scan QR dan membagikannya ke sosial media.

Bruno Hasson, CEO & Founder Sophie Paris, berbagi cerita perjalanan merintis Sophie Paris

Selanjutnya, ada Pak Bruno nih menceritakan perjalanannya merintis bisnisnya. Bruno Hasson di awal kariernya hanya memiliki lima buah tas untuk dijual. Ia pajang di meja bundar dan diatur sedemikian rupa agar ciamik. Hal itu terlihat pada slide yang ditampilkan. “Saya juga gak punya modal Bu, tapi saya punya semangat,” ujar Pak Bruno ketika mendapat banyak keluhan tentang orang-orang yang tak punya modal untuk berbisnis. Beliau juga menekankan bahwa semangat juga adalah hal penting dalam mewujudkan kesuksesan berbisnis. Jika 20 tahun lalu, Pak Bruno hanya punya lima tas, kini perusahaan yang dirintisnya sudah menjual 50 juta tas di tiga negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, Sophie sudah punya tujuh gedung di Jakarta dan gudang 20.000 m di belakang bandara Soekarno-Hatta.

Tak pelit berbagi ilmu, Pak Bruno Hasson membagikan tiga kunci sukses di Sophie. Apa saja?

a. Percaya Diri. Percaya diri dulu bahwa bisa untuk sukses karena punya kemampuan. Jadi, jika diremehkan pun tidak akan gentar. Seperti Susan Boyle yang mengikuti Britain Got Talent. Susan dicibir dan dipandang sebelah mata oleh penonton saat itu. Bahkan juri pun begitu. Namun, ia berhasil membuktikan bahwa ia memiliki suara yang bagus. Finally, ia mendapatkan standing applause dari penonton. Video tersebut diperlihatkan oleh Pak Bruno agar yakin pada diri sendiri bahwa kita punya kemampuan.

b. Jadi Duta. Sebagai orang yang berbisnis barang, tentu saja harus menjadi duta agar pembeli yakin bahwa yang dijual memiliki kualitas yang bagus karena kita sebagai penjual turut memakainya. “ Jadi, jika ingin produk Sophie dibeli berarti yang jual harus pakai juga dong,” kata Pak Bruno.

c. Memanfaatkan teknologi. Ini tips terakhir nih. Karena zaman sudah berubah menjadi era digital. Sebagai pelaku usaha tentu harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dalam mengembangkan usaha pastinya. Terampil memainkan gadget, memiliki akun facebook, instagram, atau media sosial lain.

Bruno Hasson menjelaskan strategi Sophie bertahan dalam dunia bisnis

Menghadapi era digital yang memungkinkan persaingan terjadi lebih banyak tentu Sophie Paris harus punya strategi untuk bertahan. Apa saja? Brand Sophie sudah banyak dikenal orang. Selain itu, Sophie mengedepankan kualitas dan kreativitas. Terbukti, setiap sebulan sekali Sophie mengganti desain produknya. The last but not least, memanfaatkan teknologi. Tahun ini Sophie melakukan revolusioner dengan sistem daring agar memungkinkan berbelanja di mana dan kapan saja. Yang spesial pula dari sophie adalah Sophie mengajak orang bekerja dengan cara kolektif bukan dengan kompetisi.

Touch of Pink. Dresscode para blogger pada acara Dare to Change

Acara yang keren dan memotivasi tentunya. Jadi, berbisnis tak hanya butuh modal, tapi butuh semangat, percaya diri, kreativitas, dan punya barang yang berkualitas. Thank you Sophie.

Merayakan Tujuh Belas Agustus

“​Irma ada kegiatan nanti tanggal 17 Agustus? mauki saya ajak ke museum.”

Nda adaji kak.” Begitulah percakapan saya dan Kak Anna di pesan WhatsApp.

Tujuh belas Agustus pun datang, tepat di hari Jumat. Saya memang tak punya kegiatan jika sedang tanggal merah. Jadilah saya ikut kegiatan yang diadakan oleh Lembaga Lingkar dan diundang langsung oleh Kak Anna sebagai koordinator lembaga tersebut. Kegiatan ini diberi tema Merayakan Hari Kemerdekaan di Zaman Milenial. Tujuh belasan kali ini tentu sangat berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, kalau tahun lalu saya tidak ingat apa yang saya lakukan di hari kemerdekaan karena tak ada yang berkesan, tetapi tentu tahun ini berbeda dong.

Ada baca roman, tur museum, dan nonton bareng. Tanggung jawab baca roman langsung dipindahtangankan ke saya setelah acara dibuka. Roman yang dibacakan adalah  karangan Muchtar Lubis dengan judul Jalan Tak Ada Ujung. Sebenarnya, Jalan Tak Ada Ujung ini adalah novel si. Roman itu menceritakan tokoh dari lahir atau sejak kecil sampai meninggal, sedangkan novel tidak. Namun, ada beberapa orang yang menyamakan antara roman dengan novel. Novel ini adalah novel yang sarat akan deskripsi dan berlatar tahun 1946. Mengawali pembacaan Jalan Tak Ada Ujung, saya membacakan begitu terkesannya saya pada cara Muchtar Lubis dalam mendeskripsikan kelakukan Guru Isa. Selanjutnya, pembacaan oleh Goenawan Monoharto, salah satu sastrawan. Kemudian, yang Aidil Akbar merupakan penulis cerpen, aktif di kala literasi. Kepala Museum Kota Makassar, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kota Makassar, dan hadir pula perwakilan lembaga adat Sulsel. Tak ketinggalan pelajar pun turut meramaikan. Sebuah apresiasi untuk para pelajar yang bisa ikut bergabung. Semoga mereka akrab dengan karya sastra.

Goenawan Monoharto saat membacakan penggalan novel Jalan Tak Ada Ujung

Setelah pembacaan roman, kami diajak tur museum. Saya baru mengetahui kalau di Makaassar ada tiga museum, Museum Kota, Museum La Galigo di Rotterdam, dan Museum  Karaeng Pattingalloang di Somba Opu. Kegiatan lembaga Lingkar dilaksanakan di Museum Kota. Ruangan pertama yg kami, saya dan 22 peserta tur lainnya, masuki adalah ruang yang terdapat lukisan Latenritatta, Sultan Hasanuddin, dan Speelman. Di seberang lukisan Speelman ada juga lukisan Ratu Wilhelmina. Pemandu menceritakan bahwa dulu Latenritatta dan Sultan Hasanuddin layaknya saudara. Namun, mereka diadu domba  oleh Speelman dan akhirnya berperang. Namun, setelah berperang mereka kembali berbaikan. Sebelum Sultan Hasanuddin mangkat, beliau berpesan kepada rakyatnya agar  kuburannya didekatkan dengan Latenritatta. Di ruangan tersebut, juga terdapat foto para mantan walikota. Terdapat sembilan belas foto di sana. Foto yang berlatar hitam menunjukkan bahwa para mantan walikota tersebut sudah meninggal, sedangkan yang berlatar biru, menunjukkan bahwa beliau-beliau tersebut masih hidup. Salah satu walikota yang menarik adalah Patompo.

Pemandu menjelaskan sosok Patompo

Di dalam ruangan tersebut terdapat foto dengan wajah orang yang bernama Patompo. Nama lengkapnya adalah H.M. Daeng Patompo. Beliau menjabat sebagai walikota selama dua periode. Pertama dilantik pada 8 Mei 1965 dan kedua kalinya dilantik pada 16 Agustus 1970. Masa jabatannya sampai tahun 1978. Beliau merupakan seorang yang lahir di Polewali, 16 Agustus 1926. Beliau adalah seorang colonel dan seorang walikota yang melegenda. Di dalam sebuah kaca transparan terdapat foto beliau memakai baju seragam putih persis seperti yang pernah dipakai oleh walikota Danny Pomanto.. Yang menarik dari beliau adalah mantan walikota ini memiliki sebuah kunci yang tertulis namanya, Mr. Patompo, dan Osaka, kota di Jepang. Seperti yang dijelaskan oleh pemandu, Patompo bisa pergi ke Jepang secara bebas selama dia membawa kunci tersebut. Kunci itu bagaikan tiket bagi beliau. Kunci itu hanya dimiliki dan boleh digunakan oleh Patompo seorang.

Di ruang lain terdapat pakaian adat yang dipajang pada manekin. Manekin-manekin tersebut dijejerkan dan memakai baju adat Toraja, Mandar, Bugis, dan Makassar. Selain itu, juga terdapat manekin berpasangan dengan memakai baju prngantin lengkap dengan foto nanak-anak kecil sebagai passappi. “Boleh foto di sini ya. Yang foto di sini biasanya cepat menikah.” Kata pemandu kepada kami. Sontak saja banyak yang langsung berfoto di depan manekin berbaju pengantin tersebut. Tur dilanjutkan ke ruang sidang yang biasa digunakaan untuk sidang DPR sewaktu pemerintahan Patompo. Kursinya adalah kursi yang asli yang memang pernah dipakai dulu.

Kegiatan terakhir adalah nonton bersama. Karena tujuh belas Agustus, film yang dipilih adalah film yang bertema perjuangan, ya Nagabonar. Film perjuangan yang dikemas dengan banyak humor. Sepanjang pemutaran film, banyak penonton yang tertawa karena kelakukan si Nagabonar, pemeran utama dalam film tersebut. Nagabonar adalah seorang realistis dalam mengambil keputusan dan tentu saja sangat sayang kepada ibunya. Nagabonar tak takut pada siapa pun, kecuali pada emaknya. Khas orang Sumatera sekali.

Film berakhir sekitar pukul 15.44 Wita. Diskusi pun dibuka oleh Kepala Museum, yaitu Dra. Hj. Nurul Chamisany. Beliau sangat mengapresisasi kegiatan-kegiatan semacam ini. Dia juga sangat terbuka  dan mendukung jika ada mahasiswa yang ingin berkegiatan di Museum Kota, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan. Beliau juga menawarkan untuk menjadi relawan di museum tersebut sebagai pemandu. “Saya butuh pemandu yang bisa berbahasa Belanda atau Inggris karena biasanya tamu-tamu saya ada yang datang dari Belanda atau Australia.”

Foto bersama Kepala Museum dan peserta setelah semua rangkaian acara selesai

Kegiatan pun usai dan kami pulang membawa lelah dan bahagia.

​Maxi-Peel Micro Exfoliant Fluid, Tak Perlu Takut Kemerahan dan Terkelupas

(Kiri ke kanan) dr. Inneke Jane Hidajat, MD, M.Sc. (Dermatovenereologist) dan Charmine E. Sales (Brand Manager Personal Care Maxi-Peel) berfoto setelah launching Maxi-Peel Micro-Exfoliant Fluid

“Halo Mbak, ini acaranya Maxi-Peel ya?

“Iya,” menjawab pertanyaan saya dengan tersenyum

“Saya blogger mbak.”

“Oh iya, kalau blogger isinya di sini mbak,” sahut perempuan yang duduk di sebelahnya.

Mereka menggunakan pakaian senada. Baju berwarna pink dan celana putih. Saya pun mengisi identitas diri di form yang sudah disediakan khusus untuk blogger. Ya, ini adalah  launching product  Maxi-Peel Micro Exfoliant Fluid, bertempat di Makassar Four Points, tepatnya di Toraja Room D Lantai tiga. Kegiatan ini didahului dengan makan siang karena undangannya memang pukul 12.00 s.d. 14.30.

Sekira pukul 13.42 launching produk tersebut pun dimulai. Maxi-Peel Micro Exfoliant Fluid sebelumnya sudah sukses di Filipina. Produk ini diproduksi oleh Spalsh Corporation, yaitu perusahaan yang memproduksi produk perawatan tubuh dan makanan.  Splash Corporation telah ada 1985 di Filipina dan awalnya hanya sebagai bisnis rumahan.

Apa sih Maxi-Peel ini? Saya juga penasaran dengan produknya karena sebenarnya sebelumnya saya pernah dengar kata Maxi-Peel tapi sudah lama sekali. Nah, ternyata Maxi-Peel Exfoliant Fluid ini adalah produk kecantikan yang menjadi produk unggulan di Filipina. Produk ini diproduksi oleh Splash Corporation. Splash Corporation telah me-launching 150 produk lho guys sejak 2007. Untuk perusahaaan yang fokus memproduksi makanan itu ada di Bulacan, Filipina. Kedua perusahaan ini tentunya dilengkapi dengan pengolahan limbah, jadi limbahnya tidak dibuang sembarangan dong ya.

Karena Maxi-Peel Micro Exfoliant Fluid sudah sukses menjadi produk unggulan di  Filipina, tapi kalau di Filipina namanya Maxi-Peel Zero ya. Cuma beda nama saja kok. Kini kita perempuan Indonesia sudah bisa menikmati Maxi-Peel Micro Exfoliant Fluid, khususnya yang ada di Makassar. Sebelum launching di Makassar, terlebih dahulu di Jakarta pada 17 Mei. 22 Juli adalah tanggal yang dipilih oleh launching di Makassar.

Launching ini dihadiri Charmaine E. Sales sebagai Brand Manager Personal Care Maxi-Peel juga ada Dermatovenereologist, yaitu dr. Inneke Jane Hidajat, MD., MSc sebagai pembicara. FYI aja ya guys, mereka berdua cantik banget lho.

dr. Inneke memberikan penjelasan tentang proses regenerasi kulit

Berbicara kulit tentu salah satu yang bisa berbicara adalah dr. Inneke. Ia menjelaskan tentang pengelupasan kulit harus terjadi setiap 28 hari. Untuk apa sih pengelupasan? Tentunya untuk membuang sel-sel kulit mati yang dapat menyebabkan berbagai masalah kulit. Jadi, sel-sel kulit matinya harus dibuang supaya tidak bertumpuk dan menimbulkan jerawat. Namun, jika usia kita bertambah, proses regenerasi kulit juga bakalan lambat. Akan tetapi, jangan kahwatir, sekarang ada yang namanya peeling atau eksfoliasi guys. Apa sih fungsinya peeling? Peeling yang teratur  bisa membuat kulit wajah menjadi lebih kencang. Peeling itu seperti apa? Peeling itu seperti melakukan lulur atau scrub ya kalau di tubuh. Bisa juga memakai produk yang mengandung bahan kimiawi, seperti Hydroxy Acids dan asam laktat. dr. Inneke juga menjelaskan kalau eksfoliasi hasilnya akan maksimal jika digunakan secara rutin selama 1 s.d 3 bulan. Dengan catatan, harus rutin menggunakannya. Kenapa harus rutin? Supaya hasilnya juga maksimal. Beliau menganalogikan eksfoliasi dan olahraga. Jika kita rutin berolahraga, badan akan cepat menyusut, tetapi kalau jarang olahraga, tetap ada hasil , tetapi tentu kurang maksimal dan tentunya berbeda dengan yang rutin.  Peeling dapat dilakukan di klinik. “Peeling yang ada di klinik, bahan dan konsentransinya hanya digunakan di klinik tentunya,“ jelas dr. Inneke.

Mau peeling, tetapi malas? Peeling  bisa dilakukan di rumah lho ternyata. Bagaimana caranya kalau mau lakukan peeling di rumah? Nah, Maxi-Peel Micro-Exfoliant Fluid adalah jawabannya. Maxi-Peel ini mengandung tiga asam, yaitu asam laktat, asam salisilat, dan asam glikolat. Mr. Charmine juga menjelaskan bahwa tidak hanya mengandung asam, Maxi-Peel ini juga mengandung Skin Viitamins, yaitu vitamin A, C, E, dan B yang mampu melembabkan dan melindungi kulit dari sinar UV. Selain itu, terdapat Skin Renewal Micro-Exfoliants yang mampu menghilangkan minyak dan kotoran pada pori-pori wajah.

Miss Charmine menjelaskan manfaat dari Maxi-Peel

Biasanya, ada dua efek yang ditimbulkan oleh eksfoliasi, yaitu kemerahan dan terkelupas. Namun, kalau pake Maxi-Peel dua efek tadi tidak akan terlihat.  Maxi-Peel ini digunakan setiap malam ya sehabis pakai facial wash atau facial soap. Setelah itu, barulah memakai Maxi-Peel. Kalau biasa pakai toner, tonernya tidak digunakan dulu karena tidak bisa digunakan bersamaan dengan Maxi-Peel. Siang hari sebelum beraktivitas di luar ruangan, pakailah sunblock yang minimal ber-SPF 30. Sunblock-nya diaplikasikan 30 menit sebelum beraktivitas  dan wajib re-apply setiap empat jam sekali. Semua itu agar proses eksfoliasi maksimal.

Kenapa  Maxi-Peel  memilih target pasar di Indonesia? Miss Charmine menjelaskan kalau kulit perempuan Indonesia kurang lebih sama dengan perempuan Filipina, begitu pun dengan cuacanya. Makanya, Maxi-Peel juga memasarkannya di Indonesia, termasuk Makassar.

Para blogger berfoto bersama sesaat sesudah acara launching ditutup

Maxi-Peel bukan hanya untuk perempuan ya, ternyata bisa juga dipakai oleh laki-laki. Untuk mendapatkan produk ini ternyata mudah kok. Bisa didapatkan di pasar tradisional, toko kosmetik, minimarket, atau beli daring di gogobli.com. Harganya hanya Rp 20.000,00. Affordable kan? Kalau ragu atau takut iritasi, bisa diapliaksikan di bagian belakang telinga dulu sebelum mengaplikasikannya di wajah.

Kegiatan ini pun ditutup dengan ucapan terima kasih dari Miss Charmine kepada blogger dan media yang datang pada launching di Four Points Hotel, tepatnya di Toraja Room D. “Iya sama-sama Miss Charmine. Miss Charmine cantik deh.”

Ngobrol Dulu, Cocok Kemudian

sumber foto: slate.com

Telah beberapa lama tidak mengunggah tulisan di blog dan ada rasa bersalah terlebih karena pernah menjadi peserta kelas menulis Kepo. Akhirnya, saya pun “membunuh” rasa malas dan mulai menulis lagi yang dimulai dengan bismillah ulasan film. Film yang saya pilih dan memang itu yang ada di laptop saya adalah film yang berjudul “Before Sunrise” yang diperankan oleh Ethan Hawke sebagai James dan memperkenalkan diri sebagai sebagai Jesse. Lawan mainnya adalah Julie Delpy sebagai Celine. Film ini dibuat tahun 1995, setahun setelah kelahiran saya. Namun, baru saya tonton tahun lalu dan menonton ulang serta membuat ulasannya tahun ini.

Film ini dibuka dengan kereta api yang melintasi rel dengan menampilkan rel kereta apinya disusul dengan pemukiman warga yang dapat dilihat di atas kereta api. Jika pembukaan film ini dijadikan pembuka tulisan yang ditulis tahun ini dan dikirim ke Tirto, tentu Mas Fahri tidak akan membacanya, seperti yang ia katakan di Kelas Menulis Makassar ketika ia hadir 5 Juli lalu. Namun, ini adalah film, bukan tulisan. Film ini pun dibuat tahun 1995.

Dua orang (laki-laki dan perempuan) tengah berbincang dalam bahasa Jerman yang diakhiri dengan pertengkaran. Pertengkaran itu membuat si perempuan meninggikan nada suaranya yang membuat si Celine terganggu dengan aktivitas membaca. Akhirnya Celine si gadis Paris harus pindah tempat duduk dan memulai mengobrol dengan James atau yang biasa dipanggil Jesse. Obrolan mereka berlanjut ke tujuan perjalanan masing-masing, orang-orang dewasa, dan tentang kematian.

Jesse akan singgah di Wina dan Celine akan ke Paris setelah perjalanan dari Budapest mengunjungi neneknya. Kereta sudah sampai di Wina. Dengan ragu, Jesse mengajak Celine turun dari kereta dengan iming-iming bahwa hal itu tidak akan disesali Celine dan akan ia ingat suatu saat sebagai sebuah kenangan yang hebat. Tak perlu lama-lama membujuk Celine untuk setuju. “Baiklah, aku akan ambil tasku.” Dan mereka pun turun dari kereta. Pada saat mereka turun dari kereta, mereka belum tahu nama satu sama lain. Baru ketika akan mencari loker untuk tas-tas mereka yang tak mungkin dibawa mengelilingi Wina, mereka berkenalan.  Jika kalian jadi Celine, kalian mau nda turun bersama orang yang baru kalian kenal untuk menemaninya semalam saja?

Canggung, itulah yang mereka rasakan saat berjalan-jalan menyusuri Kota Wina, tetapi mereka berusaha menghilangkannya dengan mengobrol. Karena tujuan mereka tidak tidak jelas, sama kayak hubunganmu akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya tentang museum atau pameran yang bisa mereka kunjungi selama di kota itu.

Mereka saling bertanya dan menjawab. Jesse-Celine-Jesse-Celine begitulah urutan mereka bertanya. Pertanyaan-pertanyaan mereka adalah pertanyaan dengan jawaban tentang pribadi masing-masing. Si Celine benar-benar terbuka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Jesse. Mereka ke toko musik yang menyediakan musik dari piringan hitam. Mereka ke kuburan, gereja, ke klub, kafe, dan ke bar untuk meminta sebotol anggur merah dan meminjam tanpa mengembalikan dua gelas yang dipakai untuk menghabiskan malam.

Mereka bersenang-senang. Melewati jalan dengan berpegangan tangan yang sebelumnya didahului dengan ciuman di atas kincir raksasa. Ada satu hal yang saya yakini bahwa perempuan akan selalu bertanya kepada laki-laki, “Bagaimana kau melihatku?” Kenapa bisa jatuh cinta?” Kenapa bukan yang lain?” atau pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya. Tapi Jesse cukup pintar tentunya dengan tak memberi jawaban karena jawabannya bisa saja menjadi bumerang baginya

Dalam perjalanan, mereka dicegat oleh seorang pemuda yang jarinya mengapit rokok. Pemuda itu memberikan tawaran membuat puisi untuk mereka, kalau puisinya bisa menambah sesuatu dalam hidup mereka, si pemuda boleh dibayar dengan apa saja. Celine dan Jesse pun memberikan satu kata yang akan dibuat dalam satu puisi.

“Mencintai dan dicintai penting bagiku, bukankah semua yang kita lakukan hanya agar lebih dicintai? Celine mengatakan hal itu ketika mereka mulai membicarkan hubungan dengan lawan jenis. Mereka menghabiskan malam dengan sebotol anggur. Besoknya mereka harus berpisah, tetapi berjanji untuk bertemu lagi di bulan Desember. Mereka tidak bertukar alamat rumah untuk berkirim pesan atau bertukar nomor telepon. Mereka hanya berjanji akan bertemu enam bulan terhitung sejak perpisahan mereka hari itu.

Film ini diisi dengan banyak sekali percakapan. Sesuatu yang tentunya sulit jika dijadikan sebuah tulisan. Bahkan, Eka Kurniawan dalam blognya pernah menulis bahwa percakapan adalah hal yang susah untuk dituliskan. Namun, karena ini adalah film jadi tidak sulit-sulit amat kali ya. Suka sih sama film ini.

Kali Pertama

Kali pertama meninggalkan Sulawesi

Kali ini adalah kali pertama saya bepergian di luar Sulawesi. Kalau mau dibilang jauh dari orang tua sih sebenarnya sudah biasanya, tetapi masih dalam provinsi yang sama. Yang membuat tidak biasa adalah saya bepergian sendiri dan di pulau Jawa. Keluarga sempat khawatir, tetapi namanya tekad sudah terlalu kuat jadilah saya berangkat sendiri dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju Juanda. Durasi perjalanan ± 90 menit.
Saya berangkat tepat 7 November 2017, istirahat dua hari di Surabaya. Kemudian berselang dua hari berangkat ke Kampung Inggris, Pare, Kediri. Bikin apa sih di Pare? Ya apalagi kalau bukan nambah followers dan buat cari jodoh buat belajar bahasa Inggris. Maklumlah sekarang pekerjaan dan pendidikan sering mencantumkan persyaratan penguasaan bahasa Inggris sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi jika ingin bergabung di perusahaan atau institusi.

Kali pertama ke Kampung Inggris dengan menggunakan bus. Saya lupa nama busnya, intinya busnya tujuan ke Pare dan terakhir di Blitar kalau tidak salah. Di atas bus, banyak penjual mulai dari penjual tahu, penjual buah, dan masih banyak lagi. Orang-orang yang ada di atas bus menggunakan (mungkin) bahasa Jawa yang yang tidak saya pahami. Namanya kali pertama pasti bingung kalau kali kedua itu kan judul lagunya Raisa tujuannya sudah sampai atau belum, jangan-jangan tempat tujuannya sudah lewat, dan sejumlah pikiran-pikiran lain. Untunglah penumpang di sebelah tempat duduk saya menanyakan tujuan saya. Kabar baiknya ternyata tujuan kami sama. Inikah yang dinamakan jodoh? Penumpang itu adalah seorang lelaki yang sekira 50 tahun umurnya, memakai tas selempang yang muat beberapa pasang pakaian. Waktu berdampingan duduk, ia sempat memakan tahu, tahu Sumedang itulah namanya. Penumpang tersebut yang selanjutnya saya panggil ‘Pak’ bahkan mencarikan becak untuk saya tumpangi menuju tempat kursus tujuan. Akhirnya, saya sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, itulah yang seharusnya saya lakukan di sini. Akan tetapi, ada yang beda dan belum bisa saya sesuaikan. Apa sih? Kebiasaan makan. Sebagai orang yang jarang menjadikan kerupuk sebagai teman makan, jika berada di Makassar, tentu saja cukup aneh bagi saya melihat kerupuk hampir selalu ada di warung dan di piring orang-orang. Lidah saya tak terbiasa dengan kerupuk. Di Makassar hampir tidak pernah saya makan kerupuk dengan nasi, kalau pun makan kerupuk setelah nasinya habis. Namun, bukan hanya saya yang merasakannya, salah seorang teman yang berasal dari daerah yang sama pun merasakannya.

No love before meeting, pepatah Inggris itulah yang diamini dan dipraktikkan di pertemuan pertama di The Eagle, tempat kursus saya. Dari pekenalan inilah saya tahu, teman-teman saya usianya lebih muda dari saya, baru lulus kuliah, baru lulus SMA, dan ada juga yang sudah kerja. Kami bersepuluh, empat orang perempuan dan enam orang laki-laki. Di antara bersepuluh itu, salah seorang di antaranya sudah berkeluarga dan berprofesi sebagai guru. Usianya sekira 40–50 tahun. Walaupun usianya lebih tua, semangat belajarnya tidak kalah dengan kami. Namanya Syamuddin, kami biasa memanggilnya Mr. Syam. Beliau berasal dari Kalimantan.

Foto bersama setelah belajar listening

Bersepuluh orang dengan latar belakang yang berbeda satu sama lain menjadi sesuatu yang menarik. Mengapa? Karena saya bisa tahu makanan khas dari suatu daerah, kultur mereka seperti apa walaupun belum menginjakkan kaki di sana. Jadilah selama dua minggu itu bercakap untuk saling mengenal satu sama lain. Isinya apa? Tentang keluarga, cita-cita, bahkan sampai asmara. Intinya mereka menyenangkan karena tiada hari tanpa humor dan apa ya. Pokoknya menyenangkanlah. Menyenangkan kan itu kan kata sifat atau perasaan yang berasal dari hati. Namanya perasaan kan susah dijelaskan.
Dua minggu selanjutnya ada suasana baru. Seperti sebuah keharusan, ada pertemuan tentu saja ada perpisahan. Mr. Syam harus kembali ke kampung halamannya. Niken, salah satu dai sepuluh orang, pun harus meninggalkan kami. Namun, ada dua teman baru yang datang. Dua minggu tersebut, materi sudah naik level dong pastinya. Materi vocabulary-nya sudah lebih luas cakupan kata-katanya, pronunciation yang senam lidahnya lebih susah, grammar sudah belajar semua tenses dari yang sebelumnya hanya lima tenses. Speaking yang materinya sudah lebih luas, drama menggunakan bahasa Inggris, story telling, dan masih banyak lagi. Di dua minggu tersebut, hubungan pertemanan kami pun sudah lebih dekat. Kami sering makan malam bersama. Bahkan, liburan bersama di Pantai Ngliyep Malang.

Berfoto di Pantai Ngliyep

Sebuah keharusan lagi untuk saya apalagi merasa nyaman di sebuah tempat maka saya harus meninggalkan tempat itu. Istilahnya keluar dari zona nyaman. Sedih tentunya meninggalkan mereka, tetapi hal itu harus. Akan tetapi, itu hanya berlaku untuk konteks yang seperti itu ya. Untuk konteks hati itu beda lagi. Kalau sudah nyaman ngapain nyari yang lain?

Dan bulan kedua saya di Pare dihabiskan dengan orang-orang baru lagi.

 

 

​Tidak Ada Alasan untuk Tidak ke Pasar Tiban

Dekorasi Press Conference Anne Avantie Pasar Tiban Karya Anak Negeri

Penggemar Anne Avantie patut berbahagia karena setelah 28 tahun berkarya, Bunda, begitu panggilan Anne Avantie, akan hadir di Makassar pada tanggal 15 ̶ 24 September 2017. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Trans Studio Mall 28 Agustus 2017 lalu hadir Creative Director Event Anna Avantie, Head Project Pasar Tiban Anne Avantie, CEO EO 3 Pro, GM Trans Studio Mall, GM Four Points Hotel by Sheraton, dan perwakilan Anne Avantie Management. Sebelum keenam pembicara tersebut dipersilakan memberikan gambaran tentang Pasar Tiban yang akan diadakan mulai pertengahan September mendatang, ada suara Anne Avantie via telepon yang didengarkan terlebih dahulu. “Inspirasi selalu berhubungan dengan cinta,” kata Bunda Anne lewat suaranya via telepon. Mungkin itulah salah satu kekuatan Bunda Anne Avantie dalam berkarya, yaitu cinta.
Bunda Anne akan hadir menyapa Makassar dengan Pasar Tiban yang menawarkan karya-karya gemilangnya dengan menggandeng sejumlah UKM. Karya-karya tersebut akan dipasarkan mulai  Rp.100.000,00. Cukup terjangkau bukan? Beberapa produk yang akan hadir dalam Pasar Tiban adalah produksi Anne Avantie, produksi dari UKM, kebaya brokat, Anna Avantie Heritage, Produk yang dijahit sendiri oleh UKM, dress, batik, pakaian laki-laki, pakaian anak-anak. Anak-anak yang hadir dalam Pasar Tiban bisa bermain seperti yang terlihat pada video yang diputar pada saat konferensi.

Apa sih keunikan Pasar Tiban di Makassar? Ika Marissa Roberta selaku Head Project Pasar Tiban Anne Avantie menjelaskan bahwa selain memamerkan tekstil, di Pasar Tiban nanti akan ada juga sutra Makassar, dekorasinya bergaya Makassar, ada kuliner dari vendor Makassar, dan tentunya Pasar Tiban dilaksanakan dalam rangka mengangkat UKM. Nantinya akan ada ± 100 UKM yang akan hadir dalam kegiatan tersebut. Selain itu, bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang kebaya atau konsultasi pakaian langsung ke Bunda Anne Avantie itu juga bisa. Rugi jika tidak memanfaatkan kesempatan langka ini lho.

Ika Marissa Roberta sedang menjelaskan keunikan Pasar Tiban yang akan hadir di Makassar

Pasar Tiban sudah hadir di sembilan mal yang ada di Indonesia. Kali ini, Pasar Tiban pertama kalinya diadakan di luar Pulau Jawa dan kota yang terpilih adalah Makassar. Selain itu, akan ada juga donasi yang diberikan berupa pemberian seratus kursi roda dan tongkat tunanetra bagi warga Makassar. Pada kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari tersebut akan diadakan juga fashion show pada tanggal 19 September 2017 yang bertempat di Four Points Hotel by Sheraton.
Pasar Tiban dengan konsep berbeda dari yang lain menawarkan sebuah konsep pasar yang bisa dihadiri oleh semua anggota keluarga. Istri, suami, dan anak. Sambil istri berbelanja di Pasar Tiban, si suami juga bisa belanja pakaian karena tidak hanya kebaya yang akan dipamerkan di sana, akan ada juga pakaian untuk laki-laki atau bisa ngopi-ngopi sambil menyantap penganan karena di Pasar Tiban nantinya ada juga kuliner yang akan dihadirkan. Selain itu, anak-anak juga bisa bermain atau mengikuti lomba mewarnai caping. Yang ingin eksis di instagram juga boleh datang ke Pasar Tiban karena dekorasinya juga menggunakan dekorasi khas Makassar. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak datang di Pasar Tiban kan?

Dalam 10 hari tersebut, setiap harinya akan ada workshop kasih, inspirasi, dan cinta yang merupakan kegiatan yang bersifat edukasi yaitu membagikan kiat-kiat mempresentasikan barang dari Bunda Anne langsung. Jadi, walaupun sudah berhasil dalam berkarya, Bunda Anne tidak ingin sukses sendirian, ia mengedukasi para pelaku UKM untuk bisa sukses seperti dirinya, melalui workshop ini contohnya.

Dalam fashion show yang akan digelar nanti, ada model yang berasal dari Makassar, Jakarta, Surabaya, Bali, dan Jogjakarta. Sekedar bocoran akan ada Wulandari, Kiwi Jayanti lho. Selain itu, Carend Melano dan Patricia Go akan menjadi Master of Ceremony (MC). Ada ± 100 koleksi Anne Avantie yang akan dipamerkan lewat ± 50 model. Selain itu, ada juga selebriti yang akan hadir. Penasaran siapa? Makanya datang ke Pasar Tiban untuk dapat info lengkapnya. Persiapan fashion show ini tidak bisa dibilang main-main karena salah satu perwakilan Anne Avantie Management mengatakan bahwa untuk fashion show tersebut ada seleksi model Makassar untuk bekerja sama dalam kegiatan pada tanggal 19 September itu.

Masih ada alasan untuk tidak datang ke Pasar Tiban?